Home Berita Alumni Kisah Orang-orang yang Kalah dalam Buku Awan Merah

Kisah Orang-orang yang Kalah dalam Buku Awan Merah

132
0
Baskara T Wardaya (tengah) diapit Ruth Indiah Rahayu (kiri), Antarini Arna (kanan) menyampaikan isi buku yang ditulisnya berjudul
Baskara T Wardaya (tengah) diapit Ruth Indiah Rahayu (kiri), Antarini Arna (kanan) menyampaikan isi buku yang ditulisnya berjudul "Awan Merah, Catatan Sepanjang Jalan" di Toko Buku Periplus Margo City, Depok, Jawa Barat, Rabu (13/03/2024).

Bercerita atau story telling menjadi kekuatan buku berjudul Awan Merah, Catatan Sepanjang Jalan besutan Baskara Tulus Wardaya yang didiskusikan di Lapak Buku Periplus, Mal Margo City, Depok, Rabu (13/03/2024). Ada banyak kisah kecil dan sederhana terkumpul dalam buku ini.

Baskara yang juga seorang Pastor dari Ordo Serikat Yesus sekaligus alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta menyebutkan buku ini lahir dari kegiatan sederhana berupa mencatat dan merefleksikan pengalaman mengajar, meneliti dan berkunjung di Amerika Serikat, khususnya di Kampus Universitas Marquette, Milwaukee selama kurun waktu 2020 hingga 2022.

Namun, buku ini bukanlah semata catatan perjalanan penulis, melainkan catatan milik semua orang. Catatan perjalanan bersama yang lain. Maka, Baskara menyebutkan, buku yang diterbitkan oleh Galangpress pada 2023 ini adalah buku tentang kita. Ini adalah kisah orang-orang yang ingin bersama belajar dari penggalan-penggalan kehidupan. Akan sayang kalau kisah itu dibiarkan lewat, kata Baskara.

Catatan-catatan ini muncul dari kebiasaan memeriksa batin yang menjadi gaya hidup penulis sebagai Pastor Yesuit. Bagi Ruth Indiah Rahayu, kolega lama Baskara yang menemani diskusi ini, pemeriksaan batin inilah yang menjadi metode dalam proses penulisan buku. Pemeriksaan batin atau juga disebut eksamen adalah cara melihat keseluruhan pengalaman selama sehari. Selama melihat diharapkan kita bisa memetik buah rohani atau hidayah yang diharapkan bisa menjadi pendorong bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik.

Dan sebagai metode kata Baskara, kegiatan refleksi juga bisa diterapkan tidak hanya untuk cerita-cerita atau kisah sejarah pribadi melainkan juga untuk kisah-kisah perjalanan komunitas atau kelompok level manapun khususnya level bangsa. Tidak hanya untuk peristiwa masa kini, melainkan juga masa lalu. Baskara menyebutkan, ia bahkan menarik kisah dan peristiwa sebagai bahan refleksi ini dari dari peristiwa yang sudah lama sekali terjadi. “Kebetulan saya menarik waktu 40.000 tahun yang lalu,”ujar Baskara. Maka pemahaman akan arti penting Asia Tenggara misalnya terhadap negara-negara lain di sekitarnya dan dunia bisa menjadi pelajaran penting di masa kini bagaimana negara-negara Asia Tenggara berkiprah saat ini.

“Demikian juga, dengan merefleksikan kembali betapa pentingnya posisi Kepulauan Nusantara dalam dunia pelayaran dan niaga pada masa pra-kolonial, misalnya, kita bisa terinspirasi untuk bersama-sama mengusahakan posisi serupa dalam dunia pergaulan dan perniagaan antarbangsa.”ujar Baskara

Lebih dalam lagi Ruth Indiah Rahayu, juga doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara mengajak melihat inti dari buku ini. Ruth menyebutkan, benang merah seluruh tulisan Baskara adalah tentang pembentukan identitas. Baik personal, komunitas maupun identitas sebagai bangsa.

“Kita menjadi masing-masing seperti ini bukan karena usaha kita sendiri. Kita ada karena orang lain. Karena itu kurang tepat kalau kita menonjolkan ego pribadi. Jadi, identitas kita, siapa kita berkat jasa orang lain. Identitas kita dibentuk secara kolektif, dibentuk oleh orang lain.”ujar Baskara.

Kisah Orang yang Kalah
Satu hal yang penting juga untuk dicermati dalam buku ini adalah yakni kisah tentang orang-orang yang kalah. Sebuah kumpulan narasi-narasi kecil yang ingin menonjolkan emosi, ekspresi dan perjuangan orang-orang yang mungkin tidak pernah diperhatikan dalam kisah-kisah sejarah besar. Mereka bahkan mungkin tenggelam dalam cerita-cerita itu, tidak ada yang tahu bahkan peduli.

Antarini Arna, kolega Baskara yang juga hadir dalam diskusi menegaskan bahwa pembentukan identitas satu kelompok masyarakat selalu menyisakan orang-orang yang menjadi korban atau kalah. Kekerasan dan penindasan bahkan kerap menyertai proses penyingkiran. Demikian juga stigmatisasi dan penghancuran kelompok manusia lain. “Hingga kini, orang-orang Indian di Amerika ditempatkan atau dilokalisir di satu wilayah konservasi. Mereka tidak dipenjara. Namun tidak boleh keluar dari wilayah itu,”ujar perempuan yang juga kerap disapa Rinno.

Memang, proses pembentukan identitas kolektif sejatinya tidak selalu melalui kekerasan. Ada banyak cerita tentang itu. Misalnya suku-suku Maori yang bisa mengidentifikasi diri sama dengan suku-suku Hawai. Mereka bisa hidup dan berkembang dengan tenang. Ini karena mereka berkumpul secara homogen.

Meski begitu, Rinno menegaskan bahwa berbagai narasi tentang pembentukan sebuah bangsa atau narasi apa pun di dalamnya, harus menyertakan sense of justice dan sense of humanity. “Kisah-kisah sejarah yang ditulis sebaiknya tidak sekadar kisah tentang peristiwa satu dengan yang lainnya atau rentetan perjalanan, melainkan juga kisah yang membangkitkan semangat kepeduliaan pada kemanusian dan keadilan,”tegas Rinno.

Maka, kisah-kisah orang yang kalah yang dipaparkan Baskara diharapkan bisa membangkitkan semangat kepeduliaan itu, kata Ruth.

“Sangat diharapkan bahwa dengan menekuni kisah-kisah yang ada di halaman demi halaman buku ini, Anda tidak hanya akan mendapatkan informasi baru atau menghangatkan kembali ingatan lama, melainkan juga akan terdorong untuk merefleksikan pengalaman-pengalaman Anda sendiri. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Socrates di awal bab ini, hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang yang tak layak dihidupi,”ujar Baskara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here