Home Berita Alumni Kerja di Era Kapitalisme, Aldrich Anthonio Soroti Penindasan Struktural Pekerja

Kerja di Era Kapitalisme, Aldrich Anthonio Soroti Penindasan Struktural Pekerja

367
0
Aldrich Anthonio. Dalam sistem kapitalisme lanjut, relasi kerja tidak lagi manusiawi. Yang diutamakan hanyalah hasil, bukan proses. Foto : Screenshot Youtube

Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi global dan teknologi, sistem kerja di era kapitalisme lanjut dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini disampaikan oleh Aldrich Anthonio, doktor filsafat lulusan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, dalam sebuah diskusi filsafat bertema “Permasalahan Kerja di Era Kapitalisme Lanjut dalam Pandangan Mazhab Frankfurt” yang disiarkan Radio Heatline Network, Senin, 7 April 2025.

Dalam paparannya, Aldrich mengkritik keras sistem kerja modern yang dinilai telah mengalami dehumanisasi. “Kapitalisme membuat kerja menjadi komoditas semata. Pekerja kehilangan otonomi atas hasil kerjanya, bahkan atas tubuh dan waktu mereka sendiri,” ujarnya dalam program Philosophy Now yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara dan Radio Heartline.

Kerja yang Terasing
Mengacu pada pemikiran Mazhab Frankfurt, khususnya Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, Aldrich menjelaskan bahwa kerja di era kini telah direduksi menjadi aktivitas fungsional belaka. Nilai-nilai eksistensial, seperti aktualisasi diri, solidaritas, dan kebebasan, tersingkir oleh tuntutan efisiensi dan produktivitas.

“Dalam sistem kapitalisme lanjut, relasi kerja tidak lagi manusiawi. Yang diutamakan hanyalah hasil, bukan proses. Ini berujung pada keterasingan—manusia tidak lagi merasa terhubung dengan apa yang ia kerjakan,” ungkapnya.

Aldrich juga menyebut bahwa logika kapitalisme tidak hanya mengendalikan tenaga dan pikiran pekerja, tetapi juga kesadarannya. “Ini yang disebut sebagai penindasan struktural. Pekerja dipaksa menerima sistem seolah itu sudah alamiah, padahal ini adalah konstruksi yang menindas,” tambahnya.

Rasionalitas Instrumental dan Budaya Massa
Salah satu sorotan utama dalam diskusi tersebut adalah dominasi rasionalitas instrumental—gagasan yang memprioritaskan kalkulasi, efisiensi, dan kendali. Menurut Aldrich, jenis rasionalitas ini telah menyusup ke seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya populer.

“Budaya industri yang diproduksi massal, seperti hiburan dan iklan, turut membentuk kesadaran palsu masyarakat. Kita dikondisikan untuk tidak berpikir kritis, melainkan terus mengonsumsi. Alih-alih manusia yang bernilai, malah benda-benda konsumsi yang menjadi bernilai. Kita didefinisikan oleh baju yang kita kenakan, jam tangan yang kita pakai, dan mobil yang kita kendarai,” jelasnya.

Menurutnya, alih-alih membebaskan, budaya tersebut justru memperkuat sistem yang menindas dengan menciptakan ilusi kebebasan. “Manusia merasa bebas memilih, padahal pilihannya telah dibentuk oleh pasar,” kata Aldrich.

Emansipasi Lewat Pendidikan Kritis
Sebagai solusi, Aldrich menekankan perlunya pendidikan kritis yang membangkitkan kesadaran sosial. Ia mengutip pandangan Marcuse yang menyerukan pentingnya perubahan struktural melalui transformasi budaya dan politik.

“Pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi harus membebaskan manusia sebagai subjek. Ini yang menjadi misi utama dari pemikiran Mazhab Frankfurt,” ujarnya.

Diskusi ini ditutup dengan ajakan agar masyarakat mulai bersikap kritis terhadap sistem kerja yang ada dan memiliki kepedulian politis sehingga harapan akan alternatif hidup yang lebih manusiawi dapat terwujud. “Kebebasan sejati adalah ketika manusia mampu menentukan arah hidup dan kerjanya sendiri, bukan sekadar menjadi roda dalam mesin kapitalisme,” pungkas Aldrich.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here