Home Berita Alumni Merawat Kesia-siaan, Sebuah Ingatan yang Tak Pernah Lenyap

Merawat Kesia-siaan, Sebuah Ingatan yang Tak Pernah Lenyap

416
0
Berto Tukan (kanan). Kesia-siaan adalah ruang jeda dari logika produksi dan popularitas. Foto : Sceenshoot Youtube

JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk zaman yang selalu menuntut makna, seorang penulis memilih jalan sebaliknya: merawat kesia-siaan. Itulah benang merah yang mengalir dalam perbincangan di program Philosophy Now, kerja sama Radio Heartline dan Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD), saat Berto Tukan—peneliti dan penulis lulusan STF Driyarkara—berbagi kisah di balik buku esainya, Bercermin pada yang Sudah: Esai-esai untuk Merawat Kesia-siaan.

“Banyak hal yang saya tulis dalam buku ini mungkin sudah tak relevan, atau bahkan telah lenyap. Tapi justru karena itu saya ingin merawatnya,” ujar Berto dalam diskusi yang disiarkan langsung dari studio Radio Heartline, Senin (28/07/2025).

Dalam buku yang menghimpun esai selama lebih dari 16 tahun itu, Berto tidak hanya mencatat peristiwa seni dan budaya, tapi juga menangkap denyut yang sering terabaikan: ingatan, jejak, dan keterlibatan manusia dalam upaya-upaya yang tampaknya sia-sia—namun justru karena itu menjadi penting.

Kesia-siaan yang Dirawat, Bukan Ditolak

Buku ini bukan kumpulan nostalgia, apalagi arsip yang beku. Ia adalah semacam altar kecil bagi hal-hal yang terlupakan, kesaksian terhadap apa yang pernah ada tapi tak sempat menjadi arus utama.

“Kesia-siaan itu bukan untuk dikutuk,” kata Berto, merujuk pada pemikiran Albert Camus tentang mitos Sisifus—tokoh Yunani yang selamanya mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali. “Sisifus bahagia karena ia tahu apa yang ia hadapi. Dalam kesia-siaan itu ada kebebasan, bahkan kegembiraan.”

Melalui esai-esainya, Berto mengajak pembaca untuk melihat kembali nilai dari yang tampak tak berguna, untuk duduk bersama hal-hal yang terpinggirkan: film independen yang nyaris tak ditonton, peristiwa seni yang tak sempat jadi headline, hingga nama-nama kecil yang bekerja di balik layar ekosistem kebudayaan.

Ekosistem Seni: Menemukan Nilai di Balik Nama

Di sinilah esai-esai Berto menjadi semacam lensa yang memperbesar detail yang kerap diabaikan. Ia menyebut pentingnya ekosistem dalam dunia sastra dan seni—sebuah jejaring rapuh yang menopang keberadaan karya, mulai dari editor, layouter, pembaca, hingga pengelola komunitas.

“Bukan hanya karya atau nama besar yang penting,” katanya. “Orang yang mencetak, mendiskusikan, mempromosikan, semuanya bagian dari ekosistem itu. Kita merawat kesia-siaan justru dengan mengenali peran mereka.”

Bagi Berto, kesia-siaan adalah ruang jeda dari logika produksi dan popularitas. Dalam dunia yang hanya mengejar yang viral dan abadi, merawat yang tak bergaung adalah tindakan yang subversif—sekaligus spiritual.

Filsafat, Seni, dan Jalan Menuju Keheningan

Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai pelaku seni rupa dan pengkaji filsafat, Berto melihat dua jalan ini—seni dan filsafat—sebagai upaya memahami dunia yang tidak selalu bisa dijelaskan. Jika seni adalah kejut yang intuitif, filsafat adalah kerangka yang reflektif. Dan di antara keduanya, tumbuhlah ruang bagi kesia-siaan untuk disemai dan dinikmati.

“Saya masuk filsafat lewat seni,” tuturnya. “Dan semakin sering kita menikmati karya seni yang baik, semakin sering pula kita terdorong untuk berpikir lebih dalam, lebih filosofis.”

Membaca Bukan untuk Tahu, Tapi untuk Menyapa

Tidak semua yang dibahas dalam buku Bercermin pada yang Sudah perlu dipahami secara kontekstual. Sebagian besar film yang ditulis mungkin sulit ditemukan, peristiwa yang dikutip mungkin telah berlalu. Tapi di situlah letak kekuatannya—seperti menyapa sahabat lama dalam gelap, atau memeluk sesuatu yang perlahan memudar.

“Kita merawat kesia-siaan bukan untuk menghidupkannya kembali, tapi untuk menjadikannya bagian dari kita,” ujar Berto. “Agar hidup tak hanya soal yang berguna, tapi juga tentang yang pernah menyentuh hati.”

Harapannya sederhana: agar buku ini tak hanya dibaca, tetapi dijadikan teman berdialog. Tentang ingatan, tentang absurditas, dan tentang betapa pentingnya tetap menulis—meski hanya untuk mencatat sesuatu yang mungkin tak akan diingat siapa pun.

Dalam dunia yang serba tergesa, mungkin hanya mereka yang mampu merawat kesia-siaanlah yang benar-benar bisa bercermin pada yang sudah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here