Home Kajian Hilangnya Ide Merdeka

Hilangnya Ide Merdeka

32
0

Setiap Bulan Agustus, kata merdeka kembali bergema. Bendera merah putih dikibarkan, lagu-lagu perjuangan diputar, jalan-jalan dihiasi umbul-umbul, dan berbagai perlombaan digelar. Kita mengenang 17 Agustus 1945 sebagai hari ketika sebuah bangsa menyatakan dirinya bebas dari penjajahan. Namun, di tengah hiruk-pikuk perayaan itu, sebuah pertanyaan sederhana terus mengusik: di manakah kemerdekaan itu sekarang?

Pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu filosofis. Tetapi sesungguhnya ia hadir dalam pengalaman sehari-hari. Ia muncul ketika seseorang merasa hidupnya tidak lagi berada dalam genggamannya sendiri. Ia muncul ketika manusia harus menyerahkan terlalu banyak waktunya kepada antrean, kemacetan, birokrasi, tuntutan pekerjaan, tekanan ekonomi, dan berbagai persoalan hidup yang seolah tidak pernah selesai.

Akhir-akhir ini, saya melihat banyak orang terjebak di beberapa rumah sakit dalam antrean panjang. Duduk berjam-jam, menunggu nomor dipanggil, menunggu dokter datang, menunggu hasil pemeriksaan, menunggu obat diberikan. Di ruang tunggu itu, waktu seperti berhenti. Anehnya, justru di sana saya sering bertanya: apakah manusia yang sedang menunggu itu sungguh merdeka?

Menunggu giliran memang bagian dari kehidupan bersama. Tidak semua orang dapat dilayani dalam waktu yang bersamaan. Ada tata tertib yang harus dihormati. Ada hak orang lain yang harus didahulukan sesuai urutan dan kebutuhan. Namun, antrean panjang juga dapat menjadi gambaran tentang manusia modern yang kehilangan kuasa atas waktunya sendiri.

Kita hidup dalam zaman yang menjanjikan kebebasan. Teknologi memberi kita begitu banyak pilihan. Kita dapat berbicara dengan siapa saja, pergi ke mana saja, membeli hampir apa saja, dan memperoleh informasi dalam hitungan detik. Tetapi semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin terasa pula bahwa kita sedang dikejar-kejar oleh kehidupan.

Pagi hari kita bergegas. Siang hari kita mengejar pekerjaan. Sore hari kita menghadapi kemacetan. Malam hari kita masih menjawab pesan, membaca berita, memikirkan tagihan, dan mempersiapkan pekerjaan esok hari. Hidup menjadi sebuah rangkaian antrean yang tidak berkesudahan: antrean kendaraan, antrean pekerjaan, antrean administrasi, antrean pelayanan, bahkan antrean untuk memperoleh perhatian.

Di tengah semua itu, ide tentang merdeka perlahan menguap.

Kita mungkin telah merdeka sebagai bangsa, tetapi belum tentu merdeka sebagai manusia. Kita bebas dari penjajahan asing, tetapi apakah kita bebas dari ketakutan? Kita memiliki hak untuk berbicara, tetapi apakah kita sungguh berani mengatakan yang benar? Kita memiliki begitu banyak pilihan, tetapi apakah kita benar-benar memilih jalan hidup kita sendiri? Kita dapat pergi ke mana saja, tetapi sering kali tidak tahu sebenarnya ke mana hidup ini sedang berjalan.

Kemerdekaan ternyata bukan sekadar keadaan tanpa penjajah. Kemerdekaan juga bukan sekadar kemampuan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan. Sebab manusia yang dapat melakukan banyak hal pun bisa tetap tidak merdeka apabila hidupnya dikuasai oleh ketakutan, keserakahan, kecemasan, dan sistem yang membuatnya kehilangan martabat.

Ruang tunggu rumah sakit mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi dalam. Di sana, manusia datang dengan berbagai latar belakang, tetapi pada akhirnya semua duduk sebagai manusia yang sama-sama rapuh. Ada yang menunggu dengan wajah cemas. Ada seorang anak yang menemani orang tuanya. Ada orang tua yang menunggu hasil pemeriksaan. Ada seseorang yang tampak lelah, mungkin bukan hanya karena sakit, tetapi juga karena terlalu lama berjuang melawan kehidupan.

Di ruang tunggu itu, kemerdekaan memperoleh makna yang lain.

Merdeka bukan berarti kita selalu dapat menentukan kapan nama kita dipanggil. Kita tidak dapat mengendalikan semua hal. Kita tidak dapat memerintah penyakit agar tidak datang. Kita tidak selalu dapat menentukan kapan penderitaan berakhir. Ada saat ketika manusia justru harus belajar menerima bahwa dirinya terbatas.

Namun, di tengah keterbatasan itu, masih ada satu ruang yang tidak boleh dirampas: ruang untuk tetap menjadi manusia.

Di tengah antrean, kita masih dapat memilih untuk tidak kehilangan kesabaran. Ketika pelayanan lambat, kita dapat tetap mengingat bahwa petugas di hadapan kita juga manusia. Ketika hidup terasa berat, kita dapat memilih untuk tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Ketika dunia semakin gaduh, kita masih dapat menyediakan ruang untuk hening dan bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sebenarnya aku menjalani hidup ini?

Mungkin di situlah kemerdekaan yang paling mendasar.

Kemerdekaan bukan pertama-tama soal berada di luar segala batas. Kemerdekaan justru dapat tumbuh ketika manusia menyadari batas-batasnya, tetapi tidak menyerahkan seluruh dirinya kepada batas itu. Seorang pasien mungkin tidak bebas dari penyakitnya. Seorang pekerja mungkin tidak bebas dari tuntutan ekonomi. Seorang warga mungkin tidak bebas dari berbagai persoalan sosial yang melingkupinya. Tetapimanusia masih dapat berjuang agar penderitaan tidak menghancurkan kemanusiaannya.

Sebab penderitaan memang ada di mana-mana.

Ia hadir dalam tubuh yang sakit, dalam keluarga yang kesulitan ekonomi, dalam anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan layak, dalam orang-orang yang bekerja keras tetapi tetap merasa hidupnya tidak bergerak ke mana-mana. Ia hadir dalam kecemasan orang tua, kesepian orang lanjut usia, kegelisahan anak muda, dan dalam wajah-wajah yang setiap hari tersenyum tetapi sesungguhnya sedang kelelahan.

Barangkali inilah ironi zaman kita. Kita semakin sibuk merayakan kemerdekaan, tetapi semakin sedikit waktu untuk mengalami kebebasan. Kita sibuk berbicara tentang kemajuan, tetapi banyak manusia merasa tertinggal. Kita dikelilingi teknologi yang mempercepat segala sesuatu, tetapi hidup justru terasa semakin sempit dan sesak.

Karena itu, mungkin kita perlu kembali bertanya: di manakah kemerdekaan itu?

Ia tidak hanya berada di tiang bendera. Ia tidak hanya hidup dalam teks proklamasi. Ia tidak hanya terdengar dalam upacara dan pidato-pidato resmi. Kemerdekaan harus hadir dalam pengalaman konkret manusia: ketika seseorang diperlakukan dengan bermartabat, ketika orang sakit memperoleh pelayanan yang layak, ketika rakyat kecil tidak dipaksa terus-menerus menunggu keadilan, ketika manusia memiliki kesempatan untuk hidup tanpa rasa takut.

Dan mungkin, kemerdekaan juga dimulai dari hal yang sangat kecil: ketika kita tidak membiarkan hiruk-pikuk hidup merampas seluruh diri kita.

Di tengah antrean panjang rumah sakit, saya belajar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan nomor yang kita pegang. Kadang nomor kita belum dipanggil ketika orang lain sudah lebih dahulu masuk. Kadang waktu berjalan terlalu lambat. Kadang kita merasa tidak berdaya.

Tetapi barangkali justru di ruang tunggu itulah kita diingatkan bahwa manusia bukan sekadar nomor antrean.

Manusia adalah pribadi yang memiliki harapan, kecemasan, cinta, dan martabat. Dan selama kita masih mampu menjaga semua itu, selama kita masih mampu memandang sesama sebagai manusia, selama kita masih berani mengambil jarak dari hiruk-pikuk yang hendak menelan seluruh hidup kita, maka ide tentang merdeka belum sepenuhnya hilang.

Ia mungkin sedang menguap.

Ia mungkin tertutup oleh kebisingan.

Ia mungkin terkubur oleh penderitaan dan rutinitas.

Tetapi kemerdekaan selalu dapat ditemukan kembali—ketika manusia berhenti sejenak, menengok dirinya sendiri, lalu berkata: hidup ini tidak boleh hanya menjadi antrean panjang menuju akhir. Di tengah segala keterbatasan, aku tetap harus menemukan cara untuk menjadi manusia yang merdeka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here