Jakarta — Laporan terbaru dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap paradoks ekonomi Indonesia: pertumbuhan tetap stabil, namun ketimpangan justru melebar. Di balik angka makro yang terlihat sehat, distribusi kesejahteraan dinilai semakin timpang.
Dalam laporan ketimpangan 2026 itu, CELIOS mencatat bahwa kelompok masyarakat berpendapatan tinggi terus menikmati akumulasi kekayaan yang signifikan, sementara kelompok bawah mengalami stagnasi, bahkan penurunan daya beli dalam beberapa sektor.
“Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti keadilan ekonomi,” demikian salah satu simpulan kunci laporan tersebut.
Konsentrasi Kekayaan di Puncak
Temuan utama laporan menunjukkan konsentrasi kekayaan yang semakin terkunci pada kelompok elite. Aset produktif—mulai dari properti hingga investasi keuangan—lebih banyak dimiliki oleh segelintir orang.
Sementara itu, mayoritas masyarakat masih bergantung pada pendapatan berbasis kerja, yang pertumbuhannya tidak sebanding dengan inflasi maupun kenaikan biaya hidup.
Ketimpangan ini diperparah oleh terbatasnya akses terhadap sumber daya ekonomi seperti pendidikan berkualitas, modal usaha, dan pekerjaan formal.
Kelas Menengah Tertekan
CELIOS juga menyoroti fenomena “kelas menengah rapuh”. Kelompok ini, yang sebelumnya menjadi penopang konsumsi nasional, kini menghadapi tekanan dari berbagai sisi: kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga ketidakpastian pekerjaan.
Alih-alih naik kelas, sebagian dari mereka justru berisiko turun menjadi kelompok rentan.
Lapangan Kerja Tak Berkualitas
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja dinilai belum mampu menjawab tantangan struktural. Banyak pekerjaan baru berada di sektor informal atau berupah rendah, tanpa jaminan sosial yang memadai.
Kondisi ini membuat mobilitas sosial semakin terbatas. Anak dari keluarga miskin tetap berpeluang besar untuk tetap berada dalam lingkaran kemiskinan.
Kebijakan Belum Menyentuh Akar
CELIOS mengkritik kebijakan ekonomi yang dinilai masih berfokus pada pertumbuhan agregat, bukan pemerataan. Insentif fiskal dan berbagai kemudahan investasi, menurut laporan tersebut, belum sepenuhnya berdampak pada distribusi kesejahteraan.
Subsidi dan bantuan sosial memang membantu dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk mengatasi akar ketimpangan, seperti ketimpangan kepemilikan aset dan akses ekonomi.
Risiko Sosial Mengintai
Jika tren ini terus berlanjut, laporan tersebut memperingatkan potensi meningkatnya ketegangan sosial. Ketimpangan yang tajam tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial dan politik.
CELIOS mendorong pemerintah untuk mengubah pendekatan: dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju pembangunan yang inklusif, dengan fokus pada pemerataan akses dan redistribusi peluang.





























