JAKARTA — Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis iklim, sebuah pendekatan tak lazim muncul dari ruang akademik Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Dalam rangka Dies Natalis ke-57 sekaligus perayaan 90 tahun Franz Magnis-Suseno, dalam sebuah kuliah terbuka bertajuk “Menanam Akar Kesadaran: Mengapa Krisis Bumi adalah Krisis Hati?” pembicara utama, Ruth Indiah Rahayu mengajukan tesis yang menggugah: kerusakan ekologis bukan semata persoalan lingkungan, melainkan cermin dari keretakan batin manusia.
Ruth yang merupakan Ketua Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara periode 2024-2027 mengajak peserta melihat krisis ekologis melalui sintesis pemikiran Marx dan etika Jawa—dua tradisi yang tampak bertolak belakang, namun justru membuka kemungkinan refleksi baru. Keduanya merupakan refleksi pemikiran Franz Magnis-Suseno dari dua bukunya Etika Jawa dan Pemikiran Karl Marx.
Ruth memulai dari pemikiran Karl Marx, khususnya konsep keterasingan (alienation) dalam kapitalisme. Dalam sistem industri modern, kata dia, manusia kehilangan relasi dengan pekerjaannya, hasil kerjanya, sesamanya, bahkan dengan dirinya sendiri.
“Manusia tidak lagi bekerja sebagai ekspresi kebebasan, tetapi sebagai keterpaksaan untuk bertahan hidup,” ujar Ruth dalam Pekan Kuliah Terbuka menyambut Dies Natalis STFD ke-57 dan ulang tahun Franz Magnis-Suseno SJ ke-90, di Kampus STF Driyarkara, Senin (27/04/2026).
Keterasingan ini, menurut Ruth, bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan struktur objektif dalam sistem kapitalisme. Buruh direduksi menjadi alat produksi, sementara relasi sosial berubah menjadi kompetisi. Dalam perkembangan mutakhir, keterasingan itu meluas hingga relasi manusia dengan alam.
Mengacu pada pembacaan ekologis atas Marx yang dikembangkan oleh John Bellamy Foster, Ruth menjelaskan konsep metabolic rift—keretakan hubungan metabolik antara manusia dan alam. Dalam sistem kapitalistik, eksploitasi sumber daya dilakukan tanpa memperhitungkan keseimbangan ekologis.
“Kapitalisme tidak hanya mengasingkan manusia dari dirinya, tetapi juga memutus relasi manusia dengan bumi,” kata dia.
Etika Jawa: Rasa, Harmoni, dan Kosmos
Namun, Ruth tidak berhenti pada kritik struktural. Ia beralih pada pemikiran Franz Magnis-Suseno tentang etika Jawa—sebuah sistem nilai yang berakar pada harmoni, kepekaan batin, dan keselarasan kosmis.
Dalam etika Jawa, manusia dipahami sebagai bagian dari dua dimensi: jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gede (makrokosmos). Relasi keduanya dijembatani oleh praktik hidup yang menekankan keseimbangan, seperti prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe—bekerja tanpa pamrih demi kebaikan bersama.
“Etika Jawa mengajarkan bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan bagian dari tatanan kosmis yang harus dihormati,” ujar Ruth.
Konsep seperti memayu hayuning bawono—memelihara keindahan dunia—menjadi landasan etis untuk merawat lingkungan. Berbeda dengan pendekatan konflik dalam Marx, etika Jawa menekankan harmoni dan pengendalian diri.
Sintesis yang Tak Sederhana
Menggabungkan Marx dan etika Jawa bukan perkara mudah. Yang satu berbicara tentang konflik kelas dan pembebasan melalui perjuangan, yang lain menekankan kerukunan dan keseimbangan batin.
Namun, di tangan Magnis-Suseno, keduanya dibaca sebagai upaya membangun “manusia etis”. Dari Marx diambil semangat keadilan struktural; dari etika Jawa, kedalaman batin dan kepekaan moral.
“Untuk menjadi manusia utuh, kita membutuhkan keduanya—keadilan sosial dan kebijaksanaan batin,” kata Ruth.
Sintesis ini kemudian diarahkan pada krisis ekologis. Jika Marx mendiagnosis penyakit struktural, maka etika Jawa menawarkan landasan etis untuk penyembuhan.
Krisis Ekologi sebagai Krisis Moral
Dalam perspektif ini, krisis lingkungan tidak lagi dilihat sebagai persoalan teknis semata. Ia adalah gejala dari krisis moral yang lebih dalam—keserakahan, keterasingan, dan hilangnya rasa.
“Selama kita melihat alam hanya sebagai komoditas, kita tidak akan pernah keluar dari krisis ini,” ujar Ruth.
Ia menyoroti bagaimana eksploitasi tambang, industrialisasi besar-besaran, dan konsumerisme modern telah memutus relasi manusia dengan alam. Bahkan di kota-kota besar, hubungan sosial pun tereduksi menjadi transaksi ekonomi.
“Relasi manusia sekarang dimediasi oleh uang. Bahkan gotong royong pun bisa digantikan dengan upah,” katanya.
Antara Pertobatan dan Revolusi
Dalam bagian diskusi, muncul pertanyaan kritis: apakah etika Jawa yang bersifat individual cukup untuk menghadapi sistem kapitalisme yang struktural?
Ruth mengakui keterbatasan pendekatan etis semata. Menurutnya, transformasi batin penting, tetapi tidak cukup. Diperlukan gerakan kolektif untuk merebut kembali ruang hidup yang telah didominasi kapital.
Ia merujuk pada gagasan “hak atas kota”—bahwa masyarakat seharusnya memiliki otonomi dalam menentukan tata ruang, bukan sekadar mengikuti desain teknokrat dan pengembang. “Tanpa perubahan struktural, etika akan berjalan lambat,” ujarnya.
Namun sebagai seorang rohaniwan, Magnis-Suseno memilih jalan yang berbeda. Ia tidak menyerukan revolusi, melainkan pembaruan hati nurani.
Di sinilah muncul konsep “pertobatan ekologis”, yang juga digaungkan dalam ensiklik Laudato Si’ oleh Pope Francis. Pertobatan ini bukan hanya soal perilaku, tetapi perubahan cara pandang terhadap dunia.
Etika Tanggung Jawab
Sebagai penutup, Ruth merumuskan empat pilar etika ekologis baru: penolakan terhadap eksploitasi tanpa batas, pemulihan martabat manusia, tanggung jawab kolektif, dan prinsip hidup secukupnya. Semua itu bermuara pada satu gagasan: etika tanggung jawab demi kebaikan bersama (bonum commune).
“Krisis ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi. Kita harus membenahi manusia itu sendiri,” katanya.
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, pendekatan ini menawarkan perspektif berbeda—bahwa solusi tidak hanya terletak pada kebijakan dan inovasi, tetapi juga pada keberanian untuk merefleksikan diri.
Karena pada akhirnya, seperti disimpulkan dalam forum tersebut, bumi yang rusak mungkin hanyalah cermin dari hati manusia yang retak.





























