Home Agenda Diskusi Masyarakat Filsafat Indonesia : To Write What Cannot be Spoken

Diskusi Masyarakat Filsafat Indonesia : To Write What Cannot be Spoken

181
0

Mari hadir dan berpartisipasi dalam Kolokium Dwimingguan MFI Senin, 30 Mei 2022, 19.00-21.00 WIB bersama Hendar Putranto (narasumber) dan Randi Siswanto (moderator) dg topik:

“To Write What Cannot be Spoken: A Scholarly Journey from Communication Science to Digital Communication Ethics.”

Sinopsis:
Era Komunikasi Digital telah mengubah praktik menulis para dosen-peneliti dalam ranah Ilmu Sosial-Kemanusian yang mengejar karir pada lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. Dalam paparan ini, mereka disebut sebagai Dosen-Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (D-PIKI). Secara umum, menulis dialami D-PIKI sebagai sebuah bentuk praktik komunikasi yang khas guna memenuhi tuntutan kompetensi akademis profesional, untuk mengungkapkan gagasan terkait suatu isu, serta membangun jejaring koneksi di ruang publik. Munculnya beragam aplikasi digital untuk membantu menulis serta akses terhadap informasi digital yang semakin mudah menjadi kondisi-kondisi kemungkinan baru untuk mengalami “menulis ilmiah.”

Dalam lingkup tekanan budaya “publikasi-atau-musnah,” tulisan-tulisan ilmiah hasil olah gagasan D-PIKI didorong untuk “menjadi publik” sesuai dengan wadah (bentuk) dan target publikasi. Selain itu, tulisan-tulisan yang terpublikasi ini dapat dengan mudah ditelusuri teknologi mesin pencari. Kemudahan untuk ditelusuri ini memunculkan sejumlah tantangan etis yang baru seperti soal orisinalitas gagasan, godaan melakukan plagiarisme, publikasi di jurnal predator, serta konstruksi identitas menjadi penulis dalam arus Neoliberalisasi Pendidikan Tinggi. Dengan menggunakan metode ‘Fenomenologi Praktik’ yang dicetuskan Max van Manen (2009, 2014, 2021), penulis melakukan pra-penelitian disertasi pada 2020 dengan mewawancarai dua orang D-PIKI (n = 2).

Hasil wawancara yang menggunakan aplikasi rapat daring ini kemudian ditafsirkan secara fenomenologis menggunakan koding aksial dan selektif. Temuan sementara menunjukkan eksistensi dilema etis yang dialami D-PIKI yang menulis dan memublikasikan tulisannya. Pengalaman menulis secara implisit mengandaikan adanya suatu posisi moral yang partikular yaitu bahwa si penulis adalah subjek etis yang tertanam dalam konteks lokal sekaligus terhubung dalam jejaring global berkat adanya teknologi digital, khususnya teknologi pembantu penulisan dan publikasi.

Lewat tulisan-tulisan ilmiahnya, D-PIKI menyuarakan penilaian etis, secara eksplisit maupun implisit, tentang beragam fenomena yang mereka alami, amati, dan persepsi. Menulis ilmiah dengan demikian bukanlah aktivitas yang bebas-nilai dan kepentingan, tapi selalu mengandaikan adanya norma-norma etis yang deliberative, negotiable, and culturally selective. Ketika pengalaman menulis ilmiah ini dipahami dalam kerangka Etika Keutamaan dan Etika Komunikasi Antarbudaya, dilema etis yang dialami para D-PIKI mempertajam kesadaran praktis mereka untuk memilih dan menegaskan kerangka nilai moral-etis individual yang baik sekaligus seperangkat nilai budaya yang dianggap membawa pada cita-cita kebaikan bersama.

Penelitian ini menawarkan kebaruan untuk mendefinisikan ulang Etika Komunikasi Digital (EKD) dalam konteks kesarjanaan Indonesia kontemporer dalam terang Etika Informasi dan Etika Kecerdasan Buatan versi Luciano Floridi (2013, 2022). EKD yang sudah ada selama ini cenderung berfokus pada peningkatan kualitas etis personal subjek tanpa menjawab secara memadai tantangan kontekstual menyangkut perluasan penggunaan informasi digital, jejaring media sosial, serta teknologi aplikasi menulis dan publikasi yang difasilitasi oleh Kecerdasan Buatan.

Guna meningkatkan pemahaman akan versi EKD yang baru, temuan penelitian diarahkan pada upaya konstruksi simbolis D-PIKI dalam mempertahankan kekhasan budaya alamiah dan ilmiah mereka sambil terus meningkatkan kesadaran praktis dan reflektif tentang menulis ilmiah yang mereka lakukan tanpa meninggalkan pencerapan sembada akan dimensi materialitas dan teknikalitas dari algoritma dan logika teknologi.

Narasumber (Hendar Putranto, M. Hum.) adalah pendiri dan penggiat komunitas Masyarakat Filsafat Indonesia (MFI); Dosen Senior pada Jurusan Strategic Communication, FIKOM Universitas Multimedia Nusantara (UMN); Kandidat Doktor dalam Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia (UI).

Klik link ini untuk bergabung dalam zoom meeting:
https://us02web.zoom.us/j/81199006965?pwd=aUEwb2drdGZEVmwxcStZOXFibGtKdz09

Meeting ID: 811 9900 6965
Passcode: 030752

Kolokium ini diadakan rutin setiap 2 minggu, terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya.
Narahubung: 0812-1917-4136 (Ruth).

Previous articleKisah Para Perempuan Pengusaha Batik di Surakarta Abad 18-20
Next articleDiskusi tentang Pemikiran Islam Buya A Syafii Maarif
Alumnus Program Magister STF Driyarkara, Kandidat Doktor dalam bidang Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, dan Dosen Tetap Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here