
Jakarta – “Dunia bisa berubah, tapi hanya jika hati manusia berubah.” Pernyataan ini membuka kuliah publik Dr. Andreas Bernardinus Atawolo, OFM dalam Pekan Kelas Terbuka Teologi 2025 yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Berjudul “Keinsanian Yesus Bagi Dunia yang Ringkih”, kuliah ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan ajakan mendalam untuk merefleksikan kemanusiaan Yesus sebagai jawaban atas kerapuhan dunia modern.
Kuliah yang berlangsung pada Selasa (06/05/2025) malam itu dimoderatori oleh Godrikus Yalvim Foarsy Nagang, dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan—baik secara luring maupun daring. Selain menandai momentum 1700 tahun Konsili Nicea I, acara ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan kasih insani Paus Fransiskus, yang baru wafat.
Dari Alkitab ke Dunia Nyata: Yesus sebagai Figur Insani
Dalam pemaparannya, Romo Andre begitu biasanya disapa, menguraikan enam poin refleksi utama tentang keinsanian Yesus. Berangkat dari teks-teks Perjanjian Baru, ia menampilkan Yesus sebagai pribadi yang tidak hanya ilahi, tetapi juga sungguh manusia: Yesus lapar, haus, menangis, merasa takut, berdoa dalam kegelisahan, dan berbelas kasih pada orang kecil.
“Bukan hanya tubuh, tetapi daging. Bukan hanya mengasihi secara ilahi, tetapi menyentuh secara manusiawi,” jelas Andre, yang mengajar Kristologi dan Trinitas Kontekstual di STF Driyarkara.
Yesus yang menangis di depan makam Lazarus, Yesus yang menyentuh penderita kusta, dan Yesus yang memaafkan perempuan berdosa menjadi bukti bahwa kemanusiaan Yesus bukan kosmetik teologis. Ia hadir dalam realitas kita, dan menderita bersama kita.
Paus Fransiskus: Cermin Kasih Insani
Andre menyoroti bagaimana Paus Fransiskus merepresentasikan keinsanian Yesus secara konkret dalam dunia kontemporer. Melalui ensiklik Fratelli Tutti dan Laudato Si’, Paus menunjukkan bahwa kasih tidak mengenal batas: agama, politik, atau ideologi.
“Paus bukan humanis ateistik, tetapi humanis Kristiani. Kasihnya mengalir dari iman—dan itu terlihat dalam pelukan kepada kaum miskin, senyuman pada para tahanan, dan kepedulian ekologis,” ungkapnya. Bahasa kasih insani, menurut Andre adalah bahasa yang menghidupkan relasi, bukan mendikte dogma.
Dari Teologi ke Antropologi: Manusia Sebagai Pertanyaan
Dalam gaya yang ilmiah namun membumi, Andre mengajak peserta melihat bahwa keinsanian Yesus membuka ruang bagi pemahaman yang lebih dalam tentang manusia. Mengutip teolog besar seperti Karl Rahner dan Hans Urs von Balthasar, ia menyebut bahwa Yesus sendiri memiliki iman dan kesadaran diri yang berkembang.
Balthasar menyebut bahwa iman Kristus (Fides Christi) adalah model iman manusia: partisipatif, mendalam, dan terbuka. Sementara Rahner mengajukan gagasan tentang “Kristen anonim”—orang-orang yang meski tidak mengenal Yesus secara formal, hidup dalam nilai-nilai-Nya.
Namun, Andre juga menyadarkan peserta bahwa Kristologi tak bisa berhenti di atas altar. “Kalau teologi tidak menyentuh pengalaman manusia, ia akan jadi kering dan kehilangan daya ubah,” katanya.
Manusia Post-Human dan Misteri Hati
Masuk ke era post-human, di mana manusia hidup bersama teknologi dan algoritma, Andre memperingatkan bahaya hilangnya dimensi batin. “Algoritma bisa memprediksi keputusan, tapi tidak bisa membaca hati. Dan di sanalah kasih insani Yesus bekerja—di kedalaman yang tak bisa dihitung,” tegasnya.
Mengutip filsuf Romano Guardini dan ensiklik C’est la Confiance, ia menegaskan bahwa hati adalah pusat keputusan, pusat kasih, pusat iman. Maka, keinsanian Yesus harus menginspirasi kita untuk kembali ke hati—bukan untuk melankolia, tetapi untuk mengambil sikap dan keputusan yang berpihak pada sesama.
Harapan: Bukan Sekadar Optimisme
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hangat, muncul pertanyaan mendasar: apakah harapan di tengah penderitaan hanya ilusi? Andre menjawab lugas, “Harapan bukan jaminan bebas masalah. Tapi harapan adalah keberanian untuk tetap mencintai dan berbuat baik meski dunia tidak berubah.”
Ia menutup dengan menyebut bahwa menjadi manusia berarti juga menjadi makhluk yang terbuka pada yang transenden. “Kita ini pertanyaan yang berjalan,” katanya, “dan Yesus, dengan keinsanian-Nya, adalah jawaban yang mengangkat pertanyaan itu menuju pengharapan.”
Ruang Refleksi Teologis yang Mencerahkan
Pekan Kelas Terbuka Teologi 2025 tidak hanya menjadi agenda akademik tahunan STF Driyarkara, tetapi juga ruang perjumpaan antara iman dan realitas, antara dogma dan empati, antara refleksi dan transformasi sosial.
Dengan paparan yang menyatukan Kitab Suci, dokumen magisterium, pemikiran teolog kontemporer, dan pengalaman manusia sehari-hari, kuliah Andre menjembatani yang ilahi dan yang insani. Dan di dunia yang ringkih ini, keinsanian Yesus bukan sekadar tema kuliah—melainkan ajakan untuk hidup dengan hati.


























