Home Agenda Kisah Para Perempuan Pengusaha Batik di Surakarta Abad 18-20

Kisah Para Perempuan Pengusaha Batik di Surakarta Abad 18-20

32
0

Jangan Lupa Selasa (JLS) – Diskusi setiap Selasa. Topik: “Mbok mase: mendobrak atau malah terjajah patriarki…?” Kisah para perempuan pengusaha batik di surakarta pada abad 18-20.

Silakan bergabung bersama kami kelompok diskusi filsafat Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara, pada :
Selasa, 24 Mei 2022

Waktu : 19.00 WIB

Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/86157557884?pwd=SEVwT1JRdGE5enFkQ2pBU09NMExrZz09

Meeting ID: 861 5755 7884
Passcode: 569892

Jika mendengar istilah Mbok Mase mungkin kita asing. Tapi tidak dengan Serikat Dagang Islam. Padahal SDI tidak akan muncul tanpa eksistensi Mbok Mase.

Kampung batik Laweyan di Surakarta pada abad 18-20 mengalami masa puncak kejayaan sebagai pusat industri batik di dunia. Kekayaan pengusaha batik mengalahkan bangsawan kraton bahkan pengusaha belanda. Semua ini hasil kerja keras dari Mbok Mas, sebuah istilah yang disematkan kepada perempuan pengusaha batik. Merekalah penggerak roda ekonomi batik. Laki2 tdk punya peran dlm industri batik, mereka bebas menjadi sosialita. Para laki2 inilah, yang disebut dengan istilah Mas Nganten, yang akhirnya membentuk SDI.

Glorifikasi yg muncul kemudian adl perempuan menjadi pengusaha industri batik sbg hal yg di luar pakem patriarki. Hal yg lekat pada budaya Jawa dan Islam. Tapi apakah benar keberadaan Mbok Mase mendobrak patriarki…? Atau jangan2 itu malah semakin mempertegas bahwa cengkraman patriarki pada mereka sungguh kuat?

Previous articleSegera Miliki Buku Karya GP Sindhunata, 70 Tahun Berkarya
Next articleDiskusi Masyarakat Filsafat Indonesia : To Write What Cannot be Spoken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here