JAKARTA – Sejumlah individu, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok mahasiswa dan pemuda menggelar Aksi Solidaritas dan Doa Bersama untuk korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Senin (19/10/2026). Aksi yang berlangsung di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat tersebut juga menyuarakan solidaritas bagi masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua.

Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara turut terlibat dalam inisiasi aksi tersebut. Melalui ketuanya, Kristian Frederiko Tepong, yang kerap disapa Riko atau Frater Riko, para mahasiswa menyerukan pentingnya solidaritas nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana ekologis.

Riko menegaskan bahwa penderitaan masyarakat di wilayah terdampak tidak boleh diabaikan. Ia mengajak masyarakat untuk mengerahkan berbagai sumber daya, gagasan, dan upaya guna membantu para korban.

“Kami dari teman-teman mahasiswa yang suaranya tak akan padam amarahnya mengajak kita semua untuk bersolider dengan saudara-saudara kita di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Kerahkanlah segenap tenaga, usaha, dan ide kita untuk menyalurkan bagi mereka bantuan yang ada,” ujar Riko.

Menurut dia, situasi yang dihadapi masyarakat di wilayah terdampak menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan. Ia menyayangkan penderitaan warga yang dinilai belum mendapatkan perhatian memadai dari para pengambil kebijakan.

“Sebab, hari-hari ini kemanusiaan kian miris dan duka masyarakat rasa-rasanya sulit untuk didengar oleh mereka yang mengampu kebijakan,” katanya.

Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Dalam pernyataannya, Riko secara khusus meminta pemerintah Indonesia segera menetapkan bencana yang terjadi sebagai bencana nasional. Ia juga mendesak penghentian berbagai tindakan yang menindas masyarakat dan merusak lingkungan.

“Dengan hormat kami meminta agar segera tetapkan bencana ini menjadi bencana nasional. Hentikan seluruh penindasan yang dilakukan semena-mena, selamatkan bumi dan saudara-saudara kami di dan dari debu – baik debu kesombongan, egoisme, dan eksploitatif yang telah diciptakan dengan serampangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan bencana ekologis membutuhkan kesatuan sikap dan tindakan dari berbagai pihak. Menurut dia, pemerintah dan masyarakat perlu mengesampingkan kepentingan masing-masing demi keselamatan warga serta pemulihan lingkungan.

Riko juga mendorong pelibatan lebih banyak ahli dan pihak terkait untuk menangani persoalan tersebut secara menyeluruh. Ia menilai, penanganan bencana tidak cukup dilakukan dengan respons sesaat, tetapi membutuhkan kebijakan yang cermat dan berpihak kepada masyarakat terdampak.

“Kami berharap agar semakin banyak pihak dan ahli yang dilibatkan untuk turun dan mengatasi masalah yang ada. Ini bukan lagi persoalan orang-orang di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Ini persoalan kita bersama,” katanya.

Karena itu, ia meminta para pengambil kebijakan mengambil langkah konkret untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Upaya tersebut, menurut dia, harus melibatkan berbagai pihak agar penanganan bencana dan pemulihan lingkungan dapat berjalan secara efektif.

Solidaritas untuk Masyarakat dan Bumi

Lebih lanjut, Riko mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai peristiwa sepele. Masyarakat yang terdampak membutuhkan dukungan nyata, baik melalui bantuan langsung maupun kepedulian yang berkelanjutan.

“Dan sekali lagi, ini tak bisa kita anggap peristiwa sepele. Saudara-saudara kita di sana tengah membutuhkan usaha [bantuan] kita. Mari kita dukung dan bantu mereka dengan berbagai cara,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menyampaikan doa dan menunjukkan solidaritas kepada warga yang terdampak, sekaligus mendukung pemulihan lingkungan yang rusak.

“Dan tunjukkan pula bagi mereka doa dan rasa solider kita agar saudara-saudara kita dan ibu bumi yang tengah terluka ini dapat pulih kembali,” katanya.

Melalui aksi solidaritas dan doa bersama tersebut, para mahasiswa dan kelompok masyarakat yang terlibat menyuarakan pesan bahwa bencana ekologis bukan semata-mata persoalan daerah tertentu. Dampaknya menyangkut tanggung jawab bersama untuk melindungi kehidupan manusia, menjaga kelestarian lingkungan, dan mendorong kebijakan yang berpihak pada keselamatan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here