Home Berita Alumni Refleksi 50 Tahun Paul Sudiyo Membangun Pendidikan Papua

Refleksi 50 Tahun Paul Sudiyo Membangun Pendidikan Papua

69
0

TIMIKA – Di tengah upaya transformasi pendidikan di Tanah Papua, sebuah kisah inspiratif datang dari Paul Sudiyo, tokoh senior yang telah mendedikasikan 50 tahun hidupnya bagi anak-anak Papua. Dalam Lokakarya Pendidikan yang diselenggarakan  Keuskupan Timika, sosok yang akrab dengan dunia keguruan dan pendampingan mahasiswa ini membagikan “nyala lilin” pengalamannya untuk menerangi masa depan pendidikan dasar dan menengah.

Ia memulai pengabdiannya di Jayapura pada tahun 1976 sebagai tim pastoral yang merangkap tugas sebagai guru di berbagai sekolah, mulai dari SMP hingga SMA Negeri. Menariknya, ia bahkan sempat mencicipi peran sebagai juru taman di kantor Keuskupan karena kerendah hatiannya.

Singkat cerita, ia kemudian memimpin Yayasan Bina Teruni Indonesia Bumi Cenderawasih (Binterbusih) sejak 1988, sebuah lembaga yang fokus mendampingi mahasiswa Papua di perantauan.

Didirikan secara resmi pada awal tahun 1988 bersama tokoh-tokoh seperti Lukas Karel Degey dan Pastor Nato Gobay, Binterbusih awalnya berjalan stabil berkat dukungan donor asal Belanda, Cebemo. Namun, badai datang pada tahun 1991 ketika kebijakan politik menghentikan seluruh bantuan dari Belanda ke Indonesia. Dampaknya drastis. Pada tahun 1992, Binterbusih dinyatakan lumpuh karena tidak memiliki dana operasional. “Tahun 1992 Binterbusih ‘pingsan’ karena  tiadanya dana operasional,” kenang Paul Sudiyo saat memberikan lokakarya pendidikan dasar dan menengah di Hotel Swis Belinn, Timika, (15/4/2026).  

“Pemerintah Pusat yang  kami lobi melalui beberapa Menteri mau membantu, dan tindak lanjutnya dipercayakan kepada Sekretaris Kabinet Syahadillah Mursyid namun akhirnya kandas. Sekretaris Kabinet menyimpulkan kami Yayasan Binterbusih underbouw Gereja Katolik, karena dana yang dikirim dari luar negeri tidak pernah melalui Sekab, tetapi melalui KWI. Habislah lobi dan harapan lewat pemerintah pusat yang sudah dibangun cukup lama. Setelah itu, Binterbusih kembali ke akar rumput lagi dan tidak lagi menggantungkan diri pada pemerintah pusat,” ungkapnya. 

Malaikat Penolong Datang

Dalam perjalanan kemanusiaan, sering kali bantuan datang dari arah yang paling tidak terduga. Bagi komunitas Binterbusih, tahun 1995 menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan. Saat itu, sesosok “malaikat penolong” datang dari Belanda, membawa harapan baru bagi masa depan mahasiswa Papua di Semarang.

Kisah ini dimulai saat Job Sirat, Direktur Cebemo (lembaga bantuan Belanda), mengutarakan niatnya untuk berkunjung ke Semarang. Menariknya, ia tidak meminta fasilitas hotel mewah. Pak Job justru bersikeras ingin menginap di rumah pengurus Binterbusih.

Selama tiga hari, Pak Job melebur dalam kehidupan sehari-hari di rumah yang juga berfungsi sebagai kantor Binterbusih tersebut. Ia duduk bersama, mendengarkan cerita jujur dari tuan rumah, serta menyimak langsung keluh kesah para mahasiswa Papua yang sedang menempuh studi.

Ia datang ingin memahami sedalam apa kesulitan yang dihadapi “Mama Dokter” dan Paul dalam mendampingi para mahasiswa. Kedekatan personal inilah yang kemudian membuka pintu bantuan. “Sesudah tiga hari di rumah, beliau berjanji mau membantu Binterbusih setibanya di Nederland,” pungkasnya. 

Kolaborasi Strategis

Kebangkitan Binterbusih terus bergerak, Paul kemudian berhasil melakukan lobi ke berbagai lembaga, termasuk kerjasama strategis dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dimulai pada tahun 1997. Lalu, Paul mengembangkan asrama mahasiswa (1997), asrama SMA (1999), dan asrama SMP (2017) sebagai wadah pembentukan diri yang intensif. 

Ada satu sisi menarik. Paul berulang kali mengumpulkan guru dan dosen di Jawa untuk mengubah cara pandang mereka terhadap anak Papua yang sering dicap lambat atau nakal. “Pengalaman saya anak-anak Papua itu pintar-pintar,” ungkapnya. 

Paul merumuskan Strategi 8K untuk mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu Komitmen, Karakter, Kompetensi Akademis, Keterampilan Hidup, Kesehatan Jasmani, Kesehatan Rohani, Kepemimpinan, dan Keterampilan Teknis. Strategi ini terbukti mampu mengubah mahasiswa yang awalnya memiliki IPK rendah menjadi wisudawan terbaik.

Pengalamannya membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, mahasiswa yang awalnya memiliki IPK di bawah 1.0 bisa lulus dengan IPK di atas 3.0, bahkan ada yang mencapai 3.95. Beberapa alumni kini telah berkarier sebagai pilot, asisten dosen, hingga pejabat daerah di Papua.

Transformasi Pelayanan

Dalam sesi pemaparannya, muncul sebuah pemikiran kritis dari Paul mengenai arah masa depan pelayanan gereja. Pesan utamanya sangat jelas, bahwa “Pendekatan Pastoral harus diubah.” 

Selama ini, kata Paul, kita sering membatasi peran pastoral hanya pada lingkup ritual dan liturgi—terpaku pada pelayanan sakramen dan pemberitaan sabda di mimbar semata. Namun, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pendekatan tradisional tersebut dianggap tidak lagi mencukupi untuk menjawab kebutuhan nyata umat.  

“Turne pastor ke kampung-kampung harus mencakup pengembangan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, tidak hanya urusan sakramen,” kata Paul. “Bapa Uskup, kalau biasanya mereka turne dua hari menjadi 10 hari, tinggal di kampung-kampung.”

Rumah Transit

Paul juga mengusulkan ide strategis mengenai penerapan sistem semi asrama dan asrama penuh sebagai solusi peningkatan mutu pendidikan. Untuk tingkat Sekolah Dasar, pendekatan yang ditawarkan adalah sistem semi asrama atau rumah transit. Tujuannya adalah memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan pendampingan belajar yang terukur tanpa memutus ikatan emosional dengan keluarga di malam hari. Dimulai dengan sarapan pagi bersama, dilanjutkan sesi sekolah formal, makan siang bergizi, dan pendalaman materi (belajar lagi) di siang hingga sore hari. Hasilnya, Anak tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga terjamin kesehatannya dan memiliki disiplin waktu yang baik sebelum kembali ke rumah pada malam hari. Memasuki usia remaja (SMP), tantangan lingkungan menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, sistem asrama penuh dipandang sebagai kebutuhan. 

YPPK Harus Mandiri

Sudah saatnya YPPK melakukan transformasi dalam tata kelola finansial. Ketergantungan pada bantuan eksternal (baik dari pemerintah maupun donatur) memiliki batasan dan risiko ketidakpastian. “Kalau mengandalkan dari bantuan, jika berhenti, maka tidak jalan. Maka, perlu dipikirkan unit-unit usaha untuk menghidupi YPPK,” usul Paul. 

Selain itu, Paul juga menyarankan untuk mengajarkan anak menjadi mandiri demi masa depan. 

Saran dari Paul Sudiyo ini adalah langkah nyata untuk memutus rantai ketergantungan dan membangun martabat manusia melalui jalur pendidikan yang berdaya.

Penulis : Adi Bangkit SJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here