Home Kajian Nguda Rasa Seorang Anak Kecil yang Nyaris Tertembak pada Perang Dunia Kedua dan STF...

Seorang Anak Kecil yang Nyaris Tertembak pada Perang Dunia Kedua dan STF Drijarkara

206
0

Hari ini 6 Juni 1944 adalah D-Day, hari besar penyerbuan ke Pantai Normandia. Juni 2005, Penerbit buku perang dunia II berjudul Citizen Soldiers karya Stephen Ambrose menggelar peluncuran buku tebal itu secara meriah.

Dalam buku itu dikisahkan saat Jerman membabat kilat Eropa : Polandia, Ceko, Prancis, Belgia, Belanda. semua disapu Jerman sekali pukul. Tinggallah Inggris di seberang selat itu kalang kabut sendirian.

Amerika Serikat masih tidur lelap. Asyik membangun dirinya sendiri berdasarkan prinsip-prinsip Republik modern Locke
dimana warga negaranya bebas “mengejar kebahagiaan” merasa urusan Eropa yang 4 tahun menderita, bukan urusannya, apalagi mereka ada di seberang Atlantik.

Baru setelah Pelabuhan Pearl Harbour digasak Jepang, Amerika kaget terbangun tergopoh-gopoh mengumumkan ikut perang “atas nama Negara-negara bebas”, menunjuk Eisenhower menjadi Panglima Tertinggi Operasi Eropa dan MacCharthur sebagai Panglima Tertinggi Operasi di Timur Jauh

Setelah persiapan mobilisasi yang panjang dan berbelit namun cepat, baru pada Juni 1944 Amerika Serikat merasa siap membantu menyerbu Eropa menyelamatkan tanah leluhurnya, Eropa dari Nazi Jerman, masuk lewat pantai-pantai Normandia yang juga dijaga tapi tidak terlalu ketat setelah menampilkan “tipuan-tipuan fenomenologis” untuk mengecoh. Sebab sangat menakutkan bagi jenderal-jenderal Sekutu bila mereka mendarat. Hitler sudah menunggu di pantai dengan kekuatan penuh. Karena itu, pendaratan ini sama dengan memberi diri untuk jadi santapan empuk.

Meskipun banyak juga bergelimpangan korban akibat perlawanan pertahanan pantai tapi rumus “terus bergerak, move on!” membuat pendaratan raksasa di abad 20 itu sukses.

Meski makan waktu dengan biaya ‘tak terhitung lagi” mereka mulai memberangkatkan ribuan kapal dengan jutaan pemuda, puluhan ribu pesawat tempur, puluhan ribu tank berikut logistik raksasa dan bahan bakar (utamanya bensin, minyak goreng tentu si urutan ke sekian), menyeberangi Samudra Atlantik, termasuk korban nyawa tentu (mirip konvoi mudik lebaran tapi menyeberangi Laut Atlantik). Semua di pool di Inggris dulu

Inggris seperti hampir tenggelam. Mungkin bila rudal antarbenua yang waktu itu masih dalam taraf awal perkembangan, sudah ditembakkan dari Jerman ke London barangkali mengerikan juga. Apalagi bila rudal diporuksi massal. Dan pelan-pelan (karena perlawanan alot) serdadu pemuda-pemuda Amerika itu yang membawa misi suci “membebaskan tanah leluhur mereka” (Liberator) berhasil masuk menusuk Eropa dengan target sampai ke tanah Jerman.

Ketika memasuki Jerman, setelah mengalami perlawanan sengit di berbagai front, bala tentara Jerman mulai dapat dijinakkan. Kota-kota besar di Jerman lalu ganti dihukum, dibombardir berat dari udara.

Adalah salah jika Hitler juga membuka dua front sekaligus, di sebelah barat berhadapan dengan Amerika dan Inggris di Timur berhadapan dengan pasukan Rusia-Stalin dengan garis depan yang begitu luas. Kalau saja mau, bisa konsentrasi satu per satu dulu dan sejarah Perang Dunia II bakal lebih serem lagi.

Dan setelah Jerman ditekuk dari Barat dan Timur 8 Mei 1945 tentara Amerika tidak langsung pulang melainkan tetap berjaga di sana, di Berlin. Kota yang telah terbagi antara pendudukan Amerika dan pendudukan Uni Soviet yang dipimpin jenderal Shukov (dari sini pesawat Shukoy dinamai). Kalau Tentara Amerika langsung pulang, Jerman dalam tempo satu dua minggu bakal dimerahkan juga oleh Uni Soviet. Mungkin di tanah Jerman ini, bahaya Komunisme nyata mengancam meskipun hubungan dua Jenderal mereka, Eisenhower dan Shukov sangat baik karena merupakan Sekutu.

Perkembangan selanjutnya, kita tahu, ketika tahun 1948 Uni Soviet berhasil membuat bom atom, babak baru dimulai. Terjadilah Perang Dingin hingga 1990.

@@@

Sebuah cerita kecil dalam Perang Dunia II itu rupanya ikut menentukan perjalanan sejarah STF Drijarkara, Jakarta. Seorang pembicara dalam peluncuran buku yang sudah diceritakan sebelumnya, yang hingga kini masih bersama kita mengisahkan pengalamannya.

Suatu hari sebuah pesawat pembom kecil Sekutu (Spitfire) memberondong sebuah desa hingga penduduknya berhamburan menyelematkan diri. Pesawat ini ditakuti penduduk Jerman dan dijuluki “Jabos” karena berondongannya mematikan dan datangnya pun tiba-tiba.

Seorang anak, masih kecil, berumur sembilan tahun juga ikut berlarian menyelamatkan diri di antara desingan peluru. “Untung tidak kena”, katanya.

“Kalau kena, saya tentu tidak bisa berbicara di tempat ini”

Hadirin yang mendengar itu pada saat peluncuran buku tentang PD II itu menahan napas sebentar dan serentak kemudian bertepuk tangan, sebab terasa ngilu dan sedikit dramatis. Sebab apabila anak kecil berusia sembilan tahun itu tertembak dan tewas, tentu riwayat STF Drijarkara akan sedikit lain sebab anak kecil itu kelak adalah Romo Franz Magnis Suseno.

Sampai di sini kisah itu berhenti, karena setelah melirik jam
Rm Magnis berkata kepada moderator, “mohon maaf, saya harus meninggalkan tempat setengah jam lagi saya harus mengajar.” Pendengar sedikit kecewa, tapi apa boleh buat.

Ah, seseorang dengan disiplin Kantian sejati. Mahasiswa memang punya tempat khusus paling prioritas di hatinya. Pertimbangan ‘utilitarian sesaat’ yang berkata “bukankah lebih bermanfaat bicara kepada 200 orang ketimbang kepada 20 orang, yang pada ngantuk atau tidak lulus-lulus juga?” tidak masuk dalam hitungannya.

Entah kapan dapat disambung lagi pembicaraan yang terputus tentang “Perang Dunia II dari kacamata Penduduk Sipil Jerman” yang tentunya akan menarik, semenarik kisah “anak kecil berusia 9 tahun itu”.

Lalu, pada 3 Juni 2022, pukul 21.28 WIB, Romo Magnis memberi konfirmasi. “Pak Thomas, memang betul kisah saya seperti itu. Tetapi seluruh kisah panjang pasti tidak dari saya. Pembom B-52 belum ada di Perang Duni II,”ujar Romo Magnis.

Lalu, Romo pun menyebutkan bahwa di Cekoslovakia Barat, saat itu pengeboman terjadi, di tempat nenek Romo Magnis yang saat itu sedang mengungsi bersama anak-anaknya. “Waktu itu kami, 3 anak, sedang bermain-main di ladang terbuka.”ujar Romo Magnis.

Saya pikir, pengalaman kecil ini begitu dahsyat, mencicipi Perang Dunia II. Semoga Pater suatu hari ada waktu longgar untuk menulis pengalaman pribadi “yang hidup” di masa perang sebagai pelajaran bagi generasi sekarang yang tdak mengalami perang.

*Catatan lawas yang ditulis 17 tahun silam, Juni 2005

Previous articleYoseph Umarhadi: Membumikan Pancasila Menuju Diskursus dan Tindakan Sehari-hari
Next articleGuru Kami
Lulusan STF Driyarkara, Jakarta dan Anggota Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara Bidang Publikasi dan Medsos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here