Home Berita Alumni Zakharia Primaditya, Guru Perintis Zaman Modern: Pentingnya Penggunaan Bahasa Ibu

Zakharia Primaditya, Guru Perintis Zaman Modern: Pentingnya Penggunaan Bahasa Ibu

40
0

TIMIKA – Di tengah diskusi mengenai revitalisasi pendidikan dalam Lokakarya Pendidikan di Timika hari ini, sebuah kisah inspiratif datang dari pedalaman Yahukimo. Zakharia Primaditya, akrab disapa Adit, berbagi pengalamannya merintis pendidikan yang tidak hanya mengajar, tetapi “menyentuh hati” melalui bahasa ibu.

Lulusan Hubungan Internasional Unpar Bandung dan alumni SMA Kolese de Britto ini bukan guru biasa, ia bisa dikatakan guru perintis zaman modern. Sejak tahun 2008, Adit bersama istrinya, Putri Kitnas—seorang pakar studi perdamaian lulusan Austria—telah mendedikasikan hidup mereka di Tanah Papua. Perjalanan panjang menyusuri 26 kampung di Yahukimo akhirnya membawa mereka mendirikan Sekolah Wana Walinge di Kosarek.

Masalah utama pendidikan di pedalaman adalah mengenai bahasa. “Anak-anak di Kosarek menggunakan bahasa Mek Kosarek. Memaksa mereka langsung belajar dalam bahasa Indonesia sejak hari pertama sekolah adalah beban mental yang berat,” ungkap Adit.

Untuk mengatasi hal ini, Sekolah Wana Walinge menerapkan metode Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMBBI). Metode ini menggunakan bahasa ibu sebagai jembatan untuk memahami materi pelajaran sekaligus mempelajari bahasa Indonesia secara bertahap.

“Kita mulai dari apa yang sudah anak-anak ketahui—pengetahuan mereka, pola pikir mereka, dan bahasa mereka—sebelum menyeberang ke hal-hal baru yang belum mereka kenal,” jelas Adit.

Sekolah Wana Walinge mengelola 95 siswa, mulai dari tingkat PAUD hingga Kelas 5 SD dan program Kejar Paket A. Kurikulumnya dirancang sangat apik. PAUD & Kelas 1 SD, berfokus penuh pada mendengar, berbicara, dan mengenal aksara dalam bahasa Mek Kosarek. Kelas 2-3 SD, mulai memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, sembari tetap memantapkan baca-tulis bahasa ibu. Kelas 4-6 SD, siswa mulai fasih berbahasa Indonesia dan mulai diperkenalkan dengan bahasa Inggris.

Hasilnya? Siswa-siswi Wana Walinge mampu menjadi pembawa acara (MC) dalam tiga bahasa—Kosarek, Indonesia, dan Inggris—pada acara peresmian Alkitab tahun 2023. Bahkan, empat lulusan pertamanya kini mampu bersaing dengan sangat baik di SMP Kristen berkualitas di kota.

Bagi Adit, pendidikan haruslah relevan dengan konteks budaya lokal. Siswa tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga dari tutor asli Kosarek yang menjadi panutan mereka. Mereka membuat proyek akhir berupa kamus peribahasa Kosarek-Indonesia hingga menulis surat kabar.

Namun, jalan ini tidak tanpa hambatan. Adit mengakui tantangan besar seperti minimnya literasi daerah dalam bentuk tulisan dan anggapan bahwa bahasa ibu tidak relevan di sekolah formal.

“Setiap bahasa ibu menjaga warisan budaya yang unik. Menghargainya berarti menjaga martabat individu tersebut,” tutur Adit.

Melalui paparan di lokakarya pendidikan ini, Adit menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, gereja, dan pemerintah. Ia berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada penggunaan bahasa ibu di sekolah formal tingkat dasar, terutama di daerah-daerah dengan karakteristik budaya yang kuat.

Kisah Zakharia Primaditya adalah pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan terbaik bukan tentang seberapa canggih teknologinya. Tapi, seberapa dekat ia dengan hati, tutur, dan latar belakang budaya siswanya.

Penulis : Adi Bangkit SJ, alumnus STF Driyarkara tahun 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here