
Senin sore, 16 Juni 2025, menjelang malam udara di kawasan Lippo Karawaci terasa hangat. Di salah satu studio siaran Radio Heartline FM, sebuah dialog yang tak biasa mengudara. Program Philosophy Now, hasil kerja sama antara Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara dan Radio Heartline, menghadirkan seorang narasumber yang membawa para pendengar masuk ke wilayah sunyi eksistensi manusia. Reslian Pardede, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara, sekaligus penulis buku Accidental Mystic: A Story of an Unlikely Spiritual Journey yang menjadi narasumber cara itu bertutur tentang memoir hidupnya yang unik.
Sejak awal talkshow, pendengar sudah diajak merenungi sesuatu yang jarang disentuh dalam ruang filsafat publik di Indonesia, yakni soal pengalaman mistik yang terjadi di tengah kehidupan modern yang rasional. Reslian membuka kisahnya dengan sederhana. Ia bukan agamawan, bukan pemuka spiritual, dan tidak pernah menggeluti dunia mistik. Justru sebagai seorang profesional di dunia keuangan yang sangat skeptis dan rasional, ia bahkan tak memiliki referensi budaya atau keagamaan tentang pengalaman semacam itu. Namun, sebuah peristiwa yang mengguncang hidupnya terjadi dua puluh lima tahun lalu. Dari pertanyaan polos tentang keberadaan Tuhan, sebuah pencarian intelektual panjang yang tak kunjung memuaskan, hingga akhirnya ia mengalami sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan nalar logis.
Reslian mengisahkan bagaimana pengalaman spiritual itu dimulai dari kehausan eksistensial. Pertanyaan “Apakah Tuhan itu ada?” yang mula-mula dianggapnya naif, justru menuntunnya pada jalan pencarian yang tak mudah. Bertahun-tahun membaca, berdiskusi, hingga menggali berbagai tradisi, ia akhirnya menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa ditemukan melalui argumen-argumen intelektual semata. “Saya bisa terus membantah argumen apa pun tentang Tuhan. Tapi kalau saya mengalaminya sendiri, saya tidak bisa membantahnya,” ujarnya jujur.
Puncak pengalaman itu terjadi ketika tubuhnya seperti diambil alih oleh kesadaran lain yang ia sebut sebagai Lian Besar. Selama berminggu-minggu, ia mengalami dialog batin, kehilangan kontrol atas tubuhnya, bahkan bercakap-cakap dengan benda-benda di sekitarnya. Reslian mengaku tetap sadar, seolah dirinya berada di sudut tubuhnya sendiri, menyaksikan kejadian itu. Keluarga besarnya, yang berasal dari lingkungan Protestan Batak yang sangat rasional, segera menyimpulkan bahwa ia kerasukan atau mengalami gangguan mental. Para pendeta dan pendoa dipanggil untuk ‘mengusir’ apa yang dianggap sebagai roh jahat. Namun bagi Reslian, yang telah lama mencari makna transendental itu, pengalaman ini justru dihayati sebagai jawaban atas pencarian panjangnya.
Peristiwa itu, menurutnya, tidak bisa diterima begitu saja oleh filsafat modern yang rasional. Dalam perbincangan tersebut, ia menjelaskan bahwa filsafat Barat sejak masa Pencerahan cenderung skeptis terhadap pengalaman spiritual semacam tulisan otomatis atau fenomena mistik. Filsuf-filsuf modern umumnya membatasi realitas hanya pada yang empiris, yang bisa diindera dan diverifikasi. Berbeda dengan tradisi filsafat Timur yang lebih terbuka terhadap pengalaman mistik, kehadiran energi, dan dimensi spiritual tubuh manusia.
Meski begitu, Reslian menemukan kesamaan pandangan dari beberapa pemikir Barat. Ia menyebut Søren Kierkegaard sebagai salah satu pemikir yang relevan dengan pengalamannya. Kierkegaard, dalam gagasannya tentang kebenaran religius, menegaskan bahwa kebenaran spiritual bersifat subjektif. Tak ada jurang yang bisa dijembatani antara kebenaran objektif — yang bisa dibuktikan — dengan kebenaran religius. Seseorang harus melakukan leap of faith, lompatan iman, untuk dapat mengamini pengalaman religiusnya. Menurut Reslian, hal itu persis seperti yang ia alami. “Saya bisa mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya tentang Tuhan, tapi tak akan pernah cukup. Sampai saya sendiri mengalami, baru saya bisa bilang: ya, Tuhan ada.”
Selain Kierkegaard, pemikiran Martin Heidegger juga memberikan kerangka reflektif atas pengalamannya. Dalam pemikiran akhirnya, Heidegger menyebut tentang ketersingkapan (aletheia) — sebuah momen ketika ada, kebenaran, menyingkapkan diri dalam keheningan manusia. Heidegger menolak melihat eksistensi sebagai sekadar hubungan subjek-objek. Bagi Reslian, pengalaman batinnya seakan menjadi penghayatan atas gagasan Heidegger. Ketika pencarian teologisnya gagal, justru dalam kesendirian, dalam sunyi, pengalaman itu hadir. Tidak melalui konsep-konsep dogmatis atau ritual keagamaan formal, melainkan lewat pengalaman tubuh, peristiwa sehari-hari, dan interaksi personal.
Meski demikian, Reslian tak menutup mata bahwa pengalaman spiritual semacam itu memiliki dampak sosial yang tidak ringan. Ia harus menanggung stigma dianggap kerasukan, kehilangan pekerjaan, hingga dikucilkan oleh lingkungan. Tetapi, dalam permenungan panjangnya, ia meyakini setiap orang memiliki cara dan porsi yang berbeda dalam mengalami pengalaman transenden. Ada yang cukup dengan bisikan kecil, ada yang membutuhkan guncangan besar. Ia pun percaya bahwa pengalaman mistik semacam ini tidak seharusnya dikhususkan bagi para spiritualis di puncak gunung. “Manusia modern di kota, yang sehari-hari bekerja di kantor, juga bisa mengalami. Pengalaman spiritual itu bagian dari eksistensi manusia,” ujarnya mantap.
Ketika ditanya apakah pengalaman spiritual semacam ini bersifat universal atau hanya terkait budaya dan latar pribadi, Reslian menjelaskan bahwa ada dua sisi dalam setiap pengalaman spiritual. Bentuk ekspresi dan simbolisasinya bisa dipengaruhi budaya, agama, dan karakter seseorang, tetapi nilai-nilai yang dihasilkannya, seperti kasih, kedamaian, dan penerimaan diri, adalah universal. Ia berkisah bagaimana setelah bukunya diterbitkan, banyak pembaca dari berbagai latar berbagi pengalaman serupa. Walaupun berbeda bentuk, muatan maknanya ternyata sama. “Ada bagian dalam buku saya yang bisa di-relate oleh pembaca, walaupun mereka tidak mengalami hal yang sama persis,” katanya.
Yang paling menyentuh, menurut Reslian, adalah pelajaran tentang kasih tanpa syarat. Sebuah pengalaman batin di mana ia merasa bersatu dengan orang lain, merasakan dirinya di dalam diri orang lain, dan menyadari makna dari perintah “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” secara eksistensial, bukan sekadar doktrin. “Bertahun-tahun saya baca ayat itu tapi enggak ngerti. Baru ketika mengalami, saya paham apa artinya,” ujarnya lirih.
Di penghujung acara, Reslian menegaskan bahwa pengalaman mistik bukan hal asing bagi manusia. Ia bagian dari pergulatan eksistensial yang wajar, meski kadang direpresi oleh masyarakat modern yang terlalu mengagungkan rasionalitas. Ia mengajak siapa pun yang haus akan makna untuk terus mencari. Karena dalam pencarian itu, pengalaman akan datang pada waktunya. “Carilah, maka kamu akan menemukan,” katanya mengutip sebuah ayat yang kini menjadi nyata dalam hidupnya.
Buku Accidental Mystic kini dapat diperoleh di berbagai platform daring. Lebih dari sekadar catatan pengalaman mistik, buku ini merupakan refleksi tentang manusia modern yang bergulat antara nalar dan spiritualitas, antara tubuh dan batin, antara logika dan makna terdalam eksistensi.


























