Home Berita Alumni Balada Kursi Kosong: Antara Takhta dan Relasi

Balada Kursi Kosong: Antara Takhta dan Relasi

31
0

​Di sebuah ruang yang sunyi, ia menunggu. Sebuah benda berkaki empat dengan sandaran yang setia, membisu dalam kekosongan. Secara fungsional, ia hanyalah alat penopang raga agar lelah tak lekas tiba. Namun dalam panggung sejarah manusia, kursi bukan sekadar benda mati; ia adalah simbol, beban, sekaligus ambisi yang tak kunjung padam.

Kehampaan Tanpa Penopang
​Bayangkan dunia tanpa kursi. Tanpa kehadirannya, manusia akan terus kembali ke akar purbanya: bersila di atas tanah, bertumpu pada sebongkah batu yang keras, atau bertengger di atas batang pohon tumbang. Dunia tanpa kursi adalah dunia yang tak mengenal jeda formal. Tanpa kursi, mungkin tak akan ada meja perundingan, tak ada simposium, dan tak ada ruang kelas yang tertib. Kita akan selalu berada dalam posisi “siap” atau “rebah”, tanpa ada titik tengah yang elegan untuk sekadar merenung.

Dari Duduk Menjadi Kedudukan
​Tragedi kursi dimulai ketika sebuah kata dasar “duduk” mendapatkan awalan dan akhiran, menjelma menjadi kedudukan. Di sinilah esensi kenyamanan bergeser menjadi derajat kekuasaan.

​Era perburuhan, sejarah 1 Mei mengingatkan kita pada keringat yang mengucur tanpa hak untuk menyandarkan punggung. Di pabrik-pabrik masa silam, berdiri 8 jam adalah kewajiban; kursi adalah kemewahan yang diharamkan bagi mereka yang berada di dasar piramida.

Dalam ​hierarki material, kursi menjadi bahasa visual tentang siapa yang memegang kendali.​Kursi dari plastik, melambangkan kefanaan dan massa yang banyak. ​Kursi besi dengan bantalan, mulai menjanjikan sedikit kenyamanan bagi pengawas. ​Kursi kayu berukir, menandakan wibawa dan tradisi. ​Kursi pegas (Spring), maksudnya puncak kenyamanan bagi mereka yang telah sampai di puncak jenjang, lengkap dengan embusan AC yang mengusir panasnya realita di luar ruangan.

​”Berebut kursi” akhirnya menjadi eufemisme paling sopan untuk menggambarkan peperangan, intrik, dan ambisi kekuasaan. Kursi tak lagi dicari untuk mengistirahatkan kaki, melainkan untuk menegaskan posisi kepala di atas kepala orang lain.

​Mencari Kembali Makna Duduk
​Di manakah kursi bisa kembali menjadi sekadar kursi? Jawabannya seringkali ditemukan di dapur. Di sana, di depan meja makan yang sederhana, kursi-kursi tak memiliki nama jabatan. Kursi dapur diletakkan untuk menciptakan kesetaraan. Sambil menunggu air mendidih atau aroma kopi menyeruak, orang-orang duduk melingkar atau berjejer tanpa perlu merasa lebih tinggi dari yang lain.

​Bentuk-bentuk formasi kursi pun bercerita banyak: ​berbaris artinya kepasifan dan instruksi satu arah. Bentuk U / Setengah Lingkaran berarti dialog dan koordinasi. Melingkar maknanya keutuhan dan harmoni.

Penutup: Kursi sebagai Jembatan
​Balada kursi kosong seharusnya tidak lagi meratapi siapa yang akan mendudukinya demi kuasa. Sejatinya, kursi diciptakan agar manusia bisa menatap mata satu sama lain dengan level yang sama. Ia harus menjadi titik temu, bukan batas wilayah.

Kursi yang paling mulia bukanlah singgasana yang dikelilingi pengawal, melainkan kursi kayu sederhana di sudut teras di mana dua, tiga, empat manusia atau lebih bisa duduk berdampingan, berbagi cerita, dan merajut relasi yang penuh harmoni.

​Sebab pada akhirnya, setiap kursi akan kembali kosong, namun percakapan yang lahir di atasnya akan tetap hidup dalam ingatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here