JAKARTA — Pembangunan Jakarta sebagai kota modern tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan penataan fisik. Kota juga harus menyediakan ruang bagi warganya untuk berinteraksi, membangun solidaritas, dan terlibat dalam pembicaraan mengenai persoalan publik. Tanpa itu, modernisasi justru berisiko memperlebar jarak sosial dan melemahkan kehidupan demokrasi.
Pandangan tersebut disampaikan Fransisco Budi Hardiman, yang akrab disapa Franky, pengajar di Universitas Pelita Harapan, dalam serial diskusi bertajuk Imagine Jakarta: Membayangkan Kota Masa Depan. Dalam diskusi pertama yang bertopik “Menagih Jakarta yang Ramah sebagai Hak Warga atas Ruang Publik,“ Ia menekankan pentingnya memulihkan rasa kebersamaan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin kompleks dan ditandai oleh beragam kepentingan.
Menurut Franky, perkembangan Jakarta memperlihatkan pergeseran dari kehidupan komunal yang ditandai oleh identitas dan rasa memiliki bersama menuju masyarakat modern dengan interaksi sosial yang semakin beragam, anonim, dan berjarak.
“Yang harus kita tempuh adalah kita menerima modernisasi, tetapi merestorasi luka-luka akibat modernisasi itu,” ujar Franky di Gedung Miss Tjitjih, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).
Alumnus Hochschule fur Philosophie di Munich, Jerman ini menilai, tantangan Jakarta bukanlah menolak modernisasi, melainkan mengatasi dampak sosial yang ditimbulkannya. Kota perlu berkembang tanpa kehilangan solidaritas dan kemampuan warganya untuk membangun komunitas.
Kota bukan sekadar bangunan
Franky menjelaskan bahwa kota tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan gedung, jalan, dan fasilitas fisik. Kota juga merupakan ruang tempat warga hadir, berinteraksi, dan menunjukkan kepedulian terhadap persoalan bersama.
Dalam konteks ini, ia mengangkat gagasan tentang ruang kemunculan atau space of appearance, yakni ruang publik tempat warga dapat tampil sebagai warga kota dengan menyampaikan pandangan dan menanggapi persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.
Kehadiran warga di ruang publik, menurut Franky, tidak semestinya hanya menjadi sarana untuk memperjuangkan kepentingan pribadi. Lebih dari itu, ruang tersebut perlu memungkinkan mereka terlibat dalam pembicaraan mengenai masalah publik.
Di Jakarta, partisipasi semacam itu memang mulai terlihat melalui forum digital, seminar, dan berbagai pertemuan. Namun, Franky mempertanyakan sejauh mana kesempatan tersebut juga terbuka bagi warga di pinggiran kota dan kelompok yang terpinggirkan oleh proses modernisasi.
Padahal, menurut dia, kelompok masyarakat yang hidup di lingkungan kampung sering kali memiliki kepedulian kuat terhadap persoalan komunitasnya.
Sebaliknya, orientasi yang terlalu berpusat pada bisnis dapat membuat interaksi sosial lebih bersifat fungsional daripada komunikatif. Hubungan dibangun untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi belum tentu berkembang menjadi percakapan yang memungkinkan warga memahami persoalan bersama.
Karena itu, Franky menilai potensi sosial masyarakat kampung perlu diberdayakan. Mereka tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus memperoleh kesempatan untuk ikut menentukan arah perkembangan kota.
Tempat ketiga dan kehidupan bersama
Selain ruang kemunculan, Franky menyoroti pentingnya third place atau tempat ketiga, konsep yang dikembangkan sosiolog Ray Oldenburg.
Tempat ketiga merupakan ruang di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan orang berinteraksi secara informal dan relatif setara. Di sana, warga dapat bertemu, bercakap-cakap, bertukar pikiran, dan membangun hubungan sosial tanpa harus selalu terikat pada kepentingan ekonomi.
Menurut Franky, tempat ketiga tidak harus berupa ruang yang secara khusus dibangun sebagai fasilitas komunitas. Perpustakaan, taman, gedung teater, dan pasar tradisional dapat menjalankan fungsi tersebut apabila memungkinkan orang bertemu dan berkomunikasi secara terbuka.
Pasar tradisional, misalnya, bukan hanya tempat berlangsungnya transaksi jual beli. Di dalamnya, percakapan mengenai kehidupan sehari-hari dan persoalan publik juga dapat berkembang.
Bahkan, trotoar dapat menjadi ruang interaksi sosial. Franky mencontohkan kehidupan di sejumlah kota besar Eropa, ketika trotoar tidak hanya digunakan untuk berjalan kaki, tetapi juga menjadi tempat orang berbincang dan membicarakan kepentingan bersama, termasuk bagaimana mempertahankan fungsi ruang tersebut.
Bagi Franky, contoh-contoh itu menunjukkan bahwa fungsi ruang kota tidak semata-mata ditentukan oleh desain fisiknya. Cara warga menggunakan dan menghidupi ruang tersebut juga menentukan apakah sebuah kota mampu membangun kehidupan bersama.
Dengan demikian, penyediaan taman, trotoar, perpustakaan, dan fasilitas publik lainnya perlu disertai upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan warga benar-benar menggunakannya untuk berinteraksi.
Ruang publik sebagai fondasi demokrasi
Lebih jauh, Franky menghubungkan keberadaan ruang publik dengan kualitas demokrasi. Ruang perjumpaan warga, menurut dia, dapat menjadi tempat tumbuhnya opini publik melalui pertukaran gagasan dan pembahasan masalah bersama.
Proses tersebut memungkinkan masyarakat tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga menguji berbagai pandangan, mempertimbangkan kepentingan yang berbeda, dan membangun pemahaman bersama.
Ia menekankan pentingnya deliberasi publik, yakni proses pembicaraan dan pertimbangan bersama mengenai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Dalam pandangan Franky, perencanaan kota seharusnya tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur. Tata ruang juga perlu mempermudah berlangsungnya proses deliberasi, sehingga warga mempunyai kesempatan nyata untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Ia bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan demonstrasi yang berlangsung pada 2025. Menurut Franky, demonstrasi yang mencerminkan skeptisisme masyarakat terhadap pemerintah dapat dibaca sebagai tanda bahwa saluran partisipasi dan pembicaraan publik belum berfungsi secara memadai.
“Demonstrasi-demonstrasi yang skeptis terhadap pemerintah itu terjadi karena fungsi-fungsi publik di dalam sebuah kota seperti Jakarta itu belum berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Franky juga menyoroti fungsi lembaga perwakilan. Jika DPR tidak menjadi ruang yang efektif untuk membicarakan persoalan publik, aspirasi masyarakat berpotensi meluap ke jalanan melalui demonstrasi.
Pernyataan tersebut menempatkan ruang publik perkotaan dan lembaga demokrasi dalam satu rangkaian yang saling berkaitan. Kota yang menyediakan ruang perjumpaan dan partisipasi dapat membantu warga menyampaikan aspirasi, sedangkan lembaga perwakilan semestinya mengolah aspirasi itu menjadi pembahasan dan keputusan politik.
Mengembalikan warga ke pusat pembangunan
Gagasan Franky memberikan perspektif bahwa keberhasilan pembangunan Jakarta tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan, kelancaran mobilitas, atau ketersediaan fasilitas modern. Kota juga perlu dinilai dari kemampuannya membangun hubungan sosial dan membuka ruang partisipasi yang bermakna.
Ruang publik perlu dapat diakses oleh beragam kelompok masyarakat, termasuk warga kampung dan mereka yang selama ini berada di pinggiran proses pembangunan. Yang lebih penting, warga harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan ikut membicarakan masa depan lingkungan tempat mereka hidup.
Bagi Franky, modernisasi dan solidaritas sosial tidak harus dipertentangkan. Jakarta dapat terus berkembang sebagai kota modern sekaligus memulihkan ikatan sosial yang tergerus oleh perubahan.
Tantangannya adalah memastikan bahwa pembangunan fisik berjalan seiring dengan pembangunan kehidupan bersama. Ketika warga memiliki ruang untuk berjumpa, berkomunikasi, dan mengambil bagian dalam persoalan publik, kota bukan hanya menjadi tempat tinggal, melainkan juga ruang tempat demokrasi tumbuh dan dijalankan.
Serial diskusi Imagine Jakarta merupakan diskusi publik yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara bekerjasama dengan Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta menyongsong ulang tahun Ibu Kota Negara yang ke-500 tahun 2027.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang dialog populer yang mampu menghimpun gagasan publik dalam membangun Jakarta yang inklusif serta hangat sebagai ruang hunian bagi warganya.











