Home Berita Alumni Teladan Kesederhanaan Bung Hatta

Teladan Kesederhanaan Bung Hatta

466
0
Gemala Hatta : Ayah selalu mengetuk pintu kamar sebelum masuk, bahkan kamar Ibu atau kamar anak-anaknya. Beliau sangat menjaga sopan santun. Foto : Dok. Praksis

Jakarta — Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan, tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik, pemimpin bangsa, dan perumus berbagai kebijakan penting negara. Dalam kehidupan sehari-hari, Bung Hatta adalah teladan kesederhanaan, ketulusan, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai luhur.

Fakta ini terungkap dalam Forum Praksis, sebuah diskusi bulanan yang kali ini mengusung tema “Bung Hatta dalam Keseharian: Mewarisi Teladan Kesederhanaan dan Kepemimpinan Sang Proklamator”. Acara yang digelar di Jakarta pada Jumat (29/8) ini menghadirkan dua putri Bung Hatta: Dr. Dra. Gemala Hatta, MRA, dan Halida Hatta, yang berbagi cerita tentang sosok ayah mereka di balik panggung sejarah.

Gemala Hatta membuka kisahnya dengan memaparkan peran penting Bung Hatta dalam sejarah republik. Selain ikut memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Hatta adalah tokoh yang memperkenalkan nama “Indonesia” di Eropa, menandatangani pendirian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kelak menjadi TNI, serta mendirikan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Hatta juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dengan pangkat tituler Jenderal, dan dijuluki Bapak Koperasi, Bapak Perumahan Rakyat, Bapak Palang Merah Indonesia, Bapak Kedaulatan Rakyat, hingga pencetus politik luar negeri “bebas-aktif” yang masih menjadi pedoman diplomasi Indonesia hingga kini.

Namun, di balik sederet jabatan dan prestasi tersebut, Bung Hatta adalah seorang suami dan ayah yang lembut, disiplin, dan penuh hormat. “Ayah selalu mengetuk pintu kamar sebelum masuk, bahkan kamar Ibu atau kamar anak-anaknya. Beliau sangat menjaga sopan santun,” kenang Gemala. Bung Hatta, kata mantan Regional Director untuk kawasan Asia Tenggara dari International Federation on Health Records Organizations (IFHRO) periode 2007–2010 dan 2019-2022, tidak pernah marah kepada istrinya, Ibu Rahmi, maupun anak-anaknya, dan selalu bertutur-kata dengan nada yang tenang.

Kesantunan dan kesederhanaan Bung Hatta, menurut Gemala, berakar dari pendidikan sejak kecil. Di Bukittinggi, Hatta belajar mengaji, mempelajari tata-ibadat, hukum Islam, dan mendalami ilmu dari para guru, termasuk Syech Djambek. Di Padang, ia memperluas wawasannya dengan belajar bahasa asing — Belanda, Inggris, Prancis, dan Latin — sambil aktif di perkumpulan pemuda seperti Jong Sumatranen Bond. Semangat menuntut ilmu dan kepedulian pada bangsa ia bawa hingga studi lanjut di Batavia dan Belanda.

Tak hanya dalam urusan ilmu, integritas Bung Hatta pun tercermin dalam sikapnya terhadap uang dan jabatan. “Ayah bertekad tidak menikah sebelum Indonesia merdeka, karena lebih mendahulukan kepentingan bangsa,” kata Gemala. Bahkan setelah menjadi pejabat negara, Bung Hatta tidak pernah menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi. “Saat meninggal, saldo rekening Ayah hanya sekitar Rp2,25 juta. Tidak ada deposito, obligasi, apalagi dolar,” tambahnya. Harta yang dimiliki Hatta hanyalah rumah yang ditempati sejak sebelum kemerdekaan dan sebuah vila di Megamendung yang dibelinya ketika masih bujangan.

Pesan moral yang ditanamkan Bung Hatta berasal pula dari nasihat sang kakek: “Harta di dunia tidak ada yang kekal. Yang kekal hanyalah ilmu, pengetahuan, dan ibadat.” Pesan ini, menurut Gemala, tidak hanya relevan untuk Bung Hatta, tetapi juga penting untuk generasi penerus bangsa.

Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta, turut menambahkan kisah tentang ketajaman strategi ayahnya. “Dalam proses perumusan naskah Proklamasi, terlihat bagaimana Ayah selalu berpikir taktis dan memandang jauh ke depan,” ungkapnya. Menurut Halida, pemikiran ayahnya selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya, disampaikan dengan cara yang tenang dan penuh perhitungan.

Forum Praksis malam itu pun menegaskan satu hal penting: warisan terbesar Bung Hatta bukan hanya kemerdekaan atau kebijakan negara, tetapi teladan integritas, kesederhanaan, dan kepemimpinan moral yang tetap relevan bagi Indonesia hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here