
Perdebatan mengenai relasi antara sains dan agama kembali mengemuka dalam rangkaian Pekan Kelas Terbuka merayakan Dies Natalis ke-57 STF Driyarkara. Dalam kelas bertajuk “Sains dan Agama: Friend or Foe?”, dosen teologi STF Driyarkara, Riki Maulana Baruwarso menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern tidak serta-merta menyingkirkan iman kepada Tuhan.
Kuliah terbuka ini merupakan bagian dari perayaan 90 tahun Romo Franz Magnis-Suseno, salah satu pendiri STF Driyarkara. Tema besar Dies Natalis tahun ini adalah “Magnis untuk Indonesia”, yang berupaya menggali kembali pemikiran Magnis dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.
Di hadapan peserta luring dan daring, Riki mengangkat pertanyaan mendasar yang juga menjadi perhatian Magnis dalam buku Menalar Tuhan: “Apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan di zaman modern?”
Menurut Riki, relasi antara sains dan agama selama ini kerap dipahami secara sederhana sebagai hubungan yang saling meniadakan. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.
Ia mengutip klasifikasi pemikir sains-agama Ian G. Barbour yang membagi hubungan sains dan agama ke dalam empat model: konflik, independensi, dialog, dan integrasi.
“Dalam model konflik, agama dan sains dianggap saling menyingkirkan. Tetapi ada juga pandangan bahwa keduanya bisa berdialog dan saling memperkaya,” ujar Riki.
Menurut dia, Magnis tidak menempatkan sains sebagai musuh agama. Sebaliknya, sains dapat menjadi “teman” bagi iman sejauh membantu manusia memahami realitas secara lebih rasional dan kritis.
Namun, Riki mengingatkan bahwa sains pun tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan eksistensial manusia. Ada wilayah-wilayah yang tetap menyisakan misteri.
“Romo Magnis tidak pernah menjadikan sains sebagai penjamin jawaban untuk semua hal. Selalu ada misteri yang tidak seluruhnya dapat dijangkau, baik oleh sains maupun agama,” katanya.
Dalam pemaparannya, Riki banyak membedah konsep rasionalitas dalam pemikiran Magnis. Rasionalitas, menurut Magnis, bukan sekadar sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, melainkan argumentasi yang dapat dipahami, terbuka terhadap kritik, serta konsisten secara logis.
Karena itu, iman tidak harus dipertentangkan dengan akal budi.
“Agama ternyata tidak perlu memusuhi nalar. Dengan perantaraan nalar, agama sendiri dapat mencapai dimensinya yang lebih mendalam,” kata Riki mengutip Magnis.
Riki juga menyinggung bagaimana Magnis menggunakan teori kosmologi modern seperti Big Bang, fine tuning, dan prinsip antropik untuk menunjukkan bahwa alam semesta tampak memiliki keterarahan tertentu.
Meski demikian, ia memberi catatan kritis bahwa prinsip antropik tidak bisa begitu saja dianggap sebagai bukti ilmiah keberadaan Tuhan.
“Asas antropik memang dapat mendorong intuisi tentang adanya desain dalam alam semesta. Tetapi itu belum tentu menjadi penjelasan ilmiah dalam arti ketat,” ujarnya.
Ia menilai, bahaya muncul ketika Tuhan hanya diposisikan sebagai “pengisi celah” atas hal-hal yang belum mampu dijelaskan sains.
“Kalau Tuhan hanya dipakai untuk mengisi kekosongan pengetahuan, maka ketika sains menemukan jawabannya, posisi Tuhan menjadi terancam,” kata Riki.
Diskusi berlangsung hangat. Sejumlah peserta mempertanyakan apakah sains dapat menemukan makna hidup tanpa agama, hingga bagaimana masyarakat Indonesia yang religius dapat membangun tradisi berpikir kritis tanpa kehilangan spiritualitasnya.
Menanggapi hal itu, Riki menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik, baik dalam dunia agama maupun sains.
“Sikap kritis bukan berarti membuktikan orang lain salah, tetapi kesediaan belajar dari pandangan yang berbeda,” ujarnya.
Di akhir sesi, moderator kembali mengajukan pertanyaan pokok yang sejak awal menjadi benang merah diskusi: apakah masih logis untuk percaya kepada Tuhan di tengah kemajuan sains modern?
Riki menjawab singkat, tetapi tegas. “Sampai hari ini saya belum menemukan alasan yang cukup rasional untuk menyangkal kemungkinan bahwa Tuhan itu ada,” katanya


























