Home Berita Alumni Kolese Le Cocq Nabire Hadirkan Pendidikan Interkultural untuk Generasi Muda

Kolese Le Cocq Nabire Hadirkan Pendidikan Interkultural untuk Generasi Muda

95
0
Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil sedang berinteraksi dengan peserta. Foto : Dok.Kolese Le Cocq d’Armandville

NABIRE — Suasana berbeda terasa di lingkungan SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville, Nabire, selama sepekan terakhir. Ratusan siswa kelas X dan XI tidak hanya mengikuti kegiatan belajar seperti biasa, tetapi menjalani pengalaman hidup bersama lintas budaya melalui Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas yang berlangsung pada 11–17 Mei 2026.

Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi sosial, krisis kepercayaan, dan menguatnya sekat identitas di berbagai ruang kehidupan, sekolah ini justru memilih menghadirkan ruang perjumpaan. Para siswa diajak belajar mengenali diri, memahami orang lain, dan membangun rasa saling percaya di tengah keberagaman budaya Papua dan Indonesia.

Program tersebut difasilitasi oleh Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang menaruh perhatian pada tema Interpersonal Capacity for Trustworthiness atau kapasitas interpersonal untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya.

Alih-alih mengandalkan ceramah satu arah, workshop dirancang sangat partisipatif. Sekitar delapan puluh persen kegiatan diisi dengan percakapan kelompok, refleksi pribadi, permainan, seni, gerak tubuh, latihan komunikasi, hingga meditasi berjalan (walking meditation). Para siswa didorong mengalami sendiri dinamika perjumpaan lintas budaya.

Di ruang-ruang kecil diskusi, para peserta mulai berbagi cerita tentang identitas mereka. Ada yang berasal dari suku Mee, Moni, Biak, Serui, Ambon, Kei, Batak, Jawa, Toraja, hingga berbagai latar budaya lain di Papua dan Nusantara.

Mereka berbicara tentang bahasa daerah, rumah adat, makanan tradisional, kebiasaan keluarga, sampai nilai-nilai yang diwariskan orang tua.

“Anak-anak mulai melihat bahwa meskipun berasal dari budaya yang berbeda, mereka memiliki nilai-nilai yang sama: kebersamaan, solidaritas, keluarga, dan rasa hormat,” ujar salah satu guru pendamping.

Dari proses itu, para siswa perlahan menemukan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan bersama.

Salah satu sesi yang paling berkesan bagi peserta adalah latihan komunikasi lintas budaya. Dalam sesi ini, siswa diajak memahami pentingnya membangun percakapan yang bermakna melalui pertanyaan-pertanyaan yang baik dan penuh empati.

Roberto Vale mengatakan kemampuan mengajukan pertanyaan yang berkualitas merupakan keterampilan penting bagi generasi muda di masa depan.

“Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian tidak mudah kesepian, kalian mampu belajar dari siapa saja, dan kalian lebih mampu menyelesaikan konflik secara manusiawi,” ujarnya di hadapan peserta.

Momen reflektif mencapai puncaknya pada malam hari di sekitar api unggun. Dalam suasana sederhana dan hangat, para siswa melakukan examen bersama sambil merefleksikan pengalaman mereka selama satu minggu.

Anak-anak yang sebelumnya cenderung berada dalam kelompok pertemanan tertentu mulai berbaur dengan peserta lain. Mereka berbicara lebih terbuka, saling mendengar, dan membangun relasi baru.

Hari terakhir workshop diisi dengan tema trust across cultures — bagaimana membangun rasa percaya di tengah keragaman budaya. Para siswa menjalani meditasi berjalan dan percakapan dari hati ke hati bersama “teman Emaus”, sambil merefleksikan pertanyaan sederhana: apa yang membuat seseorang merasa aman, diterima, dan dipercaya?

Tidak hanya siswa, para guru juga mengikuti sesi khusus mengenai cara membangun kepercayaan di ruang kelas yang multikultural dan beragam secara sosial-ekonomi maupun kemampuan belajar.

Bagi Kolese Le Cocq, kegiatan ini bukan sekadar program tambahan sekolah, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan kesadaran sosial.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Papua, sekolah ingin membantu generasi muda bertumbuh menjadi pribadi yang mampu hidup bersama, berdialog, dan membangun komunitas yang sehat.

“Kami Berbeda-Beda, Tapi Tetap Bersama”

Refleksi para siswa pada hari terakhir workshop menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari keseluruhan kegiatan.

Hampir semua peserta berbicara tentang pengalaman belajar menerima perbedaan dan membangun kebersamaan.

“Kalau kita berbeda-beda, tapi kita tetap sama,” ujar seorang siswa saat sesi penutupan.

Peserta lain mengatakan dirinya baru benar-benar mengenal budaya teman-temannya sendiri setelah mengikuti workshop tersebut.

“Yang saya dapat yaitu bisa mengenal budaya dari suku-suku lain,” katanya.

Ada pula siswa yang mengaku mulai memahami pentingnya membangun komunikasi yang lebih mendalam.

“Yang paling saya ingat adalah bagaimana membuat percakapan menjadi lebih dalam dengan pertanyaan yang berkualitas,” ujar seorang peserta.

Tema tentang kepercayaan juga meninggalkan kesan kuat.

“Apa yang saya dapatkan adalah bagaimana membuat orang percaya kepada kita, dan bagaimana mempertahankan rasa percaya itu,” kata siswa lainnya.

Banyak peserta mengaku bahwa pengalaman paling penting selama workshop bukan hanya pengetahuan baru, melainkan tumbuhnya rasa kekeluargaan di tengah perbedaan.

“Kami belajar kebersamaan di tengah perbedaan,” ujar seorang siswa.

Yang lain menambahkan singkat, namun kuat: “Yang saya dapatkan adalah kekeluargaan.”

Pengalaman di Kolese Le Cocq memperlihatkan bahwa pendidikan tidak semata-mata soal capaian akademik, tetapi juga tentang membangun manusia yang mampu hidup bersama dalam keberagaman.

Di tengah berbagai persoalan sosial yang kerap melekat pada Papua, workshop ini menghadirkan wajah lain: Papua sebagai ruang belajar kemanusiaan, dialog, dan solidaritas.

Dari suara para siswa sendiri, muncul pesan sederhana yang menjadi inti seluruh pengalaman itu:

“Kami berbeda-beda, tapi kami tetap bersama.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here