Home Berita Alumni Solusi Tanding dari Tampelas: Menantang Dominasi Teknokrasi demi Menyelamatkan Bumi

Solusi Tanding dari Tampelas: Menantang Dominasi Teknokrasi demi Menyelamatkan Bumi

444
0
Rezal Kusumaatmadja. Foto: Dok. Praksis

Jakarta – Krisis ekologis global bukan hanya soal suhu bumi yang meningkat atau hutan yang gundul. Masalah ini jauh lebih dalam—menyentuh ranah sosial, politik, bahkan spiritual. Demikian disampaikan Rezal Kusumaatmadja dalam Forum Praksis Seri ke-11 yang digelar di Jakarta, Selasa (8/7/2025). Dalam forum bertema “Solusi Tanding Demi Memperkuat Ketahanan Ekosistem Berbasis Komposisi Modal Organik”, Rezal menantang pendekatan pelestarian lingkungan yang selama ini terlalu teknokratis dan mengabaikan dimensi batiniah manusia.

“Bumi ini bukan cuma tempat tinggal manusia. Jauh sebelum kita ada, alam sudah hidup, punya sistem dan kehendaknya sendiri,” tegas Rezal dalam forum tersebut.

Dalam paparannya, Rezal menyoroti cara pandang manusia modern terhadap alam yang cenderung eksploitatif. Konsep alam sebagai ciptaan yang bisa dikontrol dan dimanfaatkan tanpa batas, menurutnya, menjadi akar dari krisis ekologis dewasa ini. Ia mengajak peserta untuk mengganti paradigma itu: dari creation menjadi celebration. Dalam pandangan ini, alam bukan objek eksploitasi, melainkan perayaan kehidupan yang saling menghidupi.

“Kalau kita melihat alam sebagai selebrasi, maka kita akan lebih menghormati, bukan mengeksploitasi,” ujarnya.

Pernyataan Rezal bukan tanpa dasar. Bersama PT Rimba Makmur Utama (RMU), ia menggagas Project Tampelas—sebuah proyek restorasi hutan rawa gambut seluas 157.875 hektare di Desa Tampelas, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Proyek ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Restorasi tidak akan berhasil jika masyarakat lokal tidak dilibatkan. Justru mereka yang menjadi ujung tombak,” tutur Rezal, yang juga menjabat Komisaris Utama PT RMU.

Dengan mengedepankan prinsip ekonomi restoratif, lahan gambut yang sebelumnya rusak berat kini menjadi habitat lestari sekaligus sumber penghidupan. Salah satu kegiatan unggulannya adalah budidaya ikan gabus di perairan rawa. Ikan ini kemudian diolah menjadi produk bernilai tinggi berupa albumin, yang banyak digunakan untuk kesehatan.

“Dulu banyak warga yang hidup dari merambah hutan. Sekarang mereka justru menjadi penjaga ekosistem,” ungkap Rezal bangga.

Transformasi ini tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mengubah pola pikir dan sikap masyarakat terhadap alam sekitar.

Ekonomi Karbon, Birokrasi, dan Tenunan Sosial
Salah satu aspek penting dari Project Tampelas adalah integrasinya dalam skema carbon trading atau perdagangan karbon. Rezal menjelaskan bahwa karbon yang diserap lahan gambut menghasilkan nilai ekonomi yang dapat diperjualbelikan di pasar karbon global. Dana yang terkumpul kemudian diputar kembali untuk memperluas program pelestarian dan pemberdayaan masyarakat.

Namun Rezal tak menutupi tantangan besar yang dihadapi: birokrasi dan regulasi yang sering kali justru menghambat inisiatif lokal.

“Banyak program konservasi macet karena kebijakan yang tidak adaptif. Bahkan, dalam beberapa kasus, aturan itu merusak tenunan sosial yang telah terjalin di masyarakat,” paparnya.

Forum ini menyuarakan bahwa solusi tanding seperti Project Tampelas dapat menjadi jalan tengah antara pendekatan negara yang terlalu administratif dengan kebutuhan konkret warga yang hidup berdampingan langsung dengan alam.

Laudato Si’ dan Spiritualitas Ekologis
Semangat yang melandasi Project Tampelas tak lepas dari inspirasi dokumen Gereja Katolik, Laudato Si’ (2015), ensiklik Paus Fransiskus tentang perawatan bumi sebagai “rumah bersama”. Dokumen ini menegaskan bahwa upaya pelestarian alam harus menyatu dengan dimensi spiritual dan etika.

Rezal menyambut pesan ini dan menerjemahkannya ke dalam gerakan nyata yang melibatkan masyarakat di akar rumput. Menurutnya, pelestarian bumi tidak cukup hanya dengan teknologi dan data, tetapi memerlukan kesadaran moral: bahwa manusia bukan pusat dari segalanya.

“Tanpa spiritualitas dan kesadaran etik, kita akan terus gagal mengatasi krisis ekologis ini,” ujarnya.

Lebih dari sekadar proyek lokal, Rezal berharap Project Tampelas bisa menjadi contoh inspiratif yang menumbuhkan imajinasi ekologis baru. Dengan pendekatan yang kontekstual dan berpihak pada masyarakat, model ini bisa diperluas ke wilayah lain di Indonesia—bahkan dunia.

“Kami ingin ini menjadi medium visual dan fisik yang menggugah imajinasi publik tentang masa depan bumi,” pungkasnya.

Di tengah keraguan banyak pihak atas efektivitas program pelestarian lingkungan yang sering kali mandek, Project Tampelas muncul sebagai jawaban tanding yang membumi, menjangkau realitas, dan menjanjikan harapan baru. Ini bukan sekadar cerita tentang hutan yang diselamatkan, tetapi tentang cara hidup yang dipulihkan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here