Home Berita Alumni Wajah Terlupakan Pekerja Migran: Seruan Etis untuk Kemanusiaan

Wajah Terlupakan Pekerja Migran: Seruan Etis untuk Kemanusiaan

479
0
Dedy Kristanto (paling kanan) dalam kegiatan pelatihan Know Your Rights bagi Pekerja Domestik Migran Filipina dan Indonesia yang diselenggarakan oleh Tim STOP- BOH. Foto : Dokpri.

Tubuh perempuan pekerja migran bukan komoditas. Mereka manusia, dengan harapan, rasa lelah, dan martabat yang sering dilupakan. Demikian disampaikan Pekerja Sosial dan Peneliti Pekerja Domestik Migran Hong Kong dan Staf STOP-BOH Hong Kong, Dedy Kristanto dalam Talkshow bertitel Philoshopy Now, Senin (2/6/2025).

Dalam atmosfer sore yang teduh, program Philosophy Now yang disiarkan oleh Radio Heartline bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) membuka sebuah ruang yang jarang—jika tidak pernah—disediakan oleh media arus utama: suara dari para pekerja migran, khususnya perempuan asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong sebagai asisten rumah tangga.

Narasumber utama, Dedy Kristanto, membuka kenyataan yang selama ini dibungkam. Dengan pengalaman lapangan dan pemahaman mendalam atas teori-teori sosial, Dedy memaparkan secara lugas: “Sistem ekonomi global telah menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas. Mereka dikirim ke luar negeri, diberi label ‘pahlawan devisa’, tapi hak-hak dasarnya seringkali diabaikan.”

Hong Kong memang kerap disebut sebagai “surga” bagi para pekerja migran. Sistem ketenagakerjaan di sana relatif tertib, dengan kontrak kerja dan hak cuti yang lebih jelas dibandingkan negara lain. Namun Dedy menekankan:

“Kontrak kerja bukan jaminan kebahagiaan. Banyak yang tinggal bersama majikan dan bekerja hampir 24 jam. Tak ada batas ruang, tak ada batas waktu.” ujar Dedy.

Ia menjelaskan, tekanan struktural itu membuat banyak pekerja migran mengalami depresi berat. “Tinggal di ruang sempit, tanpa privasi, dengan tekanan kerja dan tanpa pengakuan sosial. Setiap bulan kami menerima laporan kasus depresi, bahkan ada yang sampai pada titik ingin mengakhiri hidup,” ungkapnya lirih.

Feminis-Marxis dan Kehilangan Ruang Publik
Dedy juga menyitir pemikiran Karl Marx, Silvia Federici, dan Judith Butler dalam menjelaskan struktur penindasan. Ia menjelaskan bahwa pekerja domestik (migran) sering kali tidak dianggap bernilai secara ekonomi karena “keberadaan perempuan di wilayah domestik telah dinaturalisasi secara budaya.”

“Mereka bekerja, tetapi tak dianggap pekerja. Mereka menopang kehidupan publik—membersihkan rumah, merawat anak, melayani keluarga—tapi tetap dianggap ‘tidak bekerja’.” Ujar Dedy.

Lebih jauh, Dedy mengutip Hannah Arendt dalam menjelaskan bagaimana para pekerja ini disingkirkan dari ruang publik. Mereka tidak punya hak bicara, tidak punya ruang untuk menyuarakan penderitaan mereka. Meski di Hong Kong ada ruang tertentu untuk organisasi buruh, sejak diberlakukannya National Security Law yang sudah dimasukan dalam Basic Law Hong Kong Artikel 23 pada 2019, ruang itu semakin menyempit.

Dedy menggunakan konsep precarity dari Judith Butler untuk menjelaskan kerentanan ganda pekerja migran perempuan. Pertama, sebagai perempuan, mereka dianggap lemah dan inferior dalam struktur patriarkis. Kedua, sebagai pekerja domestik, pekerjaan mereka dianggap tidak bernilai secara ekonomi.

“Pekerjaan domestik menopang kehidupan publik. Tanpa mereka, tidak akan ada insinyur, pemimpin, atau bahkan penyiar seperti Mas Dika di sini. Tapi sayangnya, kontribusi ini tak pernah dihargai secara setara.” papar Dedy.

Kritik keras juga dilayangkan Dedy terhadap glorifikasi “pahlawan devisa” yang kerap dilekatkan pada pekerja migran.“Kita tak bisa hanya memuji mereka sebagai pahlawan devisa sambil membiarkan mereka menderita dalam diam. Mereka bukan mesin penghasil remitansi. Mereka manusia.” Tegasnya.

Ia mendorong adanya refleksi etis dari pemikiran Emmanuel Levinas: “Melihat wajah perempuan pekerja migran berarti menerima panggilan moral untuk tidak mengabaikan, tidak menyembunyikan mereka di balik tembok domestik, dan tidak menyamakan mereka dengan statistik devisa.”

Langkah Nyata dan Seruan Kemanusiaan
Menutup sesi, Dedy menyerukan tindakan kolektif dari individu, komunitas, hingga negara. Secara individu, kita diajak untuk melihat mereka sebagai sesama manusia, bukan sebagai pelayan. Sebagai komunitas, Dedy mengajak agar kita membuka ruang budaya, seni, dan diskusi bagi suara pekerja migran. Dan bagi negara, mereka diharapkan mau membuat kebijakan yang berpihak, bukan hanya menghitung nilai remitansi.

“Kalau semua pekerja domestik Indonesia keluar dari Hong Kong hari ini, ekonomi Hong Kong bisa kolaps. Tapi siapa yang peduli pada suara mereka?”ujar Dedy.

Talkshow ini bukan hanya membuka mata, tapi juga mengetuk hati. Wajah-wajah yang selama ini tersembunyi di balik pintu apartemen sempit di Mongkok, Causeway Bay, atau Tsuen Wan—akhirnya berbicara. Dan seperti yang dikatakan Dedy dengan tajam namun tenang: “Mereka bukan konco wingking (red: teman yang selalu berada di dapur menyiapkan makan dan minum dan mengurus keperluan rumah tangga). Mereka adalah penopang dunia.”

Dedy Kristanto dan teman-teman PMI dalam Pelatihan Financial Literacy bagi Pekerja Domestik Migran Indonesia. Foto : Dokpri
Dedy Kristanto dan teman-teman PMI dalam Pelatihan Financial Literacy bagi Pekerja Domestik Migran Indonesia. Foto : Dokpri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here