Home Berita Alumni Prof. Al Makin: Pemikir Indonesia Bukan Sekadar Pengamat

Prof. Al Makin: Pemikir Indonesia Bukan Sekadar Pengamat

26
0

JAKARTA – Pertanyaan klasik tentang posisi Indonesia dalam peta filsafat dunia kembali mengemuka: mampukah negeri ini melahirkan filsuf yang mandiri dan sejajar dengan tradisi besar dunia?

Melalui buku terbarunya, “Dari Athena sampai Nusantara”, filsuf sekaligus akademisi, Prof.Dr. Al Makin mencoba menjawabnya dengan tegas—Indonesia bukan sekadar penonton, melainkan pelaku aktif dalam percakapan intelektual global. Jawaban itu disampaikan Makin dalam diskusi bedah buku yang diselenggarakan oleh Forum Praksis ke-19 di Jakarta, Jumat (24/04/2026).

Pada buku yang ditulis dalam dua belas bab tersebut, Al Makin menelusuri perjalanan panjang filsafat dari berbagai peradaban, mulai dari dunia kuno hingga era kontemporer. Ia menghadirkan lanskap pemikiran yang luas, mencakup tradisi Athena sebagai pusat demokrasi awal, dunia Islam sebagai jembatan penerjemahan teks Yunani, hingga kebangkitan pemikiran modern di Eropa dan Amerika. Namun yang membedakan buku ini adalah sudut pandang yang secara konsisten berangkat dari pengalaman historis dan budaya Indonesia.

Menurut Al Makin, sejak masa perjuangan kemerdekaan, para pemikir Indonesia telah berinteraksi intens dengan berbagai arus filsafat dunia. Mereka membaca dan mengolah pemikiran dari tokoh-tokoh seperti Socrates, John Locke, hingga Jürgen Habermas untuk merumuskan dasar-dasar kebangsaan. Setelah kemerdekaan, dinamika ini berlanjut dalam karya sastra, teater, dan film yang menyerap eksistensialisme dan postmodernisme.

Buku ini juga memetakan bagaimana tradisi Nusantara mengalami transformasi melalui berbagai fase sejarah—dari periode Hindu-Buddha, masuknya Islam, hingga kolonialisme Barat dan perjuangan kemerdekaan. Dalam konteks ini, tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Wahid tampil sebagai representasi pemikiran yang mengolah warisan global menjadi refleksi lokal.

Lebih jauh, Al Makin menempatkan perdebatan tentang manusia, nalar, agama, dan kekuasaan sebagai benang merah yang menghubungkan berbagai tradisi filsafat. Dari epos kuno seperti Gilgamesh hingga filsafat Timur seperti ajaran Lao Tzu, buku ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan manusia selalu hadir dalam berbagai bentuk di setiap peradaban.

Tak hanya sebagai kajian historis, Dari Athena sampai Nusantara juga diposisikan sebagai pengantar praktis bagi pembaca umum yang ingin memahami filsafat dunia secara komprehensif. Dengan gaya yang relatif mudah diakses, buku ini merangkum perkembangan pemikiran dari Mesopotamia hingga Indonesia modern, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman Indonesia memberikan kontribusi unik dalam diskursus global.

Sebagai profesor filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Al Makin dikenal aktif dalam percakapan akademik internasional. Ia pernah menjadi rektor kampus tersebut pada 2020–2024 dan terlibat dalam berbagai riset di universitas ternama dunia seperti Kyoto, Heidelberg, dan McGill.

Melalui buku ini, Al Makin mengajukan tesis yang cukup provokatif: filsafat Indonesia bukan sekadar turunan dari tradisi besar dunia, melainkan hasil dialog kreatif yang melahirkan perspektif khas. Dengan kata lain, Nusantara memiliki suara sendiri dalam perdebatan global tentang kemanusiaan, agama, dan kekuasaan—suara yang kini semakin relevan di tengah dunia yang terus berubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here