Home Berita Alumni Romo Setyo: Demo 28-29 Agustus Cermin Suara Hati yang Nyaris Putus Asa

Romo Setyo: Demo 28-29 Agustus Cermin Suara Hati yang Nyaris Putus Asa

608
0
Romo Setyo Wibowo SJ (kanan). Foto : Screenshoot Youtube

Jakarta – Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Romo Setyo Wibowo menyebutkan bahwa eskalasi demonstrasi pada 28-29 Agustus mencerminkan “suara hati nurani yang nyaris putus asa.”

Demikian disampaikan Setyo dalam Forum Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang digelar di Griya Gusdur, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/9/2025).

Romo Setyo melihat pola kemarahan rakyat yang muncul seketika dan mereda dengan cepat. Ia membandingkan fenomena itu dengan peristiwa “Garuda Biru” tahun lalu, ketika kalangan akademisi, mahasiswa, dan aktivis mampu berkoordinasi dalam waktu singkat untuk menolak rancangan undang-undang tertentu.

“Begitu sopir Gojek dilindas kendaraan taktis, rakyat langsung turun dengan caranya sendiri. Para akademisi membuat pernyataan, tapi rakyat memilih jalan berbeda: turun ke jalan, bahkan dengan wajah penuh amarah,” ujar Romo Setyo.

Menurutnya, ekspresi itu tak bisa direduksi hanya sebagai ledakan emosional. “Ini adalah tanda bahwa rakyat sudah tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Apa pun yang mereka katakan, seolah didengar, tetapi tak ada tindak lanjut. Akhirnya yang menjadi sasaran kemarahan adalah polisi, DPRD, dan para politisi,” katanya.

Lebih jauh, Romo Setyo menekankan bahwa GNB melihat fenomena tersebut sebagai “suara hati nurani bangsa.” Ia mengingatkan kembali akan fondasi etika kekuasaan. “Kekuasaan sebetulnya untuk apa? Apakah hanya untuk memperkaya diri, membagi-bagi jabatan, dan melayani kelompok sendiri? Atau, seperti ditegaskan para filsuf sejak Yunani kuno, berkuasa adalah untuk melayani orang lain,” tegasnya.

Pesan itu menjadi relevan mengingat lembaga-lembaga negara kini menghadapi krisis kepercayaan publik. Romo Setyo berharap momentum ini menjadi peringatan keras sekaligus ruang introspeksi bagi para pemegang kekuasaan.

“Kalau Anda menjadi pejabat publik, artinya Anda bekerja demi kepentingan orang lain. Itu yang harus diingat. Kemarahan rakyat kemarin semoga membuat DPR, DPRD, politisi, dan aparat melakukan perbaikan serius, bukan sekadar defensif,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here