Jakarta – Demokrasi yang abai terhadap nurani dan keadilan sosial hanya akan melanggengkan kekuasaan tanpa arah moral. Demikian disampaikan Romo Carolus Putranto Tri Hidayat, Lic. Th., dalam Pekan Kelas Terbuka Teologi 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Kamis (1/5).
Dalam kelas bertema “Menegakkan Demokrasi dan Mengasah Nurani”, Romo Carolus menggugah kesadaran peserta untuk melihat bahwa iman tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial-politik. Mengacu pada pemikiran filsuf Paul Ricoeur, ia menyampaikan bahwa etika dan politik harus dijalankan dalam relasi dialogis—bukan saling menundukkan.
“Kalau etika disubordinasikan pada politik, kita berisiko membenarkan segala cara demi kekuasaan. Tapi kalau politik sepenuhnya ditundukkan pada moral, kita kehilangan kepekaan historis,” tegas imam Keuskupan Agung Jakarta yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kateketik dan pamong Seminari Tinggi itu.
Romo Carolus menekankan perlunya keseimbangan antara idealisme moral dan realitas politik konkret. Ia menyebut, dalam kenyataan hari ini, ekonomi kerap menjadi aktor utama yang menentukan arah politik. “Kalau kita tidak kritis terhadap dominasi ekonomi dalam politik, suara nurani rakyat akan terus terpinggirkan,” ujarnya.
Dengan mengacu pada pendekatan hermeneutik Ricoeur, Romo Carolus mengajak peserta untuk menumbuhkan demokrasi yang berakar pada pengalaman historis dan penderitaan konkret umat. Ia mendorong terciptanya ruang percakapan yang menghubungkan etika, politik, dan ekonomi secara kritis dan terbuka.
Ia menyoroti kecenderungan relasi antara moral dan politik yang kerap timpang. Paul Ricoeur, menurut pria yang kerap dipanggil Uut ini menyebut tiga model relasi yang sering terjadi: politik menundukkan moral, moral menundukkan politik, atau keduanya berjalan sendiri-sendiri tanpa dialog. Ketiganya, menurutnya, tidak cukup untuk menopang kehidupan demokrasi yang sehat.
“Kita perlu membangun ruang percakapan yang mempertemukan etika dan politik dalam konteks sejarah dan realitas masyarakat. Demokrasi tidak cukup hanya dengan prosedur, tapi harus dibangun di atas fondasi nurani dan keadilan,” ujarnya.
Demokrasi sejati, katanya, hanya mungkin jika kita berani membangun dialog yang melibatkan seluruh dimensi kehidupan manusia: nurani, sejarah, dan kesejahteraan.
Kritik terhadap Dominasi Ekonomi
Romo Carolus juga mengkritik pengaruh besar kekuatan ekonomi dalam mengarahkan kebijakan politik. Ia menilai, keputusan-keputusan penting kerap lebih berpihak pada kepentingan pemodal dibanding suara rakyat kecil.
“Yang terjadi hari ini adalah ruang publik disempitkan, suara masyarakat dibungkam, dan keputusan politik banyak dipengaruhi oleh elite ekonomi. Ini membahayakan demokrasi,” katanya.
Ia menyebut berbagai fenomena aktual seperti maraknya judi online, krisis sosial-ekonomi, dan penegakan hukum yang tidak merata sebagai contoh konkret bagaimana demokrasi dijalankan tanpa nurani. “Kalau hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, lalu untuk siapa negara ini bekerja?” kritiknya.
Meski berbicara dalam konteks teologi, Romo Carolus menegaskan pentingnya peran agama dalam membentuk warga negara yang kritis dan peduli. Ia menolak gagasan bahwa iman seharusnya menjauh dari politik.
Dalam kerangka pemikiran Ricoeur, Romo Carolus menawarkan jalan tengah: membangun ruang dialog antara etika dan politik dalam konteks komunitas historis. Artinya, tidak sekadar berteori dari menara gading moralitas, tetapi hadir dalam perjuangan konkret bersama masyarakat.
“Idealnya, iman mendorong orang untuk terlibat dalam perjuangan sosial, bukan berdiam di balik tembok sakral. Iman yang tidak membumi adalah iman yang gagal menjadi terang dan garam dunia,” ujarnya.
Kata Uut, etika tidak bisa bicara sendiri tanpa politik, dan politik tanpa etika hanya melahirkan kekuasaan kosong. Butuh ruang percakapan yang mempersatukan keduanya. Uut mengajak, terutama kalangan gereja dan teologi, untuk tidak takut bergumul dengan politik. Baginya, iman Kristen justru harus hadir secara aktif dan reflektif dalam kehidupan publik untuk menyuarakan keadilan dan martabat manusia.
“Menegakkan demokrasi bukan hanya soal ikut pemilu, tapi tentang membangun kehidupan bersama yang adil, bermartabat, dan penuh nurani. Dan itu adalah tugas iman,” tutupnya.





























