Home Kajian Membuat Pilihan Ekologis dan Tradisi Pergulatan-Pemikiran STF Driyarkara Terkini

Membuat Pilihan Ekologis dan Tradisi Pergulatan-Pemikiran STF Driyarkara Terkini

9
0

Pada tahun-tahun ketika saya kuliah dan bergulat dalam kerja Senat Mahasiswa STF Driyarkara, buku-buku terjemahan Obor sangat populer. Beberapa teman dalam WAG ini bahkan pernah aktif di dalamnya. Pada masa itu, buku-buku tersebut dibaca dengan sangat kritis, terutama karena kami sedang berhadapan dengan kejumudan perikehidupan. Saya menduga, semangat dan pengalaman itu masih sangat relevan untuk situasi kita saat ini.

Salah satu buku terjemahan yang banyak dibaca adalah Asal-usul Totaliterisme karya Hannah Arendt. Buku ini merupakan salah satu dari tiga seri besar Arendt mengenai totaliterisme. Di dalamnya dibahas bagaimana “prasangka” dapat menjadi instrumen politik. Prasangka, terutama prasangka yang berciri menolak orang lain, dapat digunakan secara sengaja untuk mengamankan sebuah rezim. Di kemudian hari, Amartya Sen menulis Identity and Violence, yang kurang lebih memiliki nada pemikiran yang sama.

Hannah Arendt secara khusus juga “menunjuk hidung” institusi Gereja Katolik yang, dalam konteks tertentu, ikut menyuburkan antipati terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan orang Yahudi. Peristiwa Dreyfus, misalnya, selalu muncul dalam pembahasan mengenai situasi tersebut. Para petinggi Gereja Katolik juga memiliki peran yang unik sekaligus aneh dalam rangkaian peristiwa yang kemudian berujung pada Holocaust di Eropa.

Edith Stein—yang sementara ini sedang saya tulis—sudah memperingatkan bahwa peristiwa Kristallnacht hanyalah permukaan yang memperlihatkan wujud lebih dalam dari rasisme dan rasialisme.

Saya membayangkan bahwa saat ini para pemimpin Gereja Katolik pun tidak serta-merta terbebas dari kemungkinan semacam itu. Berbagai kekerasan yang muncul dari prasangka—misalnya prasangka tentang “tanah kosong”, prasangka terhadap “komunis”, atau prasangka terhadap “radikal”—dulu maupun sekarang tetap saja prevalen. Problem ekologis bahkan kini menjadi lapangan baru bagi berkembangnya berbagai prasangka tersebut.

Dalam situasi kejumudan seperti itu, di mana tradisi pergulatan-pemikiran STF Driyarkara menjadi relevan?

Saya ingin mengambil kembali pengalaman yang dulu saya merasa beruntung mengalaminya: pengalaman membaca pemikiran-pemikiran kritis, baik dari Eropa maupun dari berbagai kawasan dan masyarakat politik di dunia. Saya juga melihat pengalaman semacam ini sebagai salah satu alasan untuk tetap optimis.

Alasan optimis pertama adalah bahwa se-total apa pun sebuah prasangka berusaha memaksakan dirinya, kenyataan hidup tetaplah beragam dan unik.

Ini bukan berarti tidak ada titik temu di antara manusia. Sebaliknya, kita perlu memahami bahwa manusia dapat mengalami kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing. Tolstoy, menurut saya, tidak sepenuhnya tepat ketika mengatakan bahwa “happy families are all alike”. Kehidupan manusia justru memperlihatkan begitu banyak keragaman.

Fokus pada prasangka total tentu saja tidak salah. Namun, fokus pada keragaman kehidupan jauh lebih bermakna. Fokus semacam itu mungkin tidak langsung memecahkan masalah, tetapi dapat membuka puluhan, bahkan ratusan, kemungkinan mengenai bagaimana manusia dapat hidup dan menemukan kebahagiaan.

Dalam konteks ini, pergulatan pemikiran STF Driyarkara juga mendorong para pemelajar untuk mencari berbagai kemungkinan agar orang Indonesia dapat mengalami kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing.

Alasan optimis kedua adalah adanya pemahaman bahwa membuat pilihan merupakan salah satu ciri kemanusiaan manusia.

Membuat pilihan—termasuk memilih untuk bahagia dengan cara tertentu—memperkaya kemanusiaan Indonesia. Hannah Arendt, selain mengkritik totaliterisme, juga mengangkat tema “membuat pilihan” dalam banyak tulisannya.

Bahkan, dalam banyak situasi, membuat pilihan merupakan bagian penting dari survival. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, dalam pengalaman dan pemikiran Bonhoeffer, Kartini, Samin Surantikno, Milovan Djilas, dan banyak lainnya.

Membuat pilihan dengan demikian bukan sekadar tindakan personal. Ia mempunyai makna survival.

Alasan optimis ketiga adalah bahwa membuat pilihan juga membawa pemelajar semakin dekat pada tantangan ekologis.

Di mana hubungan antara keduanya?

Kenyataan Nusantara (archipelagic reality) memberikan kesadaran dan pengetahuan kepada masyarakat Nusantara dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meskipun manusia Indonesia saat ini banyak yang hidup di kota, jejak kenyataan kepulauan ini tidak sepenuhnya hilang.

Bahasa, misalnya, memperlihatkan hal tersebut dengan sangat jelas. Manusia Indonesia dipaksa untuk berinteraksi dan berpikir—mengalami proses mental—dalam keragaman bahasa. Kalau tidak, ia akan kesulitan bahkan hanya untuk berjalan-jalan dan memahami tempat lain.

Dalam proses memahami orang tua, masyarakat, dan lingkungan hidupnya, membuat pilihan pada saat yang sama juga berarti memberikan kontribusi terhadap cara kita mengelola ekologi.

Saya sebenarnya tergoda untuk membahas “gagal paham” sebagian pimpinan Gereja Katolik mengenai tantangan ekologis. Namun, saya tidak melihat bahwa para pemimpin tersebut merupakan penentu segala-galanya.

Dalam ensiklik Laudato Si’, dirumuskan gagasan mengenai “membuat pilihan” sebagai semacam multi-species recognition: manusia mengakui bahwa perkelindan antara survival dan entropi melekat pada kenyataan hidup manusia—terlebih manusia Indonesia.

Perampasan ekosistem, tentu saja, mempercepat peluruhan ekosistem. Dan ketika peluruhan itu berlangsung, survival manusia pun semakin dipersingkat.

Dalam konteks ini, saya seharusnya menyebut Romo Driyarkara dan beberapa butir penting pemikirannya. Romo Driyarkara berbicara mengenai “pemanusiaan manusia”, mengenai manusia yang mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada spesies lain karena manusia memiliki kemampuan yang lebih besar untuk membuat pilihan.

Karena itu, membuat pilihan ekologis sesungguhnya merupakan salah satu ciri kemanusiaan manusia.

Dengan sekitar 500—dan sudah pasti lebih—komunitas lokal dan adat di Indonesia yang hidup secara unik, sebenarnya ada sekitar 500 kemungkinan untuk menjadi manusia Indonesia. Ada 500 kemungkinan bagi individu dan komunitas untuk membuat pilihan bagi diri mereka sendiri.

Kalau saya hanya mengetahui tiga kemungkinan di antaranya, itu sudah merupakan capaian maksimal yang dapat saya usahakan. Namun, sebagai sebuah kebersamaan STF Driyarkara, saya menduga kita akan segera memahami dan mengalami jauh lebih banyak kemungkinan dalam membuat pilihan secara unik.

Membuat pilihan, dengan demikian, juga menjadi ciri kebersamaan STF Driyarkara.

Dan membuat pilihan ekologis adalah pengalaman yang paling dekat dengan pergulatan dan pemikiran ke-Driyarkara-an.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here