TIMIKA – Selama tiga hari (14–16 April 2026), Keuskupan Timika menggelar Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah bertajuk “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis”.
Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, membuka lokakarya dengan kritik yang menyengat. Ia menyoroti bagaimana pendidikan saat ini cenderung menjadi “pabrik” yang hanya melayani kepentingan pasar kerja. “Pendidikan kini cenderung mencetak manusia hanya sebagai pekerja untuk keuntungan ekonomi. Materi dan uang jadi fokus utama, bukan lagi nilai-nilai luhur,” tegasnya.
Visi Uskup sangat jelas, pendidikan harus kembali menjadi paideia—proses memanusiakan manusia secara utuh. Mengutip konsep educare, ia menekankan bahwa mendidik berarti “memberi makan” jiwa dengan moral dan spiritual, sekaligus “menarik keluar” potensi unik setiap anak. Sekolah-sekolah di bawah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) didorong untuk tidak sekadar memuja aspek kognitif sempit lewat metode menghafal, melainkan menjadi implementasi nyata dari cinta kasih (amor et caritas).
Potret Faktual: Ironi di Pesisir dan Pedalaman
Hari pertama lokakarya mengungkap tabir pahit realitas lapangan. Melalui sesi “Potret Faktual Pendidikan”, para tokoh membedah kondisi riil yang sering kali luput dari pantauan pusat. Andreas Madya Ariyanti, SCJ menceritakan ironi di wilayah pesisir seperti Kokonao, di mana satu orang guru harus berjuang mengajar kelas 1 hingga 6 sendirian. Di sisi lain, data administratif menunjukkan ketimpangan yang luar biasa; ada sekolah dengan 53 staf pengajar yang menumpuk, sementara sekolah swasta di pinggiran menjerit kekurangan tenaga.
Isu integritas juga menjadi sorotan tajam. Antonius Kuayo dari Dinas Pendidikan mengungkap adanya praktik “main mata” dan isu pemotongan dana BOS di masa lalu. “Saya pastikan, ke depan tidak ada lagi pemotongan. Ini tanggung jawab moral untuk mencerdaskan anak Papua,” tegasnya. Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, S.E., turut merefleksikan bahwa dulu, dengan keterbatasan, pendidikan dikelola dengan penuh tanggung jawab. Seharusnya, dengan fasilitas modern saat ini, kualitas pendidikan bisa jauh melampaui masa lalu.
Menelusuri DNA “Bandel” Seabad Pendidikan Katolik
Untuk melompat ke masa depan, lokakarya ini mengajak peserta menengok ke belakang melalui cermin sejarah. Provinsial Serikat Yesus, Benedictus Hari Juliawan, SJ mengingatkan, pendidikan adalah “napas pertama” misionaris di Papua. Sejarah mencatat kisah heroik tahun 1924, di mana tiga pemuda lokal—Yoseph Suni Komber, Petrus Kabes, dan Andreas Kabes—berlayar mencari misionaris demi membawa cahaya pendidikan ke tanah mereka. Semangat “bandel” dan inisiatif umat inilah yang ingin disuntikkan kembali ke dalam nadi pendidik masa kini untuk menghadapi krisis yang sedang mengepung.
Pendidikan sebagai Gerakan Kebudayaan dan Ekologi
Albertus Heriyanto dari STFT Fajar Timur Jayapura membawa perspektif bahwa Papua sedang mengalami “krisis kebudayaan”. Banyak sekolah justru membuat siswa merasa asing di tanahnya sendiri karena kurikulum yang terlalu seragam secara nasional. Ia menawarkan konsep “Ekologi Pengetahuan Lokal”, di mana hutan, sungai, dan laut menjadi laboratorium sains yang nyata.
Rekomendasi konkret pun lahir: penggunaan bahasa daerah sebagai pengantar hingga kelas 2 SD. Hal ini diperkuat oleh pengalaman Zakharia Primaditya (Adit) di Sekolah Wana Walinge, Kosarek. Dengan metode Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMBBI), anak-anak pedalaman terbukti lebih percaya diri dan mampu menjadi pembawa acara (MC) dalam tiga bahasa sekaligus. Sisi pelestarian alam juga ditegaskan oleh Dr. Wika Rumbiak dari WWF Indonesia, yang menekankan pentingnya melahirkan “Champion” lokal untuk menjaga benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia di Papua.
Keadilan Gender dan Kekuatan Rasa Ingin Tahu
Isu inklusivitas menjadi bahasan krusial di hari kedua. Esther Haluk (Sekretaris Departemen Perempuan Gereja KINGMI) membedah hambatan patriarki yang sering menempatkan perempuan di “dapur”. Ia mendesak adanya kurikulum inklusif dan infrastruktur ramah gender, seperti toilet terpisah dan kebijakan anti-kekerasan yang tegas.
Sementara itu, Esther K. Wirawan dari Sekolah GenIUS menekankan pentingnya menumbuhkan scientific curiosity (rasa ingin tahu ilmiah) untuk memproteksi anak dari dampak negatif internet. Baginya, setiap anak Papua adalah genius jika diberikan stimulasi yang tepat dan diarahkan untuk memecahkan masalah lingkungannya sendiri.
Transformasi Tata Kelola: Belajar dari Sang Pionir
Hari ketiga difokuskan pada pembenahan manajemen yayasan. Peserta belajar dari “praktik baik” tiga lembaga besar:
- Yayasan Kanisius diwakili Joannes Heru Hendarto, SJ, memaparkan One Gate System Management dengan prinsip ARTS (Accountable, Responsible, Transparent, Sustainable). Digitalisasi keuangan dan personalia menjadi kunci transparansi.
- Perkumpulan Strada diwakili Ageng Marwoto, SJ, menekankan pentingnya merumuskan “Profil Lulusan” dan membangun mindset pengurus secara konsisten.
- Yayasan Xaverius Palembang diwakili Stepanus Supardi, Pr., memperkenalkan Kurikulum SHARE sebagai mesin penggerak Deep Learning agar sekolah tetap relevan di tengah masyarakat heterogen.
Dukungan sektor swasta melalui PT Freeport Indonesia (PTFI) turut memperkuat optimisme. Ricardo Komul memaparkan alokasi investasi sosial rata-rata US$ 100 juta per tahun hingga 2041, dengan porsi 35% untuk pendidikan. Namun, tokoh senior Paul Sudiyo mengingatkan bahwa YPPK harus mandiri dengan membangun unit usaha sendiri dan mempertimbangkan sistem asrama (boarding school) sebagai solusi mutu di daerah konflik.
Peta Jalan (Roadmap) dan Resolusi Akhir
Menjelang penutupan, tim ahli yang diwakili oleh Cyprianus Kuntoro Adi, SJ, merumuskan “Peta Jalan” strategis untuk mengurai 11 masalah akut pendidikan di Papua. Strategi ini dibagi dalam tiga tahapan:
- Jangka Pendek (Stabilisasi): Pembenahan internal yayasan dan pemilihan personel kompeten.
- Jangka Menengah: Penerapan kurikulum kontekstual dan pembinaan guru berjenjang.
- Jangka Panjang: Implementasi penuh pedagogi relevan dan pembentukan dana abadi (endowment fund) untuk menjamin keberlangsungan pendidikan.
Tarsisius Sarkim dari Universitas Sanata Dharma, menegaskan tiga syarat mutlak kebangkitan ini: Kolaboratif (sinergi keluarga, sekolah, masyarakat), Kontekstual (berakar pada budaya lokal), dan Konsisten.
Sinergi Nyata demi Generasi Emas
Acara ditutup secara resmi di Aula Bobaigo oleh Uskup Mgr. Bernardus Baru dan Wakil Bupati Emanuel Kemong. Dalam sambutan penutupnya, Mgr. Bernardus menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Mimika atas dukungan dana 1 miliar rupiah dan kepada PT Freeport Indonesia atas dukungan akomodasi. “Tantangan sudah diidentifikasi. Kini saatnya bersinergi agar api semangat ini tetap menyala dan menghasilkan buah bagi kemajuan pendidikan di Keuskupan Timika,” ujar Uskup dengan nada optimis.
Emanuel Kemong menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah proses pembentukan karakter, bukan sekadar transfer ilmu. Dengan berakhirnya lokakarya ini, sebuah komitmen besar telah dipancangkan: Gereja, Pemerintah, dan Swasta akan berjalan beriringan untuk memastikan anak-anak di gunung dan pesisir Papua tidak hanya bisa bermimpi, tetapi memiliki alat yang mumpuni untuk mewujudkan masa depan yang bermartabat di tanah mereka sendiri.






























