Home Kajian Nguda Rasa Nusantara, Rumah Perdamaian Konflik Ukraina dan Rusia

Nusantara, Rumah Perdamaian Konflik Ukraina dan Rusia

33
0

Adakah sebuah negara yang lebih beragam dari Nusantara? Pertanyaan sederhana ini adalah jawaban yang akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Nusantara layak menjadi Rumah Perdamaian bagi konflik Ukraina dan Rusia. Saya akan memberikan penjelasan deskriptif argumentatif untuk menjawab kesimpUlan tersebut.

Profesi saya sebagai jurnalis berbahasa asing, mewajibkan saya melakukan wawancara sebanyak mungkin terhadap orang asing. Teknologi komunikasi via zoom memberikan ruang gerak yang tidak terbatas. Saya dengan sangat mudah dapat duduk tenang mendapatkan informasi dari tangan pertama tentang kesan mereka terhadap Indonesia. Dan dari semua wawancara yang saya lakukan, hampir semua mengatakan bahwa orang Indonesia sangat ramah. Keramahtamahan adalah point pertama sebagai NILAI tertinggi dari daya tarik kunjungan wisata ke Nusantara. Selanjutnya adalah alamnya yang yang indah dan nilai berikutnya adalah budaya yang beragam.

Pada nilai ketiga ini Nusantara adalah rumah bagi lebih dari 700 bahasa dan tentu saja budaya yang mengikutinya. Ketika kita bicara tentang budaya, maka kita sepakat bahwa yang sedang kita bahasa adalah cara berpikir, cara pandang dan nilai-nilai yang diadut juga berbeda. Tetapi perbedaan itu melebur dalam satu kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman ini adalah kekayaan dan bukan kelemahan. Nusantara menjadi satu kesatuan lukisan keragaman, sebuah orkestra musik budaya yang indah. Sejarah tumbuh kembangnya Nusantara membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang tumbuh dari kemampuannya menyerap semua kekayaan budaya yang ditinggalkan oleh para penyebar agama-agama besar dunia, seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Yahudi.

Nusantara adalah tanah subur bagai kebudayaan-kebudayan besar dunia, bahkan raja-rajanya pun mampu menyerap dengan mudah gelar-gelar kebangsawanan seperti pemakain gelar sultan. Bahkan nilai moderan seperti demokrasi, emansipasi wanita, HAM dan kini climate change, dengan mudah diserap oleh badan dasar Nusantara. Struktur tanah berbangsa Nusantara adalah humus yang sangat fertil bagi tumbuhnya budaya dan kebudayaan baru dan terbarukan umat manusia. Semak belukar kemanusiaan seperti perang hampir tidak memiliki ruang tumbuh di Nusantara. Sehingga sangat wajar bila Soekarno menerapkan politik luar negeri bebas aktif, bebas dari agitasi kelompok manapun (baca Nato, USA, Rusia, China) tetapi aktif untuk menyelesaikan konflik-konflik besar dunia yang terjadi dari blok-blok kekuatan dunia tersebut.

Nusantara dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya, pada dirinya sendiri adalah Rumah Perdamaian bagi dunia. Indonesia adalah gambaran ideal bagi seluruh dunia, karena di Indonesia kita hidup berdampingan tanpa pandang bulu. Di Indonesia rumah-rumah ibadah duduk berdampingan tanpa sekat perbedaan berarti. Sangat mudah melihat contohnya, selama bulan puasa dan lebaran tahun ini, hampir semua orang merayakannya, terlepas apapun agamanya. Kantor mana atau perusahaan mana yang tidak merayakan silaturahmi bersama untuk acara Idulfitri. Gambaran indah kebersamaan inilah yang menjadi pijakan bagi Nusantara, Rumah Perdamaian.

Presiden Joko Widodo telah meminta dengan tegas agar perang Ukraina dan Rusia segera dihentikan, karena perang tidak ada untungnya, yang menang menjadi arang, yang kalah menjadi debu. Dan beliau sudah memperingatkan bahwa perang Ukraina dan Rusia bisa saja berkembang di belahan dunia lain. Pernyataan yang disampaikan di USA dalam special meeting antara USA dan ASEAN merupakan peryataan sikap politik luar negeri yang BEBAS, tetapi pada saat yang bersamaan ia telah menyiapkan Nusantara menjadi rumah perdamaian bagi konflik tersebut. Presiden Joko Widodo telah melakukan komunikasi via telefon dengan kedua pimpinan yang bertikai. Seperti kita bisa lihat bahwa ajakan damai yang disampaikan oleh presiden telah ditindaklanjuti oleh para tokoh-tokoh dan diplomat-diplomat senior.

Borobudur dan Prambanan adalah sebuah simbol abadi yang ada di Nusantara sebagai bukti sejarah bahwa dua kekuatan besar pada masanya dapat duduk bersama bersanding. Nusantara telah membuktikan kemampuannya sebagai tanah subur bagi perdamaian dan kini akan membuktikan untuk Ukraina dan Rusia.

Catatan Kaki
Saya ingin menyinggung sedikit tentang Pancasila dan kritik pada tim juru damai. Jurus sila yang sampai saat ini diterapkan oleh para juru damai adalah sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab . Semestinya jurus pertama dan utama adalah sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa . Tim juru damai, harus mampu menggerakkan kaum brahmana dari semua golongan agama yang ada. Kekuatan terbesar Nusantara adalah grassroot-nya yang berketuhanan, sehingga wajar bila dalam strategi taktis perundingan damai melibatkan kaum brahmana dari semua golongan agama. Tokoh-tokoh agama Nusantara diajak aktif untuk mencari solusi damai bagi perang Ukraina dan Rusia.

Yang pertama sekali menangis menyaksikan perang terjadi di manapun adalah TUHAN, sang pencipta manusia dan kemanusiaan. Maka layaklah, melibatkan secara aktif para penatua agama yang adalah perpajangan tangan Sang Pencipta yang bisa kita lihat di bumi ini.

Selamat bertugas bagi tim runding, semoga jadilah Nusantara sebagai Rumah Perdamaian. (sangat indah bila background temu salam para petinggi yang berkonflik adalah Borobudur dan Prambanan)

Previous articleSumbangan Utama Buya Syafii Maarif dalam Pemikiran tentang Islam dan Pancasila
Next articleTiga Menguak ‘Post-Truth’; Antara Mc Donald, Nichols, dan Kakutani
Alumnus STF Driyarkara, Inisiator Sinabung Karo Jazz, Pengajar Bahasa Spanyol, Pengamat Amerika Latin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here