
Selamat siang Romo Kepala, Romo Guru Besar, Romo, Ibu dan Bapak dosen, rekan-rekan mahasiswa Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, serta seluruh yang hadir di ruangan ini maupun yang mengikuti melalui jaringan internet. Saya, mewakili Suara Ibu Indonesia, menyampaikan terima kasih tak terhingga karena mendapat kehormatan berada di forum terhormat ini. Selama beberapa minggu kami telah menawarkan gagasan tentang perlunya suatu arena bagi bertemunya suara-suara yang menginginkan perubahan bagi Indonesia.
Katakanlah arena demokrasi, arena sipil. Di arena ini, tuntutan, harapan, dan gagasan tentang Indonesia baru yang sesungguhnya dibicarakan melalui berbagai cara: kuliah terbuka, debat, diskusi, puisi, nyanyian, atau pertunjukan seni, dan cara-cara lain yang menunjukkan bahwa kita adalah rakyat yang berdaulat atas tanah dan air ini.
Kita tidak dapat lagi percaya bahwa parlemen dan pemerintah sungguh-sungguh membicarakan nasib rakyat. Tidak. Bahkan kita tidak dapat lagi mengakui bahwa mereka adalah wakil rakyat dan pengelola negara. Tidak. Mandat itu harus kita cabut. Arena yang kami tawarkan dinamakan “Klik Rakyat”.
Kita akan bekerja bersama-sama agar arena ini diisi percakapan setiap hari, di berbagai tempat, dan di berbagai wahana yang memungkinkannya diselenggarakan. Hari ini menjadi pemula, esok kita bicara lagi, lagi, dan lagi. Terima kasih kepada kawan-kawan senat mahasiswa, Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara, dan segenap dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di antara kita.
Terima kasih Romo Magnis Suseno yang akan membuka wawasan kami dengan refleksi sejarah tahun 1965–1966, dan pentingnya politik kiri di Indonesia. Semoga kami, Suara Ibu Indonesia, dapat menjadi perempuan-perempuan kiri, Romo. Suara Ibu Indonesia dibentuk di hari-hari gelap, pada 20 Maret 2025.
DPR dan pemerintah berkeras mengesahkan revisi Undang-Undang TNI, yang berarti mengabaikan suara-suara protes dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil. Kita masih ingat protes besar itu. Unjuk rasa berlangsung setidaknya di 58 lokasi dari Aceh hingga Manokwari.
Kita masih ingat, aksi-aksi damai itu ditanggapi dengan kekerasan. Selama sepekan hingga 27 Maret, mahasiswa ditembaki gas air mata, dipukuli, dihajar dengan popor senapan, diinjak-injak lalu diseret ke sel-sel tahanan polisi. Suatu pemandangan yang sungguh menyakitkan hati.
Bersebab peristiwa itu, keesokan harinya, kami berkumpul di depan Gedung Sarinah, Jakarta, untuk menyatakan sikap. Hari itu, 28 Maret 2025, sekaligus menjadi deklarasi kami, kaum perempuan, dalam Suara Ibu Indonesia. Saya memikirkan pernyataan kami 28 Maret itu: bahwa kami tidak akan melarang anak-anak kami, para mahasiswa, untuk memperjuangkan apa yang direnggut dari masa depan mereka.
Bahwa kami akan mendampingi perjuangan mereka dengan ikut turun ke jalan, berjuang bersama anak-anak kami, melawan kekuasaan yang korup. Dan pada 29 Agustus 2025, dan beberapa hari sesudahnya, kita menyaksikan kemarahan rakyat. Pada hari sesudah Affan Kurniawan dibunuh di jalanan, mandat rakyat kepada parlemen dan pemerintah sesungguhnya sudah dicabut.
Hanya saja para penguasa merasa seolah sedang mengelola negeri ini, sehingga seenaknya menghamburkan uang negara. Hari ini harus kita akui, kita sedang mengalami kengerian. Di jalanan pernyataan pendapat dihadapi dengan kekerasan. Hingga kemarin, penangkapan terhadap aktivis terus dilakukan. Mereka dicap kriminal, buku-buku dirampas. Dan satu lagi, anak-anak pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah setiap hari cemas. Mereka dipaksa menelan makanan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan tubuhnya. Judulnya, makanan bergizi gratis. Sesungguhnya, makanan yang berbahaya bagi generasi.
Jalanan belum aman, tetapi kita harus terus bersuara. Kuat dan jernih. Kita harus menemukan cara agar negeri kita terbebas dari politisi rakus. Kita harus menyusun rencana tentang Indonesia yang adil, menghormati hak asasi manusia, sehat, cerdas, bebas dari ketimpangan ekonomi dan sosial. Bebas dari rasa takut dan bersih dari manusia korup. Saudari-saudara, inilah makna Klik Rakyat. Satu sama lain dari kita, rakyat, harus saling “ngeklik”.
Artinya, sehati bersatu menjadi dan menemukan klik. Jika meminjam istilah komputer, fitur yang mesti diklik hari ini adalah rakyat, bukan politisi. Semoga ikhtiar ini dapat menyumbang bagi Indonesia baru yang sesungguhnya, kelak. Dan semoga yang disebut “kelak” itu tidak lama lagi.
Perempuan Indonesia, bersatulah, mari jadi mimpi buruk bagi penguasa. Terima kasih.
Jakarta, 29 September 2025
Auditorium Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Anna Hadi Purnamasari
Suara Ibu Indonesia





























Ada juga ya orang yang menyuruh untuk tidak percaya ke pemerintah dan parlemen. Weleh…. weleh…. weleh.