
Depok, – Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), ketika Bonifacius Hendar Putranto resmi meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Komunikasi. Dalam sidang terbuka promosi doktor yang berlangsung pada, Kamis (26/06/2025) siang hari itu, Hendar tidak sekadar mempertahankan disertasinya, tetapi juga menyampaikan sebuah gagasan mendalam tentang pentingnya etika komunikasi dalam produksi pengetahuan, sebuah topik yang sarat makna di tengah krisis integritas akademik yang kian mengemuka.
Krisis Etika Akademik sebagai Latar
Dalam ringkasan disertasinya yang berjudul Etika Komunikasi Produksi Pengetahuan: Studi Fenomenologi Praktik atas Modalitas Etis Berdasarkan Pengalaman Akademisi dalam Penulisan Ilmiah, Hendar membuka dengan refleksi tajam terhadap realitas dunia akademik Indonesia. Ia menyebut berbagai skandal manipulasi jabatan, plagiarisme, hingga pemberian gelar akademik yang dipertanyakan sebagai gejala sistemik. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar kegagalan individu, melainkan dampak dari lemahnya kesadaran etika dalam komunikasi akademik yang kini diperparah oleh tekanan struktural dan algoritma digital.
“Etika masih sering dianggap sebagai formalitas belaka,” tegas alumnus Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. Padahal, lanjutnya, justru di tengah tekanan publish or perish dan tuntutan birokratis, etika menjadi kompas moral yang seharusnya membimbing setiap langkah akademisi dalam menulis dan memproduksi pengetahuan.
Tiga Sikap, Satu Modalitas Etis
Kontribusi utama disertasi Hendar terletak pada pengembangan konsep modalitas etis, yakni cara keberadaan komunikatif yang menghubungkan norma, refleksi, dan tindakan. Ia menyintesiskan tiga pendekatan utama: teori strukturasi Anthony Giddens, etika publik Haryatmoko, serta fenomenologi praktik Van Manen.
Melalui pendekatan ini, Hendar mengidentifikasi tiga sikap utama akademisi:
Sikap Alamiah – Cara prareflektif dalam berinteraksi dengan pengetahuan; efisien, namun rentan bias.
Sikap Fenomenologis – Refleksi kritis atas praktik akademik, dengan kesadaran terhadap nilai, kuasa, dan kejujuran.
Sikap Etis – Kesadaran intensional untuk bertanggung jawab secara moral dalam relasi pengetahuan, sejarah, dan teknologi digital.
Ketiga sikap ini dijabarkan Hendar bukan sekadar sebagai mekanisme kognitif, tetapi sebagai modalitas eksistensial, yakni cara menjadi dan berelasi sebagai akademisi etis.
Metodologi yang Reflektif
Disertasi ini menggunakan pendekatan fenomenologi praktik Van Manen. Hendar melakukan wawancara mendalam dengan empat akademisi, yang masing-masing diberi inisial SH, FG, DD, dan NP. Meskipun jumlah narasumber yang relatif kecil sempat menjadi catatan dalam forum pengujian, Hendar menjelaskan bahwa pendekatan ini menekankan kedalaman makna, bukan generalisasi.
Pengujian dilakukan oleh tim penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Billy K. Sarwono, MA, sebagai promotor. Salah satu penyanggah, Prof. Dr. Deddy Mulyana, MA, mengajukan kritik tajam, khususnya terkait metodologi, kredibilitas narasumber, serta pentingnya konfirmasi (member check) terhadap narasi yang dibangun. Hendar menanggapi secara terbuka dan menjelaskan proses-proses konfirmasi serta usaha dokumentasi non-verbal yang ia lakukan, bahkan pada wawancara daring semasa pandemi.
Etika sebagai Ziarah, Bukan Beban
Puncak dari presentasi Hendar bukan hanya pada tawaran konseptual, tetapi pada semangat moral yang menyertainya. “Menulis disertasi ini bagi saya adalah perjalanan menelusuri lorong-lorong sunyi pergulatan akademik,” ujar Hendar dengan nada puitis. Ia menegaskan bahwa produksi pengetahuan seharusnya bukan kerja teknokratis belaka, melainkan ruang etis yang merangkul kejujuran, keberanian, dan empati.
Ia bahkan menyebut perlunya pelatihan etika fenomenologis di lingkungan kampus, penyusunan infrastruktur etis yang kontekstual, serta penguatan dialog lintas-disiplin demi merawat integritas keilmuan.
Menuju Akademia yang Lebih Beradab
Dengan keberhasilannya meraih gelar doktor, Bonifacius Hendar Putranto menyumbangkan bukan hanya satu disertasi, tetapi juga satu seruan moral bagi dunia akademik: bahwa etika bukan sekadar prosedur administratif, melainkan inti dari pencarian pengetahuan itu sendiri.
“Etika komunikasi produksi pengetahuan seharusnya menjadi alat heuristik bagi kita semua,” pungkasnya, “sebagai penulis, pendidik, dan insan yang membela martabat ilmu.”
Sidang promosi doktor ini bukan hanya perayaan akademik, tetapi juga menjadi panggilan reflektif bagi setiap insan akademia untuk menapaki jalan ziarah ilmu yang jujur, otentik, dan bertanggung jawab.




























