Home Berita Alumni Telah Terbit Jurnal Dekonstruksi Volume 12, No. 01 Tahun 2026

Telah Terbit Jurnal Dekonstruksi Volume 12, No. 01 Tahun 2026

258
0

Salam Redaksi

Di abad ke-21, seni, budaya, sains, dan teknologi mencapai titik kritis. Percepatan teknologi digital, kecerdasan buatan, bioteknologi, serta ancaman krisis ekologi menciptakan lanskap baru yang radikal. Di satu sisi, teknologi membuka kemungkinan tak terbatas: seniman dapat menciptakan karya dalam dunia virtual, budaya lokal bisa dipresentasikan dalam format digital global, dan eksperimen ilmiah dapat langsung dipadukan dengan praktik artistik. Namun di sisi lain, muncul pula risiko: hilangnya otentisitas seni, homogenisasi budaya akibat algoritma, hingga dehumanisasi karena teknologi menggantikan peran manusia, demikian artikel yang ditulis Anna Sungkar.

Manusia bukanlah makhluk kosong yang lahir begitu saja, tanpa apa-apa. Setiap manusia sudah memiliki modal alamiahnya masing-masing yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Manusia adalah sosok yang dipanggil untuk menjadi bermoral karena moralitas adalah sebuah nilai yang baik untuk dihidupi. Namun, menurut Adrianus Raditya Indriyatno, manusia tidak akan pernah merasa terpuaskan. Pendekatan ilmiah, filosofis, etis, dan religius hanya memberikan kepingan-kepingan jawaban, tetapi tidak pernah mendapatkan satu jawaban definitif yang memuaskan.

Terdapat dua teori utama dalam diskursus konsep waktu kontemporer, yakni Teori Waktu Dinamis dan Teori Waktu Statis. Pada umumnya, manusia cenderung memahami waktu secara dinamis karena sifat intuitifnya. Lukas Julian berargumen bahwa Teori Waktu Statis layak dipertimbangkan sebagai kerangka pemahaman manusia terkait konsep waktu. Meskipun Teori Waktu Dinamis memiliki memiliki kedekatan intuitif dengan pengalaman subjektif manusia terkait waktu.

Menurut Feliks Erasmus Arga, eksistensi realitas tertinggi yang disebut Allah memang ada. Bukan berarti bahwa Allah yang tidak bisa dilihat menjadi alasan ketiadaan Allah. Walaupun rasio manusia belum bisa (dan tidak akan pernah bisa) membuktikan keberadaan Allah secara 100%, rasio manusia dapat membuktikan tanda-tanda kuat adanya Allah. Pada akhirnya, keberadaan alam semesta akan lebih masuk akal jika menyertakan Allah sebagai penciptanya. Artikel ini disusun dengan menggunakan buku Feuerbach yang berjudul The Essence of Christianity dan buku Franz Magnis Suseno yang berjudul Menalar Tuhan.

Jika pada awal abad ke-20 Kartini memperjuangkan pendidikan dan akses terhadap ruang publik, perempuan modern kini menghadapi rezim representasi baru yang justru lebih subtil: standar kecantikan global, konsumsi gaya hidup, dan performativitas tubuh yang terus direproduksi oleh media dan platform kapitalisme. Dalam ruang seperti ini, kebebasan perempuan sering kali diukur bukan dari kualitas intelektual, tetapi dari kapasitas estetis dan disiplin tubuh yang menunjukkan “self-management” kelas menengah. Demikian penjelasan Syakieb Sungkar atas lukisannya yang berjudul “Kartini Baru”.

Kinerja gereja tak akan lepas dari pengalaman masa lalu, unsur kebudayaan, dan faktor geografis. Selain itu, sejarah berpengaruh, seperti yang telah dilakukan Kyai Sadrach dengan teologi lokalnya, yang mencoba menggali kearifan lokal yang cocok dengan Kekristenan. Seni budaya mempunyai peran ganda, sebagai saran pembinaan dan juga sebagai sarana kesaksian. 

Hal ini menarik Paulus Eko Kristianto ketika mengamati seni budaya dalam Gereja. Hal ini terlihat dalam ibadah yang masih menggunakan bahasa Jawa dan penggunaan alat – alat musik yang beraneka ragam, (karawitan, campur sari, keroncong, band, kolintang, dan paduan suara) dalam bidang musik liturgi.

Permasalahan utama gereja di abad XXI adalah semakin berkurangnya kehadiran generasi muda, khususnya Generasi Z, di gereja konservatif. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antargenerasi serta mengancam keberlangsungan regenerasi jemaat. Penelitian Vardik Vandiano ini bertujuan untuk mengkaji strategi penjangkauan Generasi Z melalui pemanfaatan media digital, mengingat generasi ini dikenal sebagai digital natives yang hidup dalam budaya teknologi sejak lahir. Gereja yang kreatif, kontekstual, dan digital-friendly akan lebih mampu menarik partisipasi generasi muda tanpa kehilangan identitas iman.

Media tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai instrumen teknis untuk mentransmisikan informasi; sebaliknya, media berfungsi sebagai ruang simbolik dan politik di mana makna, kekuasaan, dan ideologi terus diproduksi dan diperebutkan. Menurut Gabriel Abdi Susanto, filsafat komunikasi menyediakan kerangka kerja normatif dan kritis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan etika media dan membayangkan kembali ruang publik digital yang lebih humanistik, dialogis, dan adil di era kecerdasan buatan dan big data. Di mana komunikasi sangat terkait dengan relasi kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan masalah etika.

Ricoeur memandang bahasa sebagai medium yang dapat membawa kepada penyingkapan esensi realitas secara objektif. Sehingga esensi realitas dapat mewujud melalui perspektif dan tindakan manusia—dan perwujudannya secara objektif dapat ditemukan pada struktur logis tata bahasa tulisan. Chris Ruhupatty menunjukkan bahwa bahasa adalah perwujudan dari pengalaman personal manusia yang terhubung langsung dengan esensi realitas. Kerangka keterhubungan ini dijelaskan dengan menunjukkan kemampuan manusia untuk melakukan personalisasi atau manipulasi terhadap penyingkapan esensi realitas pada kesadaran. Oleh sebab itu, esensi realitas tidak hadir secara utuh ke dalam ruang dan waktu, karena telah selalu mengalami personalisasi atau rekayasa.

Demikian isi Jurnal kali ini, selamat membaca.

Syakieb Sungkar

Editor in Chief

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here