JAKARTA — Sejarah emas di Papua tidak bermula pada abad ke-20. Jauh sebelum penemuan deposit emas berskala besar oleh ahli geologi Belanda, Jean Jacques Dozy, pada 1936, wilayah Papua telah dikenal memiliki kandungan emas dan menjadi bagian dari perebutan pengaruh bangsa-bangsa kolonial.
Sejarawan Dr. Greg Poulgrain menguraikan kisah tersebut dalam Forum Praksis Seri ke-25 yang diselenggarakan PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) bekerja sama dengan Yayasan Bung Karno pada Jumat (16/10/2026) di Jakarta. Forum ini membahas buku terbarunya, Curse of Gold, yang menelusuri sejarah penemuan emas di Papua dan kaitannya dengan dinamika politik internasional.
Dalam paparannya, Poulgrain menjelaskan bahwa aktivitas lokal yang berkaitan dengan mineral emas telah berlangsung sejak sebelum masa kolonial, meskipun bentuk dan skalanya berbeda dari pertambangan modern.
Pada awal masa kolonial, bangsa Portugis menemukan bahwa material tanah aluvial yang mengandung emas kerap diangkut dari dataran tinggi Papua menuju dua pulau kecil di antara Papua dan Pulau Seram. Informasi mengenai emas kemudian mendorong Portugis dan Spanyol berusaha memperluas pengaruhnya di kawasan itu sebelum Belanda datang.
Sekitar 1600, menurut Poulgrain, Spanyol melancarkan dua ekspedisi militer dari Manila dan merampas hampir seluruh emas yang tersedia. Tak lama kemudian, ketika Belanda datang, perdagangan emas di wilayah barat Papua disebut telah menghilang.
Perhatian terhadap kekayaan mineral Papua kembali menguat pada abad ke-20. Pada 1936, geolog Belanda Jean Jacques Dozy menemukan deposit emas besar di pegunungan Papua, di bawah garis salju.
Poulgrain memiliki hubungan langsung dengan sejarah penemuan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah dua kali mewawancarai Dozy di rumahnya di Den Haag pada 1982.
Setelah Perang Dunia II, penemuan Dozy ditindaklanjuti melalui perusahaan patungan Belanda-Amerika Serikat yang dikaitkan dengan nama Rockefeller. Poulgrain juga menyebut mantan Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns, yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal NATO, pernah mengakui kepadanya pada 1982 bahwa ia telah mengetahui keberadaan emas di Papua.
Melalui Curse of Gold, Poulgrain mengajak pembaca melihat sejarah Papua bukan semata-mata sebagai rangkaian peristiwa politik, melainkan juga sebagai sejarah perebutan sumber daya alam yang melibatkan kekuatan-kekuatan internasional.
Forum Praksis Seri ke-25 menempatkan pembahasan sejarah tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni pentingnya membuka kembali berbagai persoalan Papua yang belum terselesaikan serta mendorong pengelolaan kekayaan alam yang transparan, berdaulat, dan berpihak kepada masyarakat Papua.











