
Jakarta – Di tengah kekhawatiran akan krisis iklim dan rusaknya ekosistem hutan tropis, secercah harapan muncul dari sebuah desa terpencil di Kalimantan Tengah. Forum Praksis Seri ke-10 yang digelar PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Yesus), Jumat (20/6), menghadirkan kisah inspiratif dari “Project Tampelas”—sebuah inisiatif konservasi berbasis masyarakat di Desa Tampelas, Kabupaten Katingan.
Mengusung tema “Terang dari Tampelas: Menyalakan Keberlangsungan Fungsi Alam di Hutan Kalimantan”, forum yang digelar di Jakarta ini menghadirkan dua tokoh kunci proyek: Achmad Zakaria (arsitek dan CEO Tata Habitat) serta Alexandra Bastedo (CEO Conservana Trading Advisory). Keduanya merupakan bagian dari tim yang merancang dan membangun Project Tampelas bersama PT Rimba Makmur Utama (RMU), perusahaan konservasi hutan rawa gambut yang didirikan Rezal Kusumaatmadja—putra mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja.
Rezal berhalangan hadir dalam forum ini dan diwakili oleh Sigit Lingga dari Yayasan Bung Karno.
Desa Tampelas hanya dihuni sekitar 420 orang. Secara geografis, wilayah ini berdiri di atas lahan gambut yang mudah terbakar dan rentan rusak oleh aktivitas manusia. Lahan gambut yang mengandung materi organik tak terurai ini menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Jika kering, karbon akan lepas ke atmosfer dan memicu kebakaran serta pemanasan global.
“Menjaga lahan gambut tetap basah adalah keharusan,” tegas Alexandra dalam pemaparannya. Inilah dasar pendekatan Project Tampelas yang menerapkan prinsip konservasi berbasis alam (nature-based solution).
PT RMU mengembangkan strategi baru: menggandeng warga lokal untuk beralih dari praktik merusak—seperti penebangan liar—ke kegiatan yang mendukung ekologi. Salah satunya, budidaya ikan gabus (Channa sp.), penghasil albumin bernilai tinggi baik untuk kesehatan maupun pasar. Inisiatif ini pun berujung pada pendirian pabrik albumin di desa.
Pabrik Albumin dan Listrik Surya
Selama satu setengah tahun, warga dan tim RMU merancang pabrik albumin. Pembangunannya berlangsung dua setengah tahun, dibiayai dari hasil konservasi hutan. Untuk menunjang operasional pabrik, RMU juga membangun instalasi tenaga surya—energi bersih yang menjaga kelestarian lingkungan.
“Di sini Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan,” kata Alexandra. “Bukan hanya kebhinnekaan suku atau agama, tapi kebhinnekaan profesi. Kami datang dari berbagai latar, dari arsitek hingga pakar branding, tapi satu tujuan: menghidupi masyarakat melalui pelestarian alam.”
Proyek ini tidak hanya mengubah lanskap ekologis, tetapi juga sosial-ekonomi warga. Sebelum proyek, penghasilan warga hanya Rp30.000 per hari, dan Rp25.000 di antaranya digunakan untuk membeli solar. Kini, pendapatan meningkat signifikan berkat kegiatan budidaya dan produksi albumin.
Salah satu perubahan paling mencolok justru terjadi pada para penggeraknya. Zakaria, yang dulu membangun gedung-gedung megah dengan mengorbankan alam, mengaku Project Tampelas membuatnya bertobat secara ekologis.
“Sekarang saya menggunakan keahlian arsitektur saya untuk bernegosiasi dengan alam, bukan melawannya,” ujarnya.
Kisah Project Tampelas ini juga diabadikan dalam sebuah film dokumenter berdurasi 40 menit yang diputar dalam forum ini. Versi pendeknya telah tersedia di YouTube dengan judul “Project Tampelas: Shifting Intent into Action.”
Jejak Bung Karno dalam Hutan Kalimantan
Dalam forum tersebut, Sigit Lingga dari Yayasan Bung Karno memberikan catatan reflektif. Menurutnya, Project Tampelas mewujudkan visi Sukarno yang ingin agar kekayaan alam Indonesia dikelola oleh anak bangsanya sendiri.
“Bung Karno menyebut hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia. Dan karena itu, harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, bukan kapital asing,” kata Sigit.
Project Tampelas hanyalah satu dari banyak proyek di bawah kendali PT RMU yang kini mengelola kawasan konservasi gambut seluas 157.000 hektare di Kalimantan Tengah, meliputi 39 desa.
Dari desa kecil bernama Tampelas, sebuah terang dinyalakan—bukan hanya untuk Kalimantan, tetapi juga untuk dunia yang sedang mencari jalan keluar dari krisis iklim.



























