Intrik intelektual yang diungkapkan oleh Jürgen Oelkers tentang “sekolah modern” dalam benak Jean-Jacques Rousseau memunculkan satu pertanyaan mendasar: bagaimana kita seharusnya mendekati dan membongkar hagiografi—yakni kisah pemuliaan berlebihan—yang mengelilingi tokoh-tokoh besar dalam sejarah pendidikan? (lihat Oelkers, 2010).
Pemikiran Rousseau memang memiliki daya tarik luar biasa. Namun, kekaguman ini perlu diimbangi dengan sikap kritis agar kita tidak terjebak dalam idealisasi yang justru menutupi sisi-sisi problematis dari gagasannya.
Dalam ruang publik kita, wacana pendidikan kerap terperangkap dalam pola pemujaan terhadap “otoritas besar” yang telah diakui kebenarannya. Ketika gagasan-gagasan besar diterima begitu saja tanpa diuji dasar pemikirannya, kemajuan teoretis pun terhambat.
Rousseau menjadi contoh paling mencolok dari kecenderungan ini. Ia dipuja oleh berbagai kalangan—baik konservatif maupun progresif—dan sering dijadikan tolok ukur bagi “pendidikan murni” yang bebas dari tekanan ujian dan sistem. Pengkultusan ini menempatkannya di posisi nyaris tak tersentuh, seolah-olah gagasannya adalah wahyu pendidikan yang sempurna.
Padahal, daya tarik pemikiran Rousseau justru terletak bukan pada konsistensinya, melainkan pada sifatnya yang polemik dan normatif. Daya pikat moral dan retorika humanistiknya sering kali lebih memukau daripada bangunan logika dan epistemologi teorinya. Karena itu, kita perlu berhenti terpukau pada keindahan bahasanya dan mulai menelisik ketidaksesuaian serta implikasi praktis dari ide-idenya.
Melalui Émile, Rousseau memperkenalkan mitos homme sauvage—manusia alami yang belum “tercemar” budaya—sebagai dasar pendidikan. Figur ideal ini memang menarik, namun harga yang harus dibayar adalah pengabaian terhadap kenyataan bahwa manusia tidak bisa benar-benar hidup tanpa pengaruh budaya dan pengetahuan. Konsep “pendidikan alami” yang ia ajukan mudah dipuja karena tampak sederhana, tetapi sesungguhnya miskin hasil bila dibandingkan dengan pendidikan formal yang kompleks dan berlapis.
Lebih dari itu, pandangan Rousseau yang menyamakan pendidikan dengan bentuk “keselamatan sekuler”—yang menuntun anak tanpa menyentuh dosa—merupakan konstruksi yang bermasalah. Secara filosofis, “kebaikan” tidak mungkin dipahami tanpa kehadiran “keburukan.” Maka, gagasan tentang dunia pendidikan yang steril dari dilema moral adalah utopia yang tak mungkin diwujudkan.
Hans-Georg Gadamer (2004) menegaskan bahwa manusia tidak pernah menjadi tabula rasa—lembar kosong—karena setiap proses memahami selalu melibatkan prasangka, tradisi, dan konteks sosial yang telah ada. Dengan demikian, anggapan Rousseau bahwa seorang anak bisa diajar dalam “kekosongan budaya” adalah ilusi teoretis yang berbahaya.
Dalam filsafat, kita sering terjebak pada perdebatan “siapa yang lebih benar”—Kant atau Hegel, misalnya—tanpa menyadari bahwa setiap sistem berpikir hanya berlaku dalam kerangka asumsinya sendiri. Jika kita menerima dasar pemikiran Kant, maka Kant benar; jika menerima Hegel, maka Hegel yang benar. Pola pikir seperti ini hanya mengganti objek pemujaan dari satu filsuf ke filsuf lain tanpa sungguh-sungguh membongkar struktur berpikir di baliknya.
Karena itu, tugas teori pendidikan bukanlah mencari “guru baru” untuk dipuja, melainkan menguji dan menelaah kerangka yang membentuk otoritas pemikiran tersebut. Dalam konteks Rousseau, kita perlu menelusuri kembali apa yang ia maksud dengan “alam” dan “kepolosan,” lalu menilai apakah konsep-konsep itu dapat bertahan dalam uji empiris dan logis yang ketat.
Langkah ini penting agar teori pendidikan tidak terjebak dalam mitos moral atau romantisisme, tetapi berpijak pada kenyataan manusiawi yang kompleks. Pendidikan harus dipahami sebagai proses penuh risiko, keterbatasan, dan tanggung jawab, bukan sekadar perjalanan menuju “kemurnian.”
Sayangnya, idealisme teori kritis seperti ini sering berbenturan dengan tuntutan publik. Teori sering dianggap terlalu jauh dari realitas, sementara wacana publik menghendaki jawaban cepat dan sederhana. Akibatnya, teori yang mempertahankan jarak kritisnya kerap dicap tidak praktis, sementara teori yang terlalu menyesuaikan diri justru kehilangan kedalaman analitisnya.
Rousseauisme yang populer hari ini adalah contoh nyata bagaimana gagasan kompleks dapat kehilangan makna ketika diterjemahkan secara dangkal untuk konsumsi publik.
Namun, di tengah ketegangan antara idealisme teori dan tuntutan publik, satu hal tetap harus dijaga: teori tidak boleh berhenti mempertanyakan. Ia tidak harus selalu menyetujui atau membenarkan praktik yang ada. Fungsi sejatinya adalah menjaga jarak kritis, menelanjangi asumsi tersembunyi, dan menolak penyederhanaan moral yang memenjarakan pemikiran.
Dengan demikian, teori pendidikan tetap hidup dan berfungsi: bukan sebagai alat pemujaan baru, tetapi sebagai upaya terus-menerus untuk membongkar setiap bentuk hagiografi yang mencoba memutihkan sejarah pemikiran manusia.





























