
JAKARTA — Provinsial Serikat Yesus Indonesia, Romo Benediktus Hari Juliawan SJ, yang akrab disapa Romo Beni, menyoroti kecenderungan orang muda yang semakin menjauh dari dunia politik dan kewargaan. Salah satu penyebabnya, menurut dia, adalah tersedotnya bakat-bakat terbaik kaum muda ke sektor-sektor yang menjanjikan keuntungan ekonomi, sementara ruang publik dan politik kehilangan talenta penting.
Hal tersebut disampaikan Romo Beni dalam sambutan pada peringatan ulang tahun pertama PRAKSIS, Lembaga Riset dan Advokasi Serikat Yesus, di Hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta, Sabtu (13/12/2025).
Dalam sambutannya, Romo Beni mengisahkan pengalamannya mengikuti kuliah tahunan Reith Lectures yang disiarkan BBC Radio 4. Tahun ini, kuliah tersebut dibawakan oleh sejarawan muda asal Belanda, Rutger Bregman, yang mengajukan pertanyaan mendasar tentang rendahnya minat orang muda terjun ke politik.
“Rutger Bregman menyebut fenomena ini sebagai the Bermuda Triangle of Talent,” kata Romo Beni. Istilah tersebut merujuk pada kecenderungan orang-orang muda yang cerdas dan berbakat lebih memilih berkarier di tiga bidang utama, yakni konsultan, keuangan, dan hukum, karena faktor penghasilan.
Akibatnya, banyak talenta muda “tenggelam” di sektor-sektor tersebut dan tidak tertarik terlibat dalam politik atau menjadi warga negara yang peduli (concerned citizens). “Benar atau salah, dugaan ini kita jawab sendiri,” ujar Romo Beni.
Selain itu, Romo Beni juga menyoroti fenomena cancel culture yang berkembang di kalangan orang muda, terutama di media sosial. Meski sering dipandang sebagai alat kritik politik, cancel culture, menurutnya, memiliki dampak lain yang patut diwaspadai.
“Cancel culture mempersempit ruang pembicaraan,” kata Romo Beni. Praktik membatalkan atau menyingkirkan pihak yang berbeda pendapat dinilai berpotensi mengikis kemampuan bernegosiasi dan berkompromi, yang justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan demokratis.
Ia menjelaskan bahwa kecenderungan hanya berinteraksi dengan orang-orang yang sepenuhnya sependapat membuat lingkaran pergaulan semakin sempit. Dalam kondisi seperti itu, upaya membangun koalisi dan dialog lintas perbedaan menjadi semakin sulit.
Meski demikian, Romo Beni menegaskan pentingnya menjaga harapan dan komitmen untuk tetap berpolitik secara etis. “Berpolitik, bagi saya, adalah keyakinan bahwa tindakan kita ini bisa mengubah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap PRAKSIS dapat terus menjadi ruang refleksi, riset, dan gerakan yang memelihara harapan akan perubahan sosial di tengah tantangan demokrasi Indonesia.
Temuan Penelitian PRAKSIS: Aspirasi Ada, Kanal Partisipasi Terbatas
Dalam kesempatan yang sama, para peneliti PRAKSIS yang dikoordinatori oleh Romo Angga Indraswara SJ, dengan dukungan Andi Suryadi dan Maria Rosiana Sedjahtera, memaparkan hasil penelitian mengenai keterlibatan politik warga muda Jakarta.
Penelitian kuantitatif ini dilakukan melalui survei terhadap 400 responden berusia 16–30 tahun di DKI Jakarta, yang dilengkapi dengan diskusi kelompok terarah (FGD) untuk memperdalam pemahaman atas pengalaman dan persepsi responden.
Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks keterlibatan politik di kalangan warga muda. Di satu sisi, mereka memiliki kepedulian dan aspirasi terhadap isu-isu publik. Namun, di sisi lain, mereka mengalami keterbatasan dalam menemukan kanal partisipasi politik yang aman, efektif, dan bermakna.
Penelitian PRAKSIS mencatat bahwa sebagian besar warga muda Jakarta tidak terlibat dalam institusi politik formal, seperti partai politik atau organisasi politik. Hampir seluruh responden tidak memiliki afiliasi politik. Partisipasi politik mereka umumnya terbatas pada penggunaan hak pilih saat pemilu dan keterlibatan di media sosial.
Media sosial menjadi sumber utama informasi politik bagi warga muda. Namun, keterlibatan di ruang digital ini juga diwarnai keraguan dan rasa takut, terutama terkait risiko perundungan daring, serangan buzzer, serta kekhawatiran terhadap dampak hukum. Akibatnya, partisipasi politik kerap bersifat minimal dan episodik.
Penelitian juga menemukan bahwa kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang membatasi keterlibatan politik warga muda. Tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak warga muda menempatkan politik sebagai urusan yang jauh dan tidak mendesak, meskipun mereka menyadari pentingnya peran politik dalam kehidupan bersama.
Di tengah keterbatasan kanal partisipasi formal, aspirasi politik warga muda sering dialihkan ke aktivitas sosial, dukungan terhadap isu-isu yang viral, serta ekspresi simbolik di ruang digital. Namun, tanpa dukungan institusi dan penguatan kapasitas kewargaan, aspirasi tersebut jarang berkembang menjadi keterlibatan politik yang berkelanjutan.
Risiko Frustrasi Demokrasi
Menurut PRAKSIS, kondisi ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan apatisme individual. Fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara pengalaman hidup warga muda, posisi sosial-ekonomi mereka, serta struktur demokrasi Indonesia yang masih didominasi oleh elite.
Ketika aspirasi politik tidak menemukan saluran institusional yang memadai, risiko yang muncul adalah frustrasi politik, yang dalam jangka panjang dapat memicu mobilisasi spontan yang tidak terkelola. Situasi ini dinilai berpotensi membahayakan keberlanjutan demokrasi.
Menutup pemaparannya, PRAKSIS menegaskan bahwa warga muda Jakarta bukanlah kelompok yang tidak peduli, melainkan warga yang hidup di tengah demokrasi yang belum sepenuhnya menyediakan ruang partisipasi yang adil, aman, dan bermakna.




























