Home Kajian Nguda Rasa Guru Kami

Guru Kami

108
0

Beliau duduk dengan tenang dan sepertinya tidak tertarik dengan hiruk pikuk disekelilingnya. Beliau memilih menghabiskan waktunya membaca ulang tiga butir ancaman Pancasila sebelum disampaikan di atas panggung Sarasehan Pancasila di Gedung Wakil Rakyat, Senayan, tepatnya di ruang Nusantara IV, sehari sebelum Jumat, minggu pertama Bulan Juni, 2022.

Minggu pertama Juni sepertinya pekan keramat bagi mereka yang masih percaya pada roh burung garuda yang konon katanya bisa terbang ke langit ketujuh dan menyelam sampai kedalaman dua puluh ribu meter di bawah permukaan laut.

Legenda burung itu sepertinya terlalu hiperbolis pada zaman dimana segala sesuatu bisa direkam dengan sangat mudah oleh sebuah alat yang berada di genggaman tangan kita, seperti foto ini.

Kembali ke GURU KAMI, semua mata dan kamera ponsel jauh daripadanya. Bahkan ketika mamasuki ruangan megah itu, the real master itu berjalan tertinggal di antara para pendekar Pancasila. Ia melangkah memaksakan kaki tuanya.

Sebuah keuntungan datang lebih cepat pada acara penting, kemungkinan untuk bertemu dengan tamu-tamu agung lebih besar. Bertemulah kami dengan sang guru, salam hormat-lah yang pertama yang disampaikan seorang murid padanya. “Romo, aku murid panjenengan.” dengan dialek medok berpasir-pasir. Lalu ia jawab dalam bahasa yang sama tetapi dengan pilihan kata lebih bermakna.

Setelah memilih duduk di bangku barisan kesekian, beliau didaulat untuk bersanding bersama para jawara-jawari Pancasila. Dia mendapat tempat duduk di bagian tepi meja para jawara itu. Sementara di tengah meja utama, para jawara-jawari Pancasila memperlihatkan keagungan masing-masing dalam simbol-simbol yang hanya mereka yang tahu.

Sejurus acara pembukaan berlangsung meriah khas seremonial instansi pemerintah yang kelebihan anggaran. Tarian Enggang Borneo dan Lagu Nusantara membuka sarasehan tersebut. Akhirnya momen yang ditunggu oleh semua pengikut setia burung garuda pun tiba. Sang Guru berdiri dan langsung membuka jurus utama, tiga ancaman Pancasila. Untuk mengetahui ketiga butir tersebut, sebaiknya dewan pembaca mencari di tempat lain saja, untuk membuktikan apakah ada echo dari acara tersebut atau pada akhirnya kembali pada seremonialisme.

Dua puluh tahun yang lalu kami sangat terbiasa mendengarkan tone suara itu. Tidak berubah. Dua puluh tahun yang lalu kami terbiasa mendengarkan penjelasan sederhana, teratur sistimtatis, khas gaya Jerman.

Badannya memang sedikit mulai lebih pendek sekalipun tetap lebih tinggi dari jawara lainnya, tetapi pikirannya tetap berdiri tegar dan tegak. Hanya satu yang baru bagi kami, mengenai pemanasan global dan ancaman iklim di muka bumi ini. Penjelasan ini sangat gamblang, tapi kami yakin, tak satu media pun mengutip paparan tersebut, bahkan panitia pun tak peduli dengan hal tersebut.

Dari semua sarasehan itu, ketiga poin yang disampaikan sang guru plus ancaman adalah kunci utama panggung Pancasila pada awal bulan Juni 2022. Tugas kami, kita, tugas panitia, dan tugas semua jawara-jawari yang masih layak dan pantas menjadi murid Sang Guru adalah mewartakannya hingga ke ujung dunia.

Echo pesan sang guru tidak boleh berhenti pada ruang mewah Gedung Senayan tetapi diterjemakan dalam metodologi yang terukur dan tersistematis. Pekerjaan ini tentu tidak mudah karena ada sikap dan sifat lain yang harus dimiliki oleh jawara-jawari itu. Sikap dan sifat itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan gelar atau buku yang pernah dilahap. Jika ingin tahu sikap dan sifat itu, pergilah menjauh dari keseharianmu, nikmati lumpur, hujan, badai, banjir, gungung meletus, lautan luas nusantara. Rasakan perih lirihnya menemukan dan menggalai Pancasila di atas gunung, di bawah lautan, bukan di gua-gua fiksi Plato, tokoh yang sang garuda tak pernah kenal.

Tapi siapakah yang datang ke pesta besar itu untuk mendengarkan Sang Guru. Tidak ada. Semua sibuk dengan selfie bersama sang bulan berbalut kebaya putih.

Pada hari lahir Pancasila, bintang iklan yang sengaja diundang untuk menjadi magnet tampil tanpa simbol pancasilais. Tetapi anehnya, dia mampu mendominasi panggung pertarungan ide Pancasila. Bahkan tata acara ditutup oleh cicit sang guru dalam pemahaman dan penghayatan Pancasila. Di belakang panggung, kami hanya geleng-geleng kepala.

Publik ternyata lebih mencari popularitas sesaat dan dangkal dan membiarkan sang guru melangkah meninggalkan gedung rakyat. Ia melangkah tanpa didampingi siapapun. Ia menjauh dari hiruk pikuk selfi mania dengan gambar yang keliru. Mungkin ia masih merasa sedih karena salah satu guru lainnya baru saja menghadap sang empunya Pancasila. Mungkin ia merasa sendiri atau ia merasakan bahwa tanda-tanda ancaman itu semakin dekat dan tidak ada yang bisa menghentikan, karena kita semua lebih sibuk dengan bercermin pada gambar yang belum sempurna.

Ahk…rakyat salah berguru.

Ahk…rakyat asyik musyuk dengan yang ringan, lincah tapi dangkal.

Ahk..Pancasila itu bukan bacaan semalam lalu dipanggungkan seakan-akan menguasai luasnya ketidaktahuan itu.

Ia yang sudah menyelami dalamnya makna Pancasila kehilangan panggung utama di rumah rakyat.

Di ruang luas dan lebar itu, hanya SANG GURU yang paham arti PANCASILA.

Selebihnya kita masih lebih tepat ditempatkan sebagai murid-muridnya.

Bukan baju yang menentukan kedalaman ilmu, kawan! tetapi putihnya rambut.

untuk Guru Kami – Prof.Franz Magnis-Suseno

Previous articleSeorang Anak Kecil yang Nyaris Tertembak pada Perang Dunia Kedua dan STF Drijarkara
Next articleIkuti Diskusi tentang Dialektika Sosiologi dalam Filsafat Sosial Ali Shariati
Alumnus STF Driyarkara, Inisiator Sinabung Karo Jazz, Pengajar Bahasa Spanyol, Pengamat Amerika Latin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here