Home Berita Alumni Kisah Para Guru Perintis di Bumi Cendrawasih

Kisah Para Guru Perintis di Bumi Cendrawasih

43
0
Romo Johanes Sudrijanto SJ (berbaju putih). Foto : Dok[ri.

JAKARTA – Sebuah trilogi buku menghadirkan wajah lain Bumi Cenderawasih. Bukan tentang kekerasan ataupun gejolak politik, melainkan kisah pengabdian para guru perintis yang selama puluhan tahun membangun pendidikan di daerah-daerah terpencil dengan semangat, cinta, dan pengorbanan.

Kisah tersebut diangkat dalam diskusi dan peluncuran trilogi buku tentang pendidikan Papua yang berlangsung di Media Center Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Acara yang didukung Penerbit Gramedia itu menghadirkan para penulis Bernada Rurit dan Pastor J. Sudrijanta, SJ, bersama tokoh pendidikan Papua Ignatius Adii, serta dua guru perintis, Suratmin dan Maria Eria, yang mengikuti diskusi secara daring.

Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang hadir dalam acara tersebut menilai trilogi buku ini memiliki makna yang sangat penting bagi dunia pendidikan Indonesia. “Buku ini muncul di tengah langka dan mahalnya idealisme pendidik,” ujarnya.

Menurut Mgr. Agustinus, masyarakat saat ini lebih membutuhkan teladan nyata daripada sekadar teori. “Manusia saat ini akan lebih mendengarkan saksi daripada pengajar,” katanya. Ia menjelaskan bahwa trilogi tersebut memuat tiga nilai utama yang menjadi fondasi pengabdian para guru perintis Papua.

Nilai pertama adalah kemartiran dan keteladanan, yakni kesaksian nyata para guru dan misionaris yang mengabdikan hidup mereka bagi pendidikan anak-anak Papua. Kedua, integritas dan idealisme, yang terlihat dari keteguhan para pendidik bertahan di tengah keterbatasan demi menyiapkan masa depan generasi Papua. Ketiga, kesetiaan dan daya tahan, yang tumbuh dari spiritualitas dan Pedagogi Ignasian sehingga mampu membuat para guru tetap setia sekalipun menghadapi berbagai tantangan.

“Cinta kepada anak-anak Papua melampaui keterbatasan, penderitaan, bahkan ancaman,” tambahnya.

Merekam Sejarah yang Hampir Hilang

Trilogi tersebut terdiri atas buku Kisah-Kisah Guru Perintis jilid 1 dan 2 yang merekam perjalanan para guru perintis pada periode 1962–1980, serta buku Hati yang Menyala di Ufuk Timur yang mengulas lahir dan berkembangnya konsep Sekolah Kesadaran berbasis Pedagogi Ignasian di Papua.

Bagi para penulis, proses penyusunan buku bukan pekerjaan mudah. Mereka harus berpacu dengan waktu untuk menemukan para saksi sejarah yang kini semakin sedikit. Penelusuran dilakukan hingga ke berbagai wilayah pedalaman Papua dengan medan yang berat dan penuh risiko.

Dalam proses tersebut, tim penulis bahkan sempat menghadapi situasi yang menegangkan ketika dihadang oknum warga yang membawa parang. Namun berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk menyelamatkan jejak sejarah pendidikan Papua yang selama ini nyaris terlupakan.

Papua yang Berbeda

Jurnalis senior Maria Hartiningsih memberikan apresiasi atas lahirnya trilogi buku tersebut. Menurutnya, riset lapangan yang dilakukan penulis merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena harus menggali kisah-kisah yang tersebar di wilayah terpencil.

“Proses penggalian data ini sangat sulit dan medannya berat,” ujarnya.

Maria menilai buku ini menghadirkan perspektif baru mengenai Papua. Di tengah berbagai narasi tentang konflik yang belakangan mengemuka, termasuk setelah masyarakat dihebohkan oleh film Pesta Babi, trilogi ini justru memperlihatkan sisi kemanusiaan yang selama ini jarang mendapat perhatian.

“Buku ini menjadi oase yang menampilkan sisi lain Papua,” katanya.

Menurutnya, kisah-kisah dalam buku tersebut merupakan dokumentasi sejarah kemanusiaan yang sangat berharga karena memperlihatkan bagaimana pendidikan dibangun melalui pengorbanan, kesetiaan, dan cinta yang tulus.

Warisan bagi Pendidikan Indonesia

Diskusi berlangsung selama dua jam dengan antusiasme peserta yang tinggi. Para narasumber tidak hanya membahas proses penulisan buku, tetapi juga membagikan pengalaman langsung mengenai perjuangan membangun pendidikan di pedalaman Papua.

Kesaksian para guru perintis yang hadir melalui Zoom memperlihatkan bahwa pendidikan tidak pernah sekadar soal ruang kelas, melainkan tentang keberanian untuk hadir bersama masyarakat, membangun harapan, dan mendampingi anak-anak di tengah berbagai keterbatasan.

Trilogi buku ini pada akhirnya tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah pendidikan Papua, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan Indonesia dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi. Dedikasi para guru perintis menjadi warisan moral yang menunjukkan bahwa cinta, integritas, dan kesetiaan mampu menembus segala keterbatasan.

Di balik berbagai tantangan yang selama ini melekat pada Papua, kisah para guru perintis menghadirkan harapan baru. Mereka membuktikan bahwa pengabdian yang tulus dapat menjadi cahaya bagi masa depan, sekaligus mengingatkan bangsa bahwa pendidikan selalu dimulai dari keberanian untuk melayani sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here