
Tangerang — Dalam arus deras zaman digital dan spesialisasi ilmu, filsafat tampak seperti peninggalan masa lalu yang usang. Namun dalam program Philosophy Now yang disiarkan Radio Heartline bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) dengan narasumber Emanuel Bria, seorang peneliti dan kandidat doktor di University of Queensland, Australia, justru membalik anggapan tersebut. Bria menegaskan bahwa filsafat tak hanya masih relevan, tetapi juga esensial sebagai fondasi berpikir kritis dalam ilmu sosial dan ilmu-ilmu kontemporer.
“Filsafat adalah ilmu tertua dalam sejarah umat manusia. Sebelum ada fisika, biologi, atau sosiologi, orang-orang bertanya: ‘Apa itu ada?’ dan ‘Bagaimana kita tahu?’” ujar Bria membuka pembicaraan dari Brisbane, Australia, Senin (21/04/20250.
Emanuel Bria menjelaskan bahwa filsafat tidak hanya berkutat pada moral atau etika. Ia adalah cara berpikir menyeluruh tentang realitas (ontologi), cara memperoleh pengetahuan (epistemologi), dan nilai-nilai yang melandasi kehidupan. Ia menyoroti bahwa filsafat memberikan kerangka berpikir struktural yang mendalam dan holistik—kerangka yang justru dibutuhkan dalam memahami persoalan-persoalan besar zaman ini seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, atau konflik global.
Sebagai kandidat doktor di bidang ekonomi politik, Bria meneliti keterkaitan antara energi, mineral, dan perubahan iklim dari pendekatan multidisipliner. Dalam risetnya, filsafat berperan besar sebagai alat refleksi dan pemetaan konseptual.
“Kami melihat dampak pertambangan nikel dan batubara terhadap keanekaragaman hayati di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Itu bukan hanya soal data teknis. Dibutuhkan kerangka berpikir holistik untuk memahami dampak sosial dan ekologisnya,” jelas Bria.
Ia menyebut pemikiran Alfred North Whitehead dan Philosophy of Organism sebagai inspirasi utamanya—sebuah pendekatan yang menekankan proses, jaringan relasi, dan dinamika kompleks dalam realitas.
Menjawab Tantangan Dunia Modern
Bria menilai bahwa banyak persoalan global saat ini tidak bisa dijawab hanya dengan pendekatan kuantitatif atau deskriptif khas ilmu sosial. “Ilmu sosial sering bersifat deskriptif. Tapi untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa’ dan ‘apa dampak etisnya’, kita butuh filsafat,” ujarnya. Filsafat, menurutnya, adalah dasar yang memberi arah dalam menavigasi kompleksitas dunia kontemporer.
Meskipun demikian, ia mengkritisi kecenderungan filsafat masa kini yang terlalu terspesialisasi. “Banyak filsuf sekarang terjebak dalam diskusi etika sempit: etika AI, etika lingkungan, dan sebagainya. Tapi kita butuh pemikiran yang lebih menyeluruh—yang menyentuh kembali pertanyaan besar soal manusia, alam, dan kebenaran,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa sejak abad ke-20, filsafat mengalami tekanan dari sains positif dan postmodernisme. “Ada serangan hebat pada metafisika. Tapi tanpa pemahaman mendalam tentang ontologi dan epistemologi, kita akan mudah terombang-ambing oleh data dan tren,” ungkapnya.
Meski tantangan besar membayangi, Bria justru melihat secercah harapan dari minat generasi muda terhadap filsafat. “Saya sering ditanya kenapa banyak anak muda mulai membaca buku-buku filsafat populer. Jawaban mereka sederhana: ingin pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia,” kisahnya.
Menurut Bria, ini menunjukkan bahwa di balik kegelisahan zaman, manusia tetap mencari makna yang lebih dalam. Dan filsafatlah yang menyediakan peta untuk pencarian itu.
“Dulu Romo Magnis bilang, filsafat itu tugasnya seperti anjing penjaga. Ia menggonggong ketika ada yang janggal. Ia kritis, dan itu yang dibutuhkan hari ini,” ujar Bria mengutip dosennya di STF Driyarkara.
Kolaborasi dengan Ilmu Lain
Salah satu pesan kuat dari wawancara ini adalah pentingnya kolaborasi antarilmu. Bria menyatakan bahwa filsafat harus rendah hati—berani berdialog dengan sains, teknologi, bahkan matematika. Ia mengutip Whitehead yang awalnya adalah seorang fisikawan, lalu berkembang menjadi filsuf.
“Filsafat tidak harus berdiri sendiri, tapi bisa memperdalam dan memperkaya ilmu lain. Kita perlu pendekatan multidisipliner dan terbuka,” tuturnya.
Menutup perbincangan, Bria menyampaikan pesan hangat bagi publik Indonesia yang masih merasa asing atau takut dengan filsafat. “Filsafat membantu kita berpikir runut, kritis, dan mendalam. Ia bukan menara gading, tapi pelita yang membimbing hidup dan kerja kita sehari-hari.”
Dengan semangat reflektif dan multidisipliner, Emanuel Bria mengajak kita untuk kembali memandang filsafat bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai peta menuju masa depan





























