Home Berita Alumni Pola Tragedi 1965 Telah Bertransformasi dengan Metode yang Lebih Canggih

Pola Tragedi 1965 Telah Bertransformasi dengan Metode yang Lebih Canggih

716
0
Ketua IKAD, Ruth Indiah Rahayu dalam sambutan pembukaan Klik Rakyat di Auditorium STF Driyarkara, Senin (29/09/2025). Foto : Abdi S

Dalam Kuliah Publik Klik Rakyat

Salam damai sejahtera,

Ikatan Keluarga Alumni STF Driyarkara dalam satuan kerja dengan Klik Rakyat, mahasiswa, dan elemen sosial lainnya menyampaikan pandangan mengenai Sejarah Tragedi 1965 sebagai warisan sejarah banalitas kejahatan di Indonesia dalam kehidupan politik berbangsa.

Tragedi 1965 adalah sosok banalitas kejahatan yang diciptakan kekuatan militer dan intelijen yang tidak tunggal untuk menghancurkan kekuatan Selatan-selatan yang dipimpin gerakan anti-imperialis dan pernah dinyatakan dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung. Enam puluh tahun sudah berlalu, belum pernah ada pengakuan dan pertanggungjawaban dari penyelenggara negara mengenai tragedi ini. Bahkan, penyelesaiannya dipintas menjadi program pemulihan korban melalui dana sosial tanpa menyentuh jantung keadilan. Secara historis pun masih dalam perdebatan kebenaran dengan mencari kambing hitam tanpa memikirkan ratusan ribu korban dan tubuh perempuan yang dianiaya secara seksual, serta mereka telah meneteskan darah bagi naiknya kekuasaan Orde Baru. Reformasi pun tidak menyentuh keadilan transisional, melainkan melompat pada demokrasi pemilihan langsung, sementara korban 1965 dan korban dalam pola banalitas kejahatan seperti Tragedi 1965 berulang sepanjang Orde Baru.

Demokrasi tanpa keadilan transisi (transitional justice) melahirkan demokrasi yang banal. Pola Tragedi 1965 telah mengalami transformasi metode yang lebih canggih dalam bentuk pembantaian kehidupan sosial dan masa depan warga negara melalui perampasan tanah secara terus-menerus untuk disewakan kepada investor, mengubah petani subsisten yang mandiri menjadi buruh serabutan, mengorupsi kekayaan negara termasuk hasil produksi ekstraktif di bawah BUMN, memaksa warga negara untuk kerja rodi membayar pajak demi mengatasi krisis ekonomi akibat korupsi. Atas nama program yang bersifat karitas MBG, dalam sistem yang banal hanya menjadikan anak-anak sebagai korban keracunan makanan. Aktivis yang kritis pun dipenjara dan buku bacaan yang progresif disita.

IKAD menyampaikan pendapat, sekurang-kurangnya secara moral, untuk tidak membiarkan banalitas kejahatan terus-menerus berlangsung di Indonesia. Saat ini kami menyerukan pembebasan atas aktivis-aktivis yang berpikir kritis untuk dibebaskan dan juga menyerukan perlawanan atas penyitaan maupun pembredelan bahan bacaan kritis sebagai sumber pengetahuan yang mereproduksi ide kebenaran.

Sebagai penutup, kami menyitir puisi Sutardji Calzoum Bahri: “Yang tertusuk padamu akan berdarah padaku.”
Pada mereka yang tertusuk, masih mewariskan luka berdarah pada kita sebagai kesatuan bangsa.

Jakarta, 29 September 2025

Ruth Indiah Rahayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here