Ketua Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD), Ruth Indiah Rahayu dalam aksi kamisan, 29 Oktober 2026. Foto : Sema STF Driyarkara

Pemuda sebagai Vitalitas Bangsa dan Pendobrak Tirani

Selamat sore dan salam sejahtera untuk kita semua,
Setiap perubahan besar di negeri ini selalu dipelopori oleh darah muda, dan setiap langkah tegap pemuda selalu disokong oleh doa serta air mata kaum ibu! Sejarah tidak pernah berbohong mengenai hal itu.

Mari kita buka kembali lembaran masa lalu. Tepat seratus tahun yang lalu, pada tanggal 20 April hingga 2 Mei 1926, para pemuda berkumpul di Batavia, di Gedung Vrijmetselaarsloge—yang kini menjadi kawasan Lapangan Banteng. Di sanalah, dalam Kongres Pemuda Pertama, fondasi awal bangsa ini diletakkan. Mohammad Yamin dan M. Tabrani dengan gagah berani memperkenalkan sebuah gagasan gila pada zamannya: mengangkat Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pemuda saat itu berhasil meruntuhkan tembok ego kedaerahan—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon—dan meleburnya menjadi satu nafas menuju cita-cita Indonesia merdeka.

Dua tahun setelahnya, 28 Oktober 1928, lahirlah Sumpah Pemuda. Sebuah resolusi sakral yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, diiringi kumandang pertama lagu Indonesia Raya. Dan jangan lupakan sejarah, hanya dua bulan setelah ikrar monumental itu, pada 22 Desember 1928, kaum perempuan menyelenggarakan Kongres Ibu yang menegaskan bahwa gerakan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari ruh kemerdekaan bangsa!

Kawan-kawan Pemuda,

Sepanjang perjalanan republik ini, pemuda senantiasa menjadi motor penggerak utama perubahan politik dan sosial. Pemuda adalah pencetus gagasan, pendobrak kebuntuan, hingga agen perubahan yang meruntuhkan keangkuhan rezim.

Sejarah mencatat riwayat pemuda dalam enam fragmen emas:

  • Pertama, Era Kebangkitan Nasional (1908–1928). Ketika pemuda pelajar mendirikan Budi Utomo dan Perhimpunan Indonesia, merekalah yang pertama kali menyuarakan identitas “Indonesia” secara modern di atas panggung dunia.
  • Kedua, Era Proklamasi Kemerdekaan (1945). Ingatkah kita pada Peristiwa Rengasdengklok? Golongan muda seperti Sukarni dan Chaerul Saleh adalah pendobrak kebuntuan. Mereka menculik Soekarno-Hatta untuk memastikan kemerdekaan bukan hadiah dari Jepang, melainkan hasil darah dan keringat kita sendiri. Merekalah yang menggerakkan massa di Lapangan Ikada demi tegaknya proklamasi.
  • Ketiga, Era Mempertahankan Kemerdekaan (1945–1949). Pemuda mengangkat senjata, mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Mereka menjadi ujung tombak dalam pertempuran heroik Surabaya 10 November dan Bandung Lautan Api.
  • Keempat, Runtuhnya Orde Lama (1966). Mahasiswa yang bergabung dalam KAMI menjadi penyambung lidah rakyat, turun ke jalan menuntut Tritura, meski sayang mahasiswa tidak kritis terhadap operasi militer yang menciptakan Tragedi 1965-1968.
  • Kelima, Era Reformasi (1998). Gerakan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR RI. Dengan keberanian mutlak, mereka memaksa rezim otoriter Orde Baru yang berkuasa 32 tahun untuk mundur, sekaligus membuka gerbang demokrasi, kebebasan pers, dan pembatasan kekuasaan.
  • Keenam, Era Perjuangan Kontemporer Abad ke-21. Hari ini, pemuda kembali bangkit di lini massa dan di jalanan! Kita berdiri tegak untuk mengingatkan rezim yang sedang berkuasa—rezim yang hari ini abai terhadap jeritan rakyat akibat harga pangan yang tak terkendali, angka PHK yang melambung tinggi, dan beban pajak yang mencekik di semua sektor kehidupan! Di saat rakyat kecil dibiarkan menderita menghadapi bencana alam tanpa pertolongan yang layak, kita justru menyaksikan ironi yang menyakitkan: kekayaan negara diduga dirampok dan dipusatkan secara sistematis demi kepentingan segelintir elite melalui Danantra, Kopdes, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG)! Pemuda tidak akan tinggal diam melihat semua ini!

Kawan-kawan Pemuda,

Jika kita membedah sejarah ini dalam kacamata filsafat politik, pemuda bukanlah sekadar sekumpulan orang berusia muda. Pemuda adalah “Vital Force”—sebuah Kekuatan Vital yang menjaga agar politik tidak mati menjadi sekadar administrasi kekuasaan yang dingin. Ketika struktur politik formal mulai mengeras, membusuk, dan korup, gerakan pemuda hadir sebagai pemutus sirkuit kekuasaan yang menyimpang itu, guna mengembalikan kedaerahan dan kedaulatan kepada maknanya yang paling murni!

Bagaimana pemuda mendobrak rezim? Mari kita maknai dalam tiga konsep pemikiran:

Yang pertama, pemuda adalah “Intelektual Organik” dan Agen Kontra-Hegemoni, seperti yang dirumuskan oleh Antonio Gramsci.

Tugas awal pemuda adalah meruntuhkan hegemoni atau dominasi pemikiran palsu yang ditanamkan oleh penguasa. Pada masa kolonial, Belanda menanamkan doktrin bahwa kaum pribumi adalah kelas rendah yang bodoh dan tidak mampu memimpin. Pemuda pelajar STOVIA memecah hegemoni itu lewat tulisan dan diskusi, menyadarkan rakyat bahwa kita setara dan kita adalah satu bangsa. Begitu pula pada era 1980-an hingga 1998, pemuda bertindak sebagai intelektual organik yang membongkar narasi penguasa yang kerap mengecap para pengkritik sebagai antek-antek terlarang. Pemuda menolak tunduk pada pembodohan!

Yang kedua, pemuda adalah Pencipta “Ruang Publik” melalui Tindakan Bersama (Acting in Concert), sebuah konsep dari Hannah Arendt.
Politik yang sejati terjadi ketika warga negara berkumpul di ruang publik, berbicara, dan bertindak bersama demi perubahan. Ketika Rezim Orde Baru membekukan politik dan menghancurkan ruang publik dengan represi militer, mahasiswa tahun 1998 mendobrak tirani tersebut. Mereka menduduki Gedung DPR/MPR, mereklamasi ruang publik yang dirampas. Aksi ribuan mahasiswa yang duduk bersama, berorasi tanpa kekerasan, adalah bentuk murni dari acting in concert—sebuah kekuatan kolektif yang mampu meruntuhkan kekerasan tirani.

Namun, kawan-kawan, kebebasan yang kita nikmati hari ini dibayar dengan harga yang teramat mahal. Ada darah yang tumpah, ada nyawa yang dirampas.

Kita menolak lupa pada Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 yang merenggut nyawa Elang Maulana, Heri Hartanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
Kita menolak lupa pada Peristiwa Semanggi I yang menggugurkan Bernardus Realino Norma Irawan, Sigit Prasetyo, Teddy Mardani, Engkus Kusnadi, Heru Sudibyo, Muzamil Joko Purwanto, Lukman Firdaus, dan Agus Setiana.
Kita menolak lupa pada Peristiwa Semanggi II yang merenggut Yap Yun Hap!

Bahkan, hingga detik ini, kita masih berutang keadilan pada luka sejarah: penghilangan paksa para aktivis sepanjang tahun 1997-1998. Sebagian kembali, namun 13 aktivis—di antaranya Herman Hendrawan, Bimo Petrus, dan sang penyair perlawanan Wiji Thukul—hilang tanpa kabar berita. Sampai hari ini tidak ada kejelasan, dan tidak ada penguasa yang mau bertanggung jawab! Ini adalah utang moral sejarah bangsa yang harus kita tagih!

Kawan-kawan Pemuda

Konsep yang ketiga, pemuda adalah Pengaktif Politik Agonistik, pembongkar konsensus semu, sebagaimana yang digagas oleh Chantal Mouffe.
Ketika sebuah sistem politik mengeras dan menciptakan “konsensus semu”—sebuah kondisi di mana dari luar semuanya tampak damai, semuanya tampak stabil, padahal di dalamnya terjadi pembungkaman, pemiskinan, dan penindasan—di sinilah politik memerlukan konfrontasi agonistik. Pemuda adalah aktor yang tidak pernah takut memecah stabilitas palsu tersebut!

Lihat kembali Rengasdengklok tahun 1945. Golongan tua saat itu terjebak dalam diplomasi “damai” dan konsensus semu yang diatur oleh Jepang melalui BPUPKI. Golongan muda melihat itu sebagai jebakan status quo. Mereka melakukan interupsi radikal, membawa Soekarno-Hatta keluar dari lingkar kenyamanan, memecah konsensus palsu, dan menegaskan: kita harus merdeka atas kekuatan sendiri!

Hari ini, ketika kita melihat tanda-tanda konsensus semu itu kembali dibangun, ketika ketimpangan ekonomi dibungkus atas nama stabilitas nasional, dan ketika kebijakan seperti alokasi Danantra, Kopdes, maupun program MBG dikritik karena sarat kepentingan kekuasaan, maka di sinilah panggilan sejarah itu kembali bergaung ke telinga kita semua!

Pemuda tidak boleh diam. Pemuda tidak boleh menjadi penonton yang pasif ketika perut rakyat lapar dan masa depan bangsa dipertaruhkan. Kita adalah Vital Force, kita adalah agen kontra-hegemoni, kita adalah penjaga ruang publik! Mari kita jaga api perlawanan intelektual ini, mari kita rawat ingatan terhadap mereka yang gugur, dan mari kita pastikan arah bangsa ini tetap berada di jalur kemerdekaan, keadilan, serta kemakmuran yang sejati untuk seluruh rakyat Indonesia!

Hidup Pemuda Indonesia! Lanjutkan Perjuanganmu! Hidup Ibu-ibu Indonesia! Jangan Pernah Lelah Merawat Perjuangan Ank-anakmu!

Terima kasih.

Ketua IKAD Periode 2024 – 2027

Ruth Indiah Rahayu

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here