Home Berita Alumni Perempuan Melek Digital, Demokrasi Lebih Tangguh

Perempuan Melek Digital, Demokrasi Lebih Tangguh

435
0
Para pembicara dalam Mimbar Rakyat Terbuka bertema “Literasi Digital, Perempuan dan Demokrasi”, yang digelar Suara Ibu Indonesia di Plaza Promenade, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (07/10/2025). Foto : Beni/ Klik; Rakyat. (Ki-ka), Donny BU (Siberkreasi), Blandina Lintang (PurpleCode Collective), Puji F Susanti (Presidium Mafindo), dan Mira Sahid (Suara Ibu Indonesia) sebagai moderator.

Jakarta — Literasi digital bukan lagi sekadar urusan teknis mengoperasikan gawai. Bagi perempuan, literasi digital berarti kemampuan bertahan, melawan kekerasan berbasis gender, dan mengambil peran aktif dalam menjaga demokrasi. Inilah salah satu pesan yang mengemuka dalam Mimbar Rakyat Terbuka bertema “Literasi Digital, Perempuan dan Demokrasi”, yang digelar Suara Ibu Indonesia di Plaza Promenade, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (07/10/2025).

Forum yang menjadi bagian dari rangkaian program Klik:Rakyat itu menghadirkan tiga narasumber: Puji F. Susanti dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), Donny BU dari Ketua Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, dan Blandina Lintang dari PurpleCode Collective. Diskusi dipandu oleh Mira Sahid dari Suara Ibu Indonesia.

Ruang Digital Belum Ramah bagi Perempuan

Dalam diskusi, Blandina Lintang menegaskan bahwa perempuan sering kali menghadapi tantangan ganda di ruang digital: antara tuntutan untuk aktif berpartisipasi dan risiko menjadi korban kekerasan siber. “Ruang digital masih belum aman bagi perempuan. Pelecehan, penyebaran data pribadi, hingga perundungan berbasis gender masih kerap terjadi,” ujarnya.

Menurut Lintang, literasi digital yang netral gender tidak cukup. “Kita perlu literasi digital berperspektif gender, yang sadar akan posisi rentan perempuan dan berupaya membangun ruang daring yang setara,” katanya. Ia menambahkan, demokrasi digital hanya bisa tumbuh bila semua suara—termasuk suara perempuan—dihargai dan dilindungi.

“Demokrasi tidak hanya berlangsung di jalan atau parlemen. Ia juga hidup di timeline media sosial. Setiap klik dan komentar adalah bentuk partisipasi politik,” katanya. “Karena itu, penting memastikan perempuan memiliki pengetahuan dan keberanian untuk bersuara tanpa takut diserang.”

Hoaks dan Kekerasan Digital Menyasar Perempuan

Dari sisi lain, Puji F. Susanti dari MAFINDO memaparkan bagaimana disinformasi, hoaks, dan cyberbullying menjadi ancaman yang semakin menekan perempuan di dunia maya. “Kekerasan berbasis gender online (KBGO) meningkat, mulai dari komentar seksual di media sosial hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin,” ujarnya.

Puji menjelaskan, sejak berdiri pada 2016, MAFINDO fokus melakukan edukasi publik untuk melawan hoaks dan membangun kesadaran digital. Namun dalam perjalanannya, mereka menemukan bahwa perempuan justru memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan ini.

“Perempuan adalah opinion leader di keluarga. Kalau perempuan melek digital—paham etika, keamanan, dan berpikir kritis—keluarga pun ikut terlindungi dari hoaks dan manipulasi,” katanya. Ia menyebut perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi juga potensi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang tahan terhadap disinformasi.

Literasi Digital untuk Merebut Ruang Demokrasi

Sementara itu, Doni BU dari Siberkreasi menekankan bahwa literasi digital harus dipahami sebagai gerakan demokrasi warga. “Secara sederhana, literasi digital terdiri dari empat pilar: cakap, aman, berbudaya, dan beretika. Tapi lebih dalam dari itu, literasi digital adalah cara kita merebut kembali ruang demokrasi,” ujarnya.

Menurut Doni, ruang digital kini menjadi medan baru pertarungan gagasan, yang sayangnya masih didominasi oleh wacana maskulin dan sering kali menekan suara perempuan. “Kalau internet dipenuhi ujaran kebencian dan kekerasan siber, demokrasi digital akan mati pelan-pelan,” katanya. Karena itu, ia menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat sipil — untuk membangun budaya digital yang adil gender dan berpihak pada kemanusiaan.

Gerakan Kesadaran dan Solidaritas Perempuan

Moderator Mira Sahid menutup diskusi dengan mengajak peserta untuk melihat literasi digital sebagai gerakan kultural. “Perempuan perlu hadir dan bersuara di ruang digital. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk demokrasi yang lebih manusiawi,” ujarnya.

Bagi Suara Ibu Indonesia, Klik:Rakyat bukan sekadar ruang diskusi, melainkan mimbar kesadaran: tempat di mana perempuan dapat mengartikulasikan pengalaman dan ketidakadilan digital yang mereka alami, sekaligus membangun solidaritas lintas generasi.

Dari forum ini, muncul satu pesan kuat — demokrasi digital hanya akan sehat bila perempuan aman, terdidik, dan berdaya dalam dunia daring.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here