Nabire – Sejarah pendidikan Papua tidak lahir dari kemudahan. Jauh sebelum jalan raya menembus pegunungan, jaringan telekomunikasi menjangkau pedalaman, atau sekolah-sekolah berdiri megah seperti sekarang, para guru perintis telah lebih dahulu mengabdikan hidup mereka untuk membangun manusia di tengah keterbatasan. Semangat itulah yang kembali dihidupkan melalui peluncuran dan bedah tiga buku di SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq, Nabire, Selasa (14/7).
Ketiga buku tersebut adalah Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua Era 1962–1980 serta dua jilid Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit. Acara ini dihadiri sekitar seratus peserta, mulai dari guru-guru perintis beserta keluarga, tokoh pendidikan, imam Jesuit, guru dan siswa sekolah-sekolah YPPK, alumni Kolese Le Cocq, perwakilan Majelis Rakyat Papua (MRP), Seminari TOR, hingga masyarakat Nabire.
Lebih dari sekadar peluncuran buku, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang perjalanan panjang pendidikan Papua, sekaligus ajakan untuk meneruskan semangat para pendahulu yang telah meletakkan fondasi pendidikan di Tanah Papua.
Papua Dibangun Melalui Pendidikan
Penulis buku, J. Sudrijanta, SJ, menjelaskan bahwa tujuan penulisan buku bukan hanya mendokumentasikan sejarah, tetapi menghidupkan kembali praktik-praktik pendidikan terbaik yang pernah berkembang di Papua.
Menurutnya, setelah melakukan wawancara dengan banyak guru perintis, ia sampai pada sebuah keyakinan bahwa Papua pernah melahirkan guru-guru terbaik dengan praktik pendidikan yang luar biasa. Tantangan terbesar saat ini bukanlah menemukan teladan baru, melainkan mewariskan karakter dan pedagogi para guru tersebut kepada generasi pendidik masa kini.
Baginya, istilah guru perintis tidak sekadar menunjuk mereka yang datang lebih dahulu, melainkan mereka yang hadir ketika sistem pendidikan formal belum terbentuk dan tenaga pendidik masih sangat terbatas.
Pada masa-masa awal, guru-guru misionaris dari Maluku membuka sekolah-sekolah pertama di Fakfak, Kokonao, dan berbagai wilayah pesisir. Setelah itu hadir guru-guru misi, guru-guru MAWI, guru BUTSI, serta kemudian guru-guru Orang Asli Papua yang menjadi pelopor pendidikan di pedalaman.
Nama-nama seperti Christianus Paletimu, Christianus Rettop, Johanes Rejaan, Caspar Rettop, Meteray, Maturbongs, Lefinus Leisubun, Lukas You, Zakharias Petege, Lukas Dogomo, Filipus Douw, Mateus Iyai, dan banyak lainnya menjadi bagian dari sejarah besar pembangunan pendidikan Papua.
Salah satu kisah yang paling mengesankan adalah perjalanan Zakharias Petege. Pada usia 21 tahun, ia berjalan kaki selama sepuluh hari dari Timepa menuju Kokonao hanya untuk memulai pendidikan di kelas satu Sekolah Rakyat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Kokonao, Biak, dan Nabire, ia kembali ke kampung halamannya sebagai guru pada tahun 1969. Kisah itu menjadi simbol bahwa pendidikan Papua dibangun melalui perjuangan, bukan kemudahan.
Membaca Sejarah Secara Utuh
Dalam sesi bedah buku, Felex Degei mengajak peserta memahami perjalanan guru-guru perintis dalam konteks sejarah Papua antara tahun 1962 hingga 1980.
Menurutnya, para guru tersebut mengajar pada masa Papua mengalami perubahan politik yang sangat besar, mulai dari Perjanjian New York tahun 1962, pemerintahan sementara UNTEA, penyerahan administrasi kepada Indonesia pada 1 Mei 1963, hingga Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969.
Pada periode yang sama, pemerintah Indonesia mulai mengirim tenaga pendidik melalui program Badan Urusan Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI), sementara guru-guru misi yang telah hadir sejak dekade 1930-an tetap melanjutkan karya pendidikan bersama para misionaris. Sejak 1963, MAWI juga mengirim guru-guru perintis dari berbagai daerah, terutama Jawa Tengah.
Namun pembangunan pendidikan berlangsung di tengah situasi yang tidak mudah. Papua menghadapi dinamika politik, lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM), berbagai operasi keamanan, konflik bersenjata, hingga dimulainya pembangunan ekonomi melalui Kontrak Karya Freeport pada tahun 1967.
Di tengah situasi tersebut, para guru tetap memilih bertahan.
Mereka mengajar di daerah yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat perintis, hidup tanpa listrik, tanpa jaringan komunikasi, dengan fasilitas kesehatan yang minim, serta logistik yang terbatas. Bahkan dalam banyak kesempatan, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial.
Menurut Felex, karena itu kisah guru perintis bukan hanya sejarah pendidikan, melainkan bagian dari sejarah kemanusiaan Papua.
Dari Papua yang Terisolasi Menuju Papua yang Terhubung
Felex juga mengajak peserta melihat perubahan besar Papua selama lima dekade terakhir.
Pada awal tahun 1970-an hampir tidak ada jalan yang menghubungkan wilayah pegunungan dengan pesisir. Pesawat perintis menjadi urat nadi kehidupan karena mengangkut guru, obat-obatan, bahan makanan, surat, hingga pasien yang membutuhkan pertolongan medis.
Kini situasinya telah berubah. Jalan Trans Papua membuka konektivitas antardaerah, bandara berkembang menjadi pusat transportasi regional, jaringan telekomunikasi menjangkau banyak wilayah, fasilitas kesehatan bertambah, dan kesempatan memperoleh pendidikan hingga perguruan tinggi semakin luas.
Namun menurutnya, pembangunan fisik belum otomatis diikuti oleh pemerataan kualitas pendidikan.
Tantangan pendidikan Papua kini bukan lagi sekadar akses, tetapi peningkatan mutu guru, kualitas pembelajaran, relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat lokal, serta pemerataan layanan pendidikan di seluruh wilayah Papua.
Karena itu ia mengingatkan bahwa pembangunan manusia harus selalu mendahului pembangunan fisik.
Warisan Terbesar: Membangun Manusia
Sementara itu, Ignatius Robertus Adii menekankan bahwa warisan terbesar guru perintis bukanlah bangunan sekolah ataupun statistik pendidikan, melainkan semangat pengabdian yang membangun manusia.
Ia menggambarkan bagaimana para siswa dahulu berjalan kaki berjam-jam melewati pegunungan untuk bersekolah, belajar menggunakan batu sabak, bahkan masih mengenakan pakaian adat karena belum memiliki seragam.
Keterbatasan itu justru melahirkan kreativitas luar biasa.
Guru memanfaatkan alam sebagai ruang belajar. Sungai, hutan, pegunungan, flora, fauna, dan budaya lokal menjadi media pembelajaran yang kini dikenal sebagai contextual learning dan experiential learning.
Menurut Ignatius, keberhasilan pendidikan masa perintis juga ditopang oleh kemitraan yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, sementara disiplin dan integritas menjadi fondasi utama pembentukan karakter peserta didik.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda, seperti menurunnya integritas akademik, melemahnya keterlibatan orang tua, dan tekanan administratif yang sering menggeser perhatian dari kualitas pembelajaran.
Karena itu nilai-nilai yang diwariskan guru perintis—pengabdian, disiplin, kreativitas, keberanian, dan kedekatan dengan masyarakat—tetap relevan untuk menjawab tantangan pendidikan saat ini.
Papua sebagai Laboratorium Pendidikan
Dalam penutupnya, Romo J. Sudrijanta, SJ menyampaikan optimisme bahwa Papua tidak seharusnya dipandang sebagai daerah pinggiran.
Sebaliknya, Papua memiliki pengalaman pendidikan yang kaya dan dapat menjadi laboratorium inovasi pendidikan bagi Indonesia bahkan dunia.
Dari sekitar 320 anggota Serikat Yesus di Indonesia, hampir 80 orang pernah berkarya di Papua. Pengalaman mereka kemudian dihimpun dalam dua jilid buku Hati yang Menyala di Ufuk Timur, yang memperlihatkan bahwa karya pendidikan dan pastoral di Papua memang penuh tantangan, tetapi sekaligus menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga.
Ia juga menegaskan bahwa semangat guru perintis belum hilang. Hingga kini masih banyak guru di Asmat, Yahukimo, Waghete, Nabire, dan berbagai daerah lain yang terus mengabdi dengan dedikasi yang sama.
Karena itu, ia mengajak seluruh pendidik memegang tiga kata kunci yang diwariskan para guru perintis: karakter, pedagogi, dan konsistensi.
Peluncuran tiga buku tersebut akhirnya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mengajak generasi pendidik masa kini melihat kembali bahwa kemajuan pendidikan Papua dibangun oleh orang-orang yang berani hadir ketika tidak ada jalan, tidak ada fasilitas, dan tidak ada kepastian. Mereka membangun manusia terlebih dahulu, sebelum pembangunan fisik mengikuti.
Pesan itulah yang ingin diwariskan kepada generasi sekarang: pendidikan yang bermutu selalu berawal dari guru yang mengabdi dengan hati, menjunjung tinggi karakter, dan percaya bahwa setiap anak Papua berhak memperoleh masa depan yang lebih baik.



























