Home Berita Alumni Koloni Kebohongan, Saat Nostalgia Belanda atas Hindia Dipertanyakan

Koloni Kebohongan, Saat Nostalgia Belanda atas Hindia Dipertanyakan

114
0
Peter Carey (kiri), Michael Maas (kanan), dan para peserta diskusi Forum Praktis ke-20 di Gedung Kolese Kanisius, Jakarta, Jumat (22/05/2-26). Foto : Dok. Praksis

Di sebuah ruang diskusi di Jakarta, Jumat (22/05) petang pekan lalu, nostalgia kolonial Belanda dipreteli satu demi satu. Bukan sekadar nostalgia tentang kanal-kanal tua, bangunan putih berarsitektur Eropa, atau kenangan manis tentang Hindia Belanda yang damai dan tertib. Yang dibongkar adalah sebuah cara pandang bahwa kolonialisme pernah menjadi masa indah bagi Indonesia.

Forum Praksis seri ke-20 menghadirkan penulis Belanda, Michel Maas, untuk membedah bukunya berjudul De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten (Koloni Kebohongan: Ke Indonesia untuk Melupakan Hindia). Tema yang diangkat pun provokatif: Challenging Today’s Dutch Romantic Colonial Image of Indonesia.

Maas memulai paparannya dengan sebuah kritik tajam terhadap masyarakat Belanda masa kini. Menurut dia, hingga sekarang masih banyak warga Belanda yang memandang masa penjajahan di Nusantara sebagai periode romantik yang layak dikenang. Hindia Belanda dibayangkan sebagai negeri yang tenteram, tertib, aman, dan harmonis.

“Yang mereka ingat adalah nostalgia,” kata Maas. “Mereka tidak ingin melihat kekerasan dan ketidakadilan yang menyertainya.”

Pandangan itu, menurut Maas, tampak bahkan dalam cara sebagian turis Belanda mengunjungi Indonesia. Mereka cenderung mendatangi kawasan-kawasan peninggalan kolonial seperti Kota Tua Jakarta, gedung-gedung tua, jembatan, atau situs lain yang berhubungan dengan masa Hindia Belanda. Seolah-olah mereka sedang mencari kembali “Atlantis yang hilang”.

Padahal, kata Maas, di balik romantisme itu terdapat kenyataan yang jauh berbeda. Sistem kolonial Belanda dibangun bukan demi kesejahteraan rakyat Nusantara, melainkan demi kepentingan pemerintah kolonial sendiri. Ketertiban diciptakan untuk menjaga stabilitas kekuasaan. Setiap perlawanan dibalas dengan kekerasan.

“Belanda menikmati keuntungan besar, sementara rakyat Hindia Belanda tetap miskin dan menderita,” ujarnya.

Namun bagi Maas, warisan kolonial tidak berhenti pada penderitaan fisik. Ia meminjam istilah pemikir antikolonial Frantz Fanon tentang germs of rot—kuman pembusukan—untuk menjelaskan bagaimana kolonialisme meninggalkan mentalitas yang terus hidup bahkan setelah penjajahan berakhir.

Menurut Maas, jejak itu masih terlihat dalam struktur birokrasi dan hukum di Indonesia yang cenderung menempatkan rakyat sebagai objek yang harus dikendalikan. Sistem ekonomi pun, katanya, masih menyisakan pola eksploitatif yang menguntungkan lingkaran elite tertentu.

“Dulu elitnya orang Belanda. Sekarang elitnya sesama orang Indonesia,” katanya.

Imajinasi Romantik

Pandangan Maas mendapat dukungan dari sejarawan Inggris Peter Carey yang turut hadir dalam forum tersebut. Carey menyebut buku De Gelogen Kolonie sebagai karya penting karena berani membongkar relasi historis yang rumit dan sering kali tidak nyaman antara Belanda dan Indonesia.

Menurut Carey, istilah “koloni kebohongan” merujuk pada imajinasi romantik masyarakat Belanda terhadap Hindia Belanda—sebuah dunia yang sesungguhnya tidak pernah ada.

“Yang ada adalah sistem kolonial yang eksploitatif dan brutal,” kata Carey.

Ia lalu mencontohkan praktik Tanam Paksa yang disebutnya sebagai bentuk perbudakan modern. Dalam sistem itu, tenaga rakyat dan kekayaan alam Nusantara disedot habis-habisan demi menopang ekonomi Belanda. Carey juga menyinggung kekerasan yang dilakukan pasukan Belanda pada masa “Bersiap”, ketika Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Sejalan dengan Maas, Carey menilai kolonialisme meninggalkan “sihir kolonial” yang masih terasa hingga sekarang. Sihir itu tampak dalam mentalitas elite yang kerap mengorbankan kepentingan rakyat demi kepentingan pribadi maupun kelompok.

Ia juga menyoroti kecenderungan eksploitasi sumber daya alam atas nama pembangunan dan kemakmuran bersama, tetapi hasilnya justru terkonsentrasi pada segelintir elite ekonomi-politik.

Lebih jauh, Carey mengingatkan bahwa warisan kolonial membuat Indonesia sering kehilangan rasa percaya diri di panggung global. Padahal, menurut dia, Indonesia memiliki sejarah besar yang pernah menginspirasi dunia.

Ia menyebut perjuangan Pangeran Diponegoro, keberanian Nyai Ageng Serang, tradisi Kisah Panji, hingga Konferensi Asia-Afrika sebagai contoh kontribusi Indonesia terhadap peradaban global.

“Semangat itu kini mulai meredup dan perlu dihidupkan kembali,” ujarnya.

Forum tersebut juga dihadiri mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wardiman Djojonegoro. Menurut Wardiman, buku Maas penting terutama bagi masyarakat Belanda yang masih menyimpan cara pandang kolonial terhadap Indonesia.

“Indonesia hari ini bukan objek nostalgia kolonial,” katanya. “Indonesia adalah bangsa merdeka dengan dinamika dan kompleksitasnya sendiri.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here