Ziarah Spiritual Reslian Pardede, Dari Keraguan ke Penyerahan [1]
Di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh logika, data, dan algoritma, pengalaman spiritual kerap terdesak ke pinggir. Ia menjadi semacam ruang pribadi yang jarang dibicarakan di ruang publik, apalagi jika pengalaman itu tidak dibungkus dengan bahasa agama yang mapan.
Namun, ada kalanya seseorang tiba-tiba terseret masuk ke dalam pusaran batin yang tak bisa dijelaskan dengan nalar, bahkan tak direncanakan. Pencarian ini bukan dimulai dari harapan akan jawaban, melainkan dari kegelisahan yang tak tertahankan. Sebuah pertanyaan muncul, mengguncang segala kepastian, dan sejak saat itu, hidup tak pernah sama lagi.
Inilah yang terjadi dalam Accidental Mystic, sebuah memoar spiritual karya Reslian Pardede. Buku ini bukanlah catatan dogmatis dari seorang tokoh agama atau pemimpin spiritual yang sudah mencapai tingkat kesucian tertentu. Ia justru ditulis oleh seorang profesional, perempuan urban Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri, dan memiliki karier di bidang keuangan. Reslian bukanlah “pencari Tuhan” dalam pengertian konvensional. Tidak ada pertapaannya, tidak ada guru suci yang membimbing, tidak ada ritual bertahun-tahun. Yang ada justru keresahan eksistensial, keraguan yang membeku menjadi obsesi, dan serangkaian pengalaman yang sulit dijelaskan secara logis—pengalaman tubuh, penglihatan batin, pertemuan dengan dimensi tak terlihat.
Apa yang membuat memoar ini menarik bukan semata peristiwa-peristiwa luar biasanya, tetapi keberanian penulis untuk mencatat dan menganalisisnya secara jujur. Ia tidak mencoba untuk meyakinkan kita, tidak menawarkan doktrin baru, dan tidak juga menuntut kita percaya. Ia hanya membuka halaman demi halaman kisah personalnya—tentang bagaimana ia goyah, mencari, terpeleset, bangkit, mempertanyakan kembali, dan akhirnya menyadari bahwa spiritualitas bukanlah tujuan, melainkan proses. Dalam proses itu, ia justru semakin menjadi dirinya sendiri.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang tenang, jernih, dan reflektif. Namun di balik kesederhanaannya, terkandung gemuruh pertanyaan filosofis dan teologis yang dalam. Apakah Tuhan benar-benar ada, atau hanya konstruksi sosial? Jika Tuhan ada, mengapa Ia hadir dalam cara-cara yang tidak rasional? Bagaimana kita membedakan antara pengalaman spiritual dan gangguan psikologis? Apakah pengalaman mistik hanya untuk orang-orang tertentu, ataukah ia dapat terjadi pada siapa pun? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab secara tuntas, dan justru di situlah kekuatannya: ia menolak simplifikasi.
Sebagai pembaca, kita diajak menyusuri lorong gelap dan terang pencarian spiritual yang terasa sangat manusiawi. Ini bukan kisah “pencerahan instan” seperti yang marak dalam buku-buku motivasi. Tidak ada akhir bahagia yang terjamin. Sebaliknya, ini adalah pengakuan jujur tentang bagaimana spiritualitas yang autentik justru sering dimulai dari keraguan yang paling mendalam—dari saat ketika kita merasa tercerabut dari akar dan tidak tahu ke mana harus berpijak.
Memoar ini penting bukan karena memberikan jawaban, tetapi karena ia memberikan ruang bagi pertanyaan yang sering tak berani kita ajukan. Di era di mana kehidupan kita terlalu sering dikendalikan oleh ekspektasi sosial dan rutinitas tanpa makna, kisah Reslian adalah sebuah ajakan untuk berani berhenti sejenak dan bertanya: siapa kita sebenarnya? Untuk apa kita hidup? Dan, jika Tuhan itu ada, bagaimana kita tahu bahwa kita telah bersentuhan dengan-Nya?
Kalau kita membaca bukunya, kita bisa mengikuti perjalanan Reslian. Kita bisa membedah kisahnya, menyandingkannya dengan konteks kultural dan filosofis, sekaligus merenungkan makna dari apa yang disebut sebagai “pengalaman spiritual”—sebuah pengalaman yang bisa jadi, seperti kata Gibran dalam kutipan pembuka buku ini, bukanlah soal menghilang ke dalam samudra, tetapi soal menyadari bahwa kita adalah samudra itu sendiri.
Refleksi
Menarik, ketika halaman-halaman terakhir Accidental Mystic ditutup, yang tertinggal bukanlah jawaban-jawaban gemilang atau formula menuju kedamaian spiritual. Yang tertinggal justru adalah perasaan tenang sekaligus tak selesai, seperti ketika seseorang duduk diam setelah menempuh perjalanan panjang, dan menyadari bahwa bukan tujuan yang paling penting, tapi bagaimana cara ia berjalan—dan apa saja yang ia lepaskan di sepanjang jalan.
Reslian tidak pernah mengklaim bahwa ia telah menemukan kebenaran tertinggi. Ia juga tidak pernah mencoba meyakinkan kita bahwa pengalaman spiritualnya adalah satu-satunya cara untuk “bertemu” Tuhan.
Buku ini justru ditulis dalam semangat yang sangat personal, jujur, dan terbuka—bukan dalam semangat misi atau pengajaran, melainkan berbagi pengalaman. Dan dari sinilah letak kekuatan sekaligus keberanian buku ini: ia merayakan pertanyaan lebih dari jawaban.
Kita hidup di zaman yang semakin resah akan kepastian. Dunia dipenuhi narasi besar yang saling bertabrakan: agama, sains, spiritualitas alternatif, hingga nihilisme. Dalam situasi seperti ini, kisah seperti Accidental Mystic menjadi sangat penting bukan karena ia menambah satu suara ke dalam keramaian, tetapi karena ia justru memberi ruang hening di tengah kebisingan. Ia menunjukkan bahwa perjalanan spiritual yang otentik tidak harus spektakuler, tidak harus penuh simbol-simbol besar. Ia bisa sangat sederhana, sangat sunyi, sangat biasa—dan karena itu, justru sangat manusiawi.
Tanggapan kritis terhadap buku ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa pengalaman Reslian sangat subjektif. Banyak dari yang ia alami—tulisan otomatis, gerakan tubuh tanpa sadar, penglihatan spiritual, interaksi dengan entitas tak terlihat—bisa saja diperdebatkan dari perspektif psikologi klinis. Seorang skeptis mungkin akan menyebutnya sebagai delusi, gangguan disosiatif, atau hasil dari kelelahan psikis yang dalam. Dan memang, Reslian sendiri tidak menolak kemungkinan itu. Ia tidak menempatkan dirinya di atas kritik, bahkan mengakui bahwa ia sempat takut dirinya gila. Tapi justru di sanalah ia berbeda dari banyak narasi spiritual lainnya: ia tidak menjadikan pengalaman batinnya sebagai bukti otoritas. Ia hanya bersaksi.
Dalam dunia yang sangat cepat memberi label—antara iman dan gangguan jiwa, antara mistik dan waham—Reslian menghadirkan jalan tengah yang bijak. Ia tidak serta-merta menolak rasionalitas, tapi juga tidak menutup diri terhadap yang tak terjelaskan. Ia hidup dalam tegangan antara dua kutub itu, dan dari sana, ia menemukan spiritualitas yang tidak dogmatis, tidak fanatik, dan justru sangat terbuka. Ini sangat berharga, terutama di Indonesia, di mana pengalaman spiritual seringkali dibungkus oleh institusi keagamaan dan aturan yang kaku.
Kritik lain yang mungkin muncul adalah tentang ketidakjelasan teologis. Reslian tidak menawarkan konsep Tuhan yang sistematis, tidak menjelaskan apakah ia akhirnya percaya pada Tuhan personal, impersonal, atau sekadar energi universal. Namun, alih-alih dianggap sebagai kelemahan, justru di situlah kekuatannya: ia tidak merumuskan Tuhan, karena ia sadar bahwa pengalaman tentang Yang Transenden terlalu luas untuk dikurung dalam kata-kata. Sebagaimana mistikus-mistikus besar dalam berbagai tradisi—dari Rumi hingga Meister Eckhart—Tuhan lebih dekat dengan keheningan daripada pernyataan. Dan keheningan itu terasa sekali dalam cara Reslian menulis: tenang, jujur, dan tidak ingin mengklaim apapun.
Salah satu pesan paling membebaskan dari buku ini adalah bahwa spiritualitas tidak harus memisahkan diri dari dunia. Kita tidak perlu pergi ke gua, menjadi pertapa, atau meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Justru sebaliknya, dunia ini adalah ladang spiritual itu sendiri. Jalan menuju kedalaman bukanlah jalan keluar dari realitas, melainkan jalan masuk ke dalamnya—dengan kesadaran penuh, dengan keterbukaan, dan dengan kerendahan hati. Dalam kata lain, spiritualitas sejati bukan soal lari dari dunia, tapi mencintai dunia dalam keutuhannya—dengan luka, dengan absurditas, dengan keindahan yang tak selalu bisa dijelaskan.
Dan yang lebih penting lagi, buku ini mengingatkan bahwa tidak semua orang harus mengalami pengalaman mistik untuk menjadi manusia spiritual. Tidak perlu ada tangan yang bergerak sendiri, tidak harus ada cahaya atau bisikan. Cukup dengan mendengarkan batin sendiri secara jujur, berani menanyakan yang sulit, dan hidup dengan kehadiran yang utuh—itulah spiritualitas. Dan bahwa menjadi diri sendiri, sepenuhnya, dengan sadar dan setia, bisa menjadi bentuk tertinggi dari pertemuan dengan yang Ilahi.
Bagi kita yang terbiasa dengan narasi spiritual yang rapi dan penuh janji, Accidental Mystic bisa terasa membingungkan, bahkan mengganggu. Tapi justru dalam gangguan itulah kita dipaksa untuk bertanya ulang: apakah selama ini kita benar-benar mencari kebenaran, atau hanya kenyamanan? Apakah kita siap bertemu Tuhan yang hadir dalam bentuk yang tak kita kenal—bahkan dalam rasa sakit, kegilaan, dan kehilangan?
Dalam dunia yang haus jawaban cepat, Reslian mengajukan alternatif yang lembut namun kuat: tinggal dalam pertanyaan. Menyadari bahwa ketidaktahuan bukanlah kelemahan, tapi pintu. Dan bahwa dalam ketulusan kita menggali, dalam keberanian kita untuk tidak tahu, di situlah keheningan membimbing kita—tanpa suara, tanpa arah, tapi dengan pasti.
Jika sungai harus kehilangan bentuknya untuk menjadi laut, maka perjalanan spiritual bukanlah soal menemukan jati diri baru, tapi melepaskan bentuk-bentuk lama yang selama ini kita kira sebagai “diri”.
Accidental Mystic bukan buku petunjuk. Ia adalah kesaksian. Dan dalam kesaksian itu, kita tidak diminta untuk percaya, hanya untuk mendengar. Dan barangkali, suatu saat nanti, ketika hidup mendesak kita dengan pertanyaan yang tak bisa kita jawab, suara Reslian akan bergema pelan dalam batin kita: “Tuhan tidak ingin kamu menjadi selain dirimu sendiri.”
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
[1] Ulasan sederhana atas, Pardede, R. (2025). Accidental mystic: A Story of An Unlikely Spiritual Journey. Yogyakarta: Stiletto Indie Book
BACA JUGA :



























