Home Berita Alumni Caritas Indonesia Mobilisasi Respons Gereja Secara Nasional Menyusul Gempa M7,7 di Flores

Caritas Indonesia Mobilisasi Respons Gereja Secara Nasional Menyusul Gempa M7,7 di Flores

167
0

JAKARTA — Caritas Indonesia memobilisasi jaringan kemanusiaan Gereja Katolik di berbagai keuskupan sebagai respons terhadap gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu pagi dan memicu tsunami serta menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah.

Gempa terjadi pada pukul 04.58.24 WIB, dengan episentrum sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa tersebut memicu tsunami, dengan perubahan muka air laut tertinggi tercatat 0,94 meter di Maurole, Ende. Peringatan dini tsunami kemudian secara resmi dinyatakan berakhir pada pukul 07.31.30 WIB, setelah berlangsung sekitar dua jam 33 menit.

Guncangan gempa dilaporkan terasa kuat di seluruh Pulau Flores serta sebagian wilayah Sumba, Adonara, dan Solor. Wilayah Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka, Manggarai, dan Manggarai Barat menjadi wilayah yang diprioritaskan untuk dilakukan asesmen lebih lanjut. Hingga batas waktu pelaporan, data resmi yang terkonsolidasi mengenai korban jiwa, korban luka, pengungsi, dan kerusakan rumah masih dalam proses verifikasi.

Berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada 15 Agustus sore, 38 orang dilaporkan meninggal dunia. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah infrastruktur, termasuk Pelabuhan Lorenz Say yang dilaporkan ambruk dan Terminal Penumpang Pelni di Maumere. Kerusakan rumah dan bangunan publik serta kemungkinan longsoran batu juga dilaporkan, namun masih dalam proses verifikasi.

Caritas Mengaktifkan Respons Gereja

Caritas Indonesia segera melakukan koordinasi dengan Keuskupan Ruteng, Labuan Bajo, Kupang, Maumere, dan Ende untuk memantau situasi dan melakukan asesmen dampak di wilayah masing-masing.

“Caritas Indonesia merespons dengan cepat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan Gereja Katolik Indonesia,” kata Romo Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Sabtu (15/08/2026).

Ia mengatakan, Caritas telah melakukan koordinasi dengan tim Caritas keuskupan dan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) untuk memastikan respons awal dapat segera dilakukan.

“Hari ini mobilisasi relawan dan tim Caritas di setiap keuskupan sudah berjalan, termasuk memberikan bantuan dan mendukung proses evakuasi bagi masyarakat yang terdampak gempa,” tambahnya.

Respons tersebut dilakukan dalam semangat “One Church, One Response”, dengan menggerakkan berbagai komponen Gereja untuk bekerja sama dalam semangat persaudaraan dan solidaritas.

“Caritas menggerakkan semua komponen Gereja untuk bekerja sama, membangun sinergi dan saling membantu agar dapat merespons situasi kemanusiaan secara cepat dan efektif serta menjangkau umat dan masyarakat yang terdampak,” ujar Romo Fredy.

Paroki-Paroki Turut Dimobilisasi

Gereja lokal di setiap keuskupan terdampak, dengan dukungan para uskup, juga mendorong paroki-paroki untuk mengambil peran aktif dalam respons darurat.

Menurut laporan situasi Caritas, setiap paroki diminta melakukan koordinasi dan mengumpulkan informasi mengenai dampak bencana di wilayah masing-masing untuk kemudian disampaikan ke tingkat keuskupan.

Di Keuskupan Ruteng, misalnya, Caritas telah melakukan evakuasi pasien dari RSUD setempat dan mendirikan tenda darurat bagi para pasien sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan dan kemungkinan kerusakan bangunan rumah sakit.

Caritas Indonesia juga mengaktifkan Karina Emergency Response Network (KERNET) melalui grup WhatsApp sebagai pusat koordinasi informasi dan respons darurat jaringan Caritas.

Setelah melakukan koordinasi dengan seluruh keuskupan di NTT, Caritas Indonesia memutuskan untuk menjalankan respons melalui jaringan Caritas Indonesia secara nasional dan mengaktifkan Dana APP Tanggap Darurat Nasional. Caritas Indonesia juga mengaktifkan Crisis Response Team (CRT) Keuskupan Maumere untuk mendukung respons di Kabupaten Sikka.

Kebutuhan Mendesak

Asesmen awal jaringan Caritas mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak, antara lain dukungan evakuasi dan keselamatan, air bersih, makanan siap saji, shelter kit, hygiene kit, layanan kesehatan darurat, serta perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil dan menyusui, penyandang disabilitas, serta mereka yang membutuhkan pengobatan rutin.

Caritas juga menekankan pentingnya informasi dan koordinasi yang baik hingga tingkat paroki, terutama karena gempa susulan masih terjadi dan informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan risiko tambahan bagi masyarakat terdampak.

Romo Fredy menegaskan bahwa respons Gereja tidak hanya menjadi tanggung jawab Caritas sebagai lembaga, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komunitas Gereja.

Semangat “One Church, One Response” menjadi landasan respons kemanusiaan Gereja Katolik: keuskupan, paroki, tim Caritas, relawan, dan berbagai komponen Gereja bekerja bersama agar bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan dengan cepat.

Situasi masih terus berkembang. Caritas Indonesia akan memperbarui informasi seiring tersedianya hasil asesmen cepat di lapangan serta data resmi dari pemerintah dan jaringan Caritas.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here