Home Berita Alumni Prof Connie Rahakundini Ajak Bangsa Indonesia Kembali ke Mimpi Negara Paripurna

Prof Connie Rahakundini Ajak Bangsa Indonesia Kembali ke Mimpi Negara Paripurna

508
0
Guru Besar Universitas St. Petersburg, Rusia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie (kanan), mengingatkan bahwa persoalan utama zaman ini bukanlah krisis sistem, melainkan krisis kesadaran manusia. Pesan itu ia sampaikan dalam Forum Praksis Seri ke-16 yang diselenggarakan Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus (PRAKSIS) di Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (24/1/2026). Foto : Dok. PRAKSIS

Jakarta— Di tengah dunia yang kian bising oleh informasi, polarisasi, dan krisis global, Guru Besar Universitas St. Petersburg, Rusia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan bahwa persoalan utama zaman ini bukanlah krisis sistem, melainkan krisis kesadaran manusia. Pesan itu ia sampaikan dalam Forum Praksis Seri ke-16 yang diselenggarakan Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus (PRAKSIS) di Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

“Yang sedang kita hadapi bukan krisis sistem. Sistem yang rusak masih bisa diperbaiki. Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika nurani manusia tumpul, karena dari situlah lahir kekerasan yang dilegalkan,” ujar Connie di hadapan peserta forum, mengutip gagasan utama dari buku terbarunya, From the Dream of Civilization to the Birth of a Conscious Nation

Menurut Connie, krisis kesadaran justru harus dibaca bukan sebagai tanda runtuhnya peradaban, melainkan sebagai undangan untuk melahirkan peradaban baru—peradaban yang lebih rendah hati, lebih berbelas kasih, dan lebih berkesadaran. Dalam konteks inilah ia memperkenalkan konsep conscious nation atau bangsa yang berkesadaran, yang ia tegaskan bukan sebagai istilah politik, melainkan bahasa moral

Negara sebagai Cermin Jiwa Manusia

Connie menegaskan bahwa bangsa yang berkesadaran adalah bangsa yang pemerintahnya sadar akan batas kuasanya, hukum-hukumnya lahir dari nurani yang jernih, serta kepemimpinannya berangkat dari tanggung jawab batin, bukan sekadar ambisi atau kegelisahan ego. “Pada akhirnya, negara adalah cermin jiwa manusia-manusia yang membangunnya,” kata Connie. Negara yang kehilangan kesadaran, sekuat apa pun ia secara ekonomi dan militer, hanya akan menjadi mesin tanpa jiwa

Dalam paparan yang juga ditopang presentasi visual, Connie menekankan bahwa pendidikan, iman, dan formasi batin justru jauh lebih menentukan masa depan negara dibandingkan regulasi atau teknologi semata. Tanpa fondasi batin, kemajuan hanya akan melahirkan manusia-manusia yang efisien, bukan manusia bermartabat

Ia mengingatkan bahwa peradaban tidak runtuh ketika gedung-gedung roboh, melainkan ketika manusia berhenti bertanya: apakah ini benar, apakah ini adil, dan apakah ini bermartabat. Pertanyaan-pertanyaan moral itulah yang menjaga agar kehidupan bersama tidak tergelincir menjadi sekadar mekanisme kekuasaan.

Cura Personalis dan Panggilan Abad ke-21

Menurut Connie, abad ke-21 bukan lagi zaman membangun kekaisaran atau kota-kota megah, melainkan zaman membangun jiwa dan memelihara perdamaian. Di sinilah konsep cura personalis—merawat manusia secara utuh—menjadi fondasi peradaban yang beradab. Tanpa cura personalis, negara hanya akan mencetak sumber daya manusia yang produktif, tetapi rapuh secara moral dan spiritual

Ia juga menyinggung paradoks zaman kini: kelimpahan informasi justru berjalan beriringan dengan kemiskinan makna. “Kemiskinan makna jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa krisis kerap memaksa manusia untuk berhenti dan berefleksi—sebuah anugerah dalam tradisi rohani

Soekarno dan Mimpi Negara Paripurna

Dalam refleksinya, Connie secara khusus mengaitkan gagasan conscious nation dengan visi Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia mengingatkan bahwa Bung Karno tidak sekadar memperjuangkan kemerdekaan politik, tetapi juga memimpikan lahirnya “kemanusiaan baru” pascakolonial—kemanusiaan yang berdaulat secara moral dan berakar dalam kosmologi Nusantara.

Soekarno, menurut Connie, menghayati prinsip-prinsip lokal seperti Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan—serta Tri Tangtu di Buana yang menekankan keseimbangan antara penguasa, rakyat, dan hukum moral. Dari sanalah lahir pandangan bahwa kepemimpinan bukanlah dominasi, melainkan keselarasan dengan tatanan kosmik

Dalam kerangka itu, Connie mengutip pernyataan terkenal Soekarno, “A nation is a soul, not a geography.” Melalui Pancasila dan gagasan Negara Paripurna, Soekarno membayangkan negara sebagai organisme politik yang hidup, dijiwai oleh kesadaran moral dan spiritual, bukan sekadar entitas hukum atau administratif

Dunia Polisentris dan Tantangan Kepemimpinan

Dari sudut pandang geopolitik, Connie menilai Soekarno telah jauh hari mengantisipasi dunia polisentris—dunia dengan banyak pusat kekuatan—yang kini mulai nyata. Dalam dunia semacam ini, ia menilai bangsa-bangsa tidak cukup hanya cerdas secara strategis, tetapi juga matang secara etis. Kepemimpinan yang berkesadaran menjadi kunci agar persaingan global tidak berubah menjadi konflik tanpa akhir

Menutup paparannya, Connie mengajak peserta forum untuk kembali bermimpi, sebagaimana Soekarno pernah bermimpi tentang Negara Paripurna. “Marilah kita bermimpi tentang peradaban yang berkesadaran, di mana bangsa-bangsa bangkit bukan dengan dominasi, tetapi dengan martabat batin,” ujarnya. Dalam visi tersebut, dunia polisentris tidak lagi menjadi arena persaingan semata, melainkan simfoni peradaban yang dipandu oleh hati nurani, kerja sama, dan kasih.

Direktur Riset dan Advokasi PRAKSIS Romo Baskara Tulus Wardaya SJ (kiri) dan Guru Besar Universitas St. Petersburg, Rusia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie (kanan) dalam Forum Praksis Seri ke-16 yang diselenggarakan Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus (PRAKSIS) di Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (24/1/2026). Foto : Dok. PRAKSIS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here