Home Berita Alumni Pendidikan sebagai Perjalanan Manusia

Pendidikan sebagai Perjalanan Manusia

97
0
Direktur Perkumpulan Strada, Rm Bei Witono SJ (ketiga dari kanan). Foto : Dokpri.

​Ruang diskusi Pusat Pendidikan BRIN RI pada sebuah pagi di bulan April 2026 yang hangat menjadi saksi sebuah perenungan mendalam tentang masa depan pedagogi nasional. Sejak pukul 09.00 WIB, atmosfer akademik terasa bergetar oleh kegelisahan yang sama: ke mana arah transformasi pendidikan kita tengah meluncur?

Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Muhammad Najib Azca, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, setelah diawali pengantar presisi dari Dr. Trina Fizzanty mengenai urgensi perubahan paradigma. Namun, inti dari perjumpaan intelektual ini berpusat pada bedah pemikiran Dr. Iwan Syahril, Ph.D. melalui karyanya, Students, Students, Students!: The Human Journey in Leadership and System Transformation.

​Melalui buku tersebut, Iwan Syahril menyentil kesadaran paling mendasar yang kerap terlupakan dalam riuh rendah reformasi sekolah: bahwa transformasi sistemik bukanlah sekadar kalkulasi statistik, penyerap anggaran, atau tumpukan perangkat keras semata.

Pendidikan, pada hakikatnya, adalah sebuah “perjalanan manusia” (a human journey). Dipandu oleh Dr. Hasangka sebagai moderator, diskusi menguliti kerangka navigasi yang amat krusial bagi kepemimpinan masa kini, yakni The PLC Compass.

Navigasi Berbasis Kemanusiaan
​Di tengah kompleksitas tata kelola sekolah hari ini, para pemimpin pendidikan acapkali terjebak dalam labirin administratif yang mekanistis.

Laporan capaian, dokumentasi teknis, dan formalitas birokrasi sering kali menyita energi utama para pendidik. Menanggapi bahaya pendangkalan fungsi ini, The PLC Compass hadir memberikan enam arah mata angin sebagai kompas pembebas.

​Langkah awal dimulai dari Purpose (Kejernihan Tujuan). Transformasi yang sejati tidak boleh berhenti pada jargon politik atau spanduk program. Ia wajib menjelma menjadi “gema yang tak kunjung putus” (relentless echo).

Tanpa gema yang konsisten dan berulang di setiap lorong sekolah, visi besar setinggi apa pun hanya akan berdebu di laci birokrasi, tanpa pernah menggetarkan sanubari para guru apalagi menyentuh ruang jiwa para murid.

​Namun, kejernihan tujuan belaka tidak serta-merta menjamin keberhasilan. Dibutuhkan keberanian untuk melakukan Prioritization (Penentuan Skala Prioritas). Iwan Syahril melontarkan otokritik yang amat menohok bagi realitas kita hari ini: “When everything is important, nothing is actually important.” Ketika semua hal dituntut menjadi prioritas secara bersamaan, guru justru kehilangan kompas sentralnya.

Sistem pendidikan kita telah terlalu lama membebani pendidik dengan tumpukan tugas artifisial, hingga mereka kehabisan waktu untuk melakukan hal yang paling substansial: menyapa dan mendampingi murid.

​Di sinilah peran Leadership (Kepemimpinan) diuji secara mutlak. Pemimpin pendidikan modern tidak lagi bertindak sebagai instruktur kaku yang mengobral perintah top-down. Pemimpin sejati adalah penumbuh rasa percaya (trust) dan pemantik pemberdayaan (empowerment).

​Selaras dengan itu, aspek Learning dalam kompas ini menuntut hadirnya psychological safety (keamanan psikologis). Di era disrupsi teknologi hari ini, transformasi digital kerap dipahami secara salah kaprah sebagai digitalisasi tanpa jiwa. Secanggih apa pun aplikasi dan platform yang diperkenalkan, pendidikan wajib tetap berpusat pada manusia (human-centric).

Teknologi hanyalah alat bantu. Jantung dari pendidikan tetaplah perjumpaan batin yang hangat, rasa aman untuk berbuat salah dan belajar kembali, serta relasi autentik antara guru dan murid dalam sebuah komunitas belajar.

Narasi Perubahan yang Menggerakkan
​Diskusi yang mengalir dinamis hingga pukul 12.30 WIB tersebut juga membedah dimensi taktis melalui Choice (Pilihan) dan Communication (Komunikasi). Mengubah sebuah sistem yang raksasa kerap memicu resistensi alamiah. Oleh karena itu, perubahan tidak harus dipaksakan secara masif, serentak, dan represif dari atas.

Perubahan yang berkelanjutan justru dapat dipantik dari kelompok kecil yang memiliki keresahan serta kerinduan serupa: para pengadopsi awal (early adopters).

​Narasi keberhasilan dari gerakan-gerakan kecil di tapak bawah ini kemudian disebarluaskan melalui kekuatan storytelling. Ketika cerita tentang perubahan bermakna disampaikan secara autentik dan menyentuh sisi kemanusiaan, pembaruan tidak lagi dipersepsikan sebagai ancaman struktural atau beban tambahan. Sebaliknya, ia menjelma menjadi sebuah undangan terbuka untuk bertumbuh bersama secara sukarela.

​Terobosan yang diinisiasi oleh Pusat Pendidikan BRIN ini menegaskan satu pesan penting: pengembangan kebijakan pendidikan tidak boleh lahir dari ruang hampa atau menara gading yang berjarak dari realitas lapangan. Riset sosial-humaniora yang bernas harus menjadi jangkar kokoh bagi setiap pembuat kebijakan. Tanpa basis riset yang berpihak pada realitas manusia, kebijakan pendidikan hanya akan menjadi eksperimen tak berujung yang mengorbankan generasi.

Kembali ke Fitrah Pendidikan
​Ketika diskusi usai dan ruang pertemuan berangsur hening, sebuah pesan substantif tertinggal dan terus bergema: transformasi sistem pendidikan pada akhirnya adalah sebuah perjalanan kemanusiaan. Melalui karya Students, Students, Students!, kita dipanggil untuk pulang ke fitrah paling mendasar dari proses pedagogis.

​Setiap regulasi yang dirumuskan, setiap kurikulum yang dirancang, setiap riset yang didanai, dan setiap anggaran yang dialokasikan, pada akhirnya harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana namun radikal: apakah semua itu berdampak langsung pada pertumbuhan, kebahagiaan, dan kemerdekaan murid di ruang-ruang kelas?

​Jika setiap elemen bangsa—mulai dari pembuat kebijakan, peneliti, hingga kepala sekolah dan guru—konsisten menjaga kompasnya agar terus mengarah pada keselamatan dan kebahagiaan murid, maka sebanyak apa pun badai perubahan zaman yang menghadang, perjalanan pendidikan kita tidak akan pernah kehilangan arah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here