JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak membuat kemampuan manusia menjadi kurang penting. Sebaliknya, ketika AI semakin mengambil alih pekerjaan rutin dan berulang, kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, penilaian etis, empati, dan kemampuan membangun relasi justru dinilai semakin menentukan keberhasilan seseorang maupun organisasi.
Temuan tersebut terungkap dalam The Cognition Index Research Report, hasil riset WSJ Intelligence bersama Philip Morris International (PMI), yang melibatkan 2.507 profesional bisnis di Amerika Serikat, Inggris, Italia, Afrika Selatan, dan Brasil.
Survei dilakukan pada 26 Februari hingga 13 April 2026 dan melibatkan responden dari berbagai sektor, antara lain teknologi, jasa keuangan, manufaktur dan media, serta berbagai jenjang organisasi, mulai dari pimpinan senior hingga pekerja tingkat awal.
Laporan itu menunjukkan adanya sebuah paradoks dalam perkembangan AI. Semakin canggih teknologi, semakin tinggi pula nilai sejumlah kemampuan yang secara khas dimiliki manusia.
Para profesional menempatkan berpikir strategis, pemecahan masalah kompleks, kepemimpinan, kecerdasan emosional, kreativitas dan kemampuan menilai secara etis sebagai keterampilan penting untuk tetap relevan di tempat kerja yang semakin dipengaruhi AI.
AI mengambil pekerjaan rutin, manusia mengerjakan pekerjaan bernilai tinggi
Salah satu peluang yang terlihat dari penggunaan AI adalah berkurangnya beban pekerjaan rutin dan berulang. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk pekerjaan tersebut dapat dialihkan untuk pekerjaan yang lebih strategis dan membutuhkan kemampuan manusia.
Namun, peralihan tersebut tidak otomatis terjadi.
Laporan menemukan bahwa kemampuan seperti penilaian moral dan etika, empati serta membangun kepercayaan dianggap sebagai karakteristik manusia yang paling sulit direplikasi AI. Karena itu, kemampuan tersebut perlu secara sengaja dipelihara dan dikembangkan ketika organisasi mengadopsi teknologi baru.
Temuan lain menunjukkan kuatnya kepercayaan profesional terhadap intuisi manusia dalam pekerjaan kreatif. Sebanyak 62 persen responden mengatakan intuisi manusia seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pekerjaan kreatif seperti branding, konsep kampanye dan desain produk. Hanya 12 persen yang menilai hasil buatan AI seharusnya lebih diutamakan.
Dalam pekerjaan yang lebih berbasis data, manusia juga masih dianggap perlu memegang kendali. Sebanyak 50 persen responden mengatakan intuisi manusia harus mendapat prioritas dibanding rekomendasi AI dalam tugas seperti analisis pasar. Sekitar 30 persen menganggap keduanya perlu diberi bobot yang sama, sementara hanya sekitar 20 persen yang memberikan prioritas kepada AI.
Artinya, kemampuan AI dalam memproses data dengan cepat tidak serta-merta menggantikan manusia dalam menentukan apa yang relevan, mempertanyakan asumsi atau mengambil keputusan.
Ancaman baru: manusia berhenti berpikir
Di balik berbagai peluang tersebut, laporan juga memperingatkan risiko yang disebut sebagai cognitive atrophy, atau kemunduran kemampuan kognitif akibat terlalu bergantung pada teknologi.
Ketika AI semakin mudah memberikan jawaban yang cepat dan tampak meyakinkan, manusia berpotensi mengambil jalan paling mudah: menerima hasil yang diberikan tanpa memeriksa, mempertanyakan atau mencari sudut pandang lain.
Survei menemukan bahwa 29 persen responden menyebut kemunduran kemampuan manusia sebagai kekhawatiran terbesar mengenai masa depan kemampuan manusia di tengah perkembangan AI. Kekhawatiran lain meliputi hilangnya keterampilan praktis akibat ketergantungan berlebihan pada AI, penyebaran misinformasi yang dihasilkan AI dan menurunnya kemampuan mempertahankan perhatian.
Berpikir kritis menjadi perhatian khusus. Kemampuan tersebut dinilai sebagai salah satu keterampilan manusia yang paling penting, tetapi sekaligus termasuk yang paling berisiko mengalami erosi dalam lingkungan kerja yang semakin didominasi AI.
Kekhawatiran ini bahkan lebih kuat di kalangan pekerja tingkat awal. Sebanyak 70 persen pekerja entry-level khawatir kehilangan kemampuan menulis atau bahkan mengartikulasikan pikiran mereka, dibandingkan 61 persen pada kelompok eksekutif senior.
Digunakan luas, tetapi belum sepenuhnya dipercaya
Persoalan lain yang muncul adalah kesenjangan antara penggunaan AI dan kepercayaan terhadap hasil AI.
Sekitar tujuh dari sepuluh profesional percaya AI akan memberikan dampak positif terhadap kualitas keputusan bisnis dalam lima tahun mendatang. Namun, kepercayaan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam penggunaan AI sehari-hari.
Sebagai contoh, 83 persen responden menggunakan AI untuk menganalisis data, tetapi hanya 57 persen yang mempercayai hasilnya tanpa pemeriksaan manusia secara menyeluruh. Kesenjangan serupa muncul dalam berbagai aktivitas, termasuk riset, kreativitas, pemrograman, penulisan dan otomatisasi data.
Kesenjangan kepercayaan juga muncul antarjenjang organisasi. Para eksekutif senior cenderung lebih percaya kepada AI dibandingkan pekerja tingkat menengah dan pemula. Dalam penggunaan AI untuk inspirasi kreatif, misalnya, terdapat kesenjangan kepercayaan 12 poin antara pekerja senior dan entry-level. Untuk kode yang dihasilkan AI, kesenjangannya mencapai 14 poin.
Salah satu persoalannya adalah belum adanya mekanisme verifikasi yang jelas. Hanya sekitar satu dari empat responden mengatakan perusahaan mereka memiliki proses yang jelas untuk memverifikasi hasil AI. Di kalangan eksekutif senior, 30 persen mengatakan perusahaan mereka sudah memiliki protokol pemeriksaan fakta yang jelas. Angka tersebut turun menjadi 17 persen pada pekerja tingkat menengah dan 19 persen pada pekerja entry-level.
Empati dan kreativitas menjadi semakin berharga
Laporan juga menunjukkan bahwa kemampuan manusia yang selama ini dianggap penting tidak akan kehilangan nilainya ketika AI berkembang. Justru sebaliknya, hampir seluruh kemampuan manusia yang diukur dalam survei diperkirakan semakin penting dalam tiga tahun mendatang.
Creative empathy, atau empati kreatif, mencatat peningkatan nilai terbesar, yakni 13 persen hingga 2029. Kemampuan beradaptasi, ketangguhan dan akuntabilitas personal juga diproyeksikan semakin penting.
Namun, terdapat persoalan menarik: kemampuan yang dipandang semakin penting tersebut justru merupakan kemampuan yang paling dikhawatirkan akan tergerus oleh penggunaan AI.
Berpikir kritis menempati posisi teratas sebagai kemampuan yang berisiko mengalami erosi, disusul empati kreatif dan kreativitas.
Karena itu, tantangan organisasi bukan sekadar mengajarkan karyawan cara menggunakan AI. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan lingkungan kerja yang membuat manusia tetap berpikir, bertanya, berdiskusi, berkolaborasi dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan bersama AI.
AI sebagai mitra, bukan pengganti manusia
Laporan merekomendasikan agar organisasi menggunakan AI sebagai sarana untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya.
Sebanyak 42 persen responden menilai mentoring selama masa transisi teknologi perlu menjadi prioritas. Praktik seperti pemecahan masalah secara berkelompok, perhatian terhadap akurasi fakta dan pengembangan kemampuan manusia dinilai penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Bagi para profesional sendiri, membangun hubungan dengan tingkat kepercayaan tinggi dan mempertajam kemampuan membedakan, menilai serta mengambil keputusan menjadi tindakan yang dianggap sangat penting. Demikian pula dengan memanfaatkan waktu yang dihemat oleh AI untuk pekerjaan strategis.
Dengan demikian, pertanyaan utama bagi organisasi bukan lagi apakah AI perlu digunakan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana AI digunakan tanpa membuat manusia kehilangan kemampuan yang justru paling dibutuhkan untuk mengarahkan teknologi tersebut.
Laporan Cognition Index menyimpulkan bahwa masa depan bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat organisasi mengadopsi AI. Keberhasilan akan bergantung pada kemampuan organisasi membangun lingkungan di mana teknologi memperkuat kecerdasan manusia, bukan menggantikannya.
AI dapat mengambil alih pekerjaan rutin dan membantu manusia bekerja lebih efisien. Tetapi kreativitas, penilaian, empati, rasa ingin tahu, kemampuan mempertanyakan asumsi dan tanggung jawab manusia tetap menjadi fondasi bagi inovasi dan pengambilan keputusan yang baik.











