JAKARTA — Daniel Rudi Haryanto membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merekam ingatan tiga orang yang pernah menjadi tahanan politik akibat Operasi Trisula di Blitar Selatan, Jawa Timur. Ia mulai menggarap film dokumenter The Last Supper (Whisper) pada 2017 dan baru menyelesaikannya pada 2025.
Bagi Rudi, waktu menjadi persoalan penting. Para penyintas yang menjadi subjek film semakin lanjut usia, sementara pengalaman kekerasan yang mereka alami selama puluhan tahun belum banyak terdokumentasikan secara visual.
“Akibat operasi militer Trisula, mereka dan keluarga mereka mengalami penderitaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan,” kata Rudi dalam pemutaran dan diskusi The Last Supper (Whisper) yang diselenggarakan Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus (PRAKSIS) di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Film tersebut merekam kisah Markus Talam, 87 tahun, Suyatman, 76 tahun, dan Soekiman, yang meninggal pada 2020 dalam usia 72 tahun. Ketiganya merupakan petani yang dituduh sebagai simpatisan komunis dan ditahan tanpa proses pengadilan.
Rudi tidak sekadar merekam kesaksian mereka. Ia membangun film melalui perpaduan dokumentasi, animasi, desain suara, serta simbol-simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membawa penonton mendekati pengalaman traumatis para penyintas. Suasana film dibangun secara artistik agar pengalaman kekerasan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat dirasakan melalui ingatan personal para tokohnya.
Salah satu adegan penting dalam film adalah ketika ketiga penyintas berkumpul dalam sebuah “santap malam terakhir”. Mereka berbicara dengan suara berbisik tentang pengalaman masing-masing. Percakapan itu tidak selalu berjalan lancar. Terkadang muncul tetesan air mata.
Melalui adegan tersebut, Rudi memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya.
Trauma yang Bertahan Puluhan Tahun
Operasi Trisula berlangsung di Blitar Selatan pada 1968. Dalam operasi tersebut, ribuan warga sipil ditangkap dan disiksa tanpa proses hukum. Sebagian besar korban merupakan petani yang dituduh sebagai simpatisan komunis.
Talam menjalani sekitar satu dekade kerja paksa di kamp konsentrasi Pulau Buru. Sementara Suyatman dan Soekiman dibebaskan setelah mengalami penyiksaan di penjara Blitar.
Namun, pembebasan mereka tidak serta-merta mengakhiri persoalan. Surat yang diterima para penyintas disebut “Surat Pelepasan Sementara”, bukan surat pembebasan penuh.
Dampaknya berlangsung jauh setelah mereka keluar dari penjara.
Bagi Talam, misalnya, suara harmoni gamelan dapat membangkitkan kembali ingatan tentang gedoran pintu rumahnya oleh aparat militer. Suyatman masih dibayangi kisah Goa Tikus, tempat saudara perempuannya bersama puluhan warga lain disebut dieksekusi.
Trauma itu juga berkelindan dengan stigma sosial. Para penyintas dan keluarganya disebut mengalami stigma sebagai orang yang “tidak bersih lingkungan”. Kesempatan bekerja di instansi pemerintah tertutup. Tanah, kebun, dan aset keluarga mereka juga disebut dirampas.
Menurut Rudi, persoalan tersebut belum sepenuhnya berakhir.
“Mereka dipandang tidak bersih lingkungan; keluarga mereka tak dapat bekerja pada instansi pemerintah,” ujar Rudi.
Ia mengatakan sejumlah aset keluarga korban juga hilang. “Tanah, kebun, dan aset keluarga mereka banyak yang dirampas dan digunakan untuk fasilitas umum atau tempat tinggal orang lain,” katanya.
Film untuk Mereka yang Tak Terdokumentasikan
Rudi mengatakan film ini didedikasikan kepada tiga korban yang menjadi subjek utama sekaligus kepada korban lain dari kekerasan negara terhadap masyarakat sipil.
Ia melihat pembuatan film sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan. Para penyintas yang masih hidup kini semakin lanjut usia. Karena itu, pengalaman mereka berisiko hilang apabila tidak dicatat.
Ketiga tokoh dalam film menjadi semacam pintu masuk untuk melihat pengalaman lebih luas para korban Operasi Trisula. Mereka tidak hanya berbicara tentang penahanan dan penyiksaan, tetapi juga tentang kehidupan setelah keluar dari penjara: trauma, stigma, kehilangan aset, serta dampaknya terhadap keluarga.
Rudi memilih bentuk dokumenter yang tidak semata-mata mengandalkan wawancara. Animasi dan desain suara digunakan untuk membangun kembali suasana batin para penyintas. Simbol-simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan juga menjadi bagian dari bahasa visual film.
Pendekatan itu sekaligus membuat pengalaman para penyintas dapat disampaikan tanpa menghilangkan jarak antara sejarah dan pengalaman personal.
Dari Yogyakarta ke Prancis
The Last Supper (Whisper) pertama kali diputar di Jogja-NETPAC Film Festival pada 2025. Pada April 2026, film tersebut ditayangkan dalam Festival International de Cinéma Asiatique de Tours (FICAT) di Prancis dan meraih predikat Best Film.
Rudi merupakan sutradara alumnus Institut Kesenian Jakarta. Ia juga pernah meraih Directors Guild of Japan Award dalam Yamagata International Documentary Film Festival serta penghargaan di CinemAsia Amsterdam.
Namun, perjalanan film ini bagi Rudi bukan semata perjalanan menuju festival film.
Di balik penghargaan dan pemutaran di berbagai tempat, ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana pengalaman orang-orang yang pernah mengalami kekerasan dapat tetap hadir dalam ingatan publik.
Para penyintas Operasi Trisula semakin tua. Sebagian pengalaman mereka mungkin akan ikut hilang ketika mereka meninggal. Film Rudi menjadi salah satu cara untuk menahan proses tersebut—merekam suara mereka sebelum benar-benar menjadi bagian dari masa lalu.
Dalam The Last Supper (Whisper), suara itu memang tidak selalu terdengar keras. Tiga lelaki lanjut usia berbicara dalam bisikan. Tetapi dari bisikan tersebut muncul kisah tentang penangkapan, penyiksaan, kehilangan, stigma, dan penantian panjang atas keadilan.











