Home Berita Alumni Bei Witono SJ Luncurkan Empat Buku, Soroti Arah Kebijakan dan Masa Depan...

Bei Witono SJ Luncurkan Empat Buku, Soroti Arah Kebijakan dan Masa Depan Pendidikan Nasional

146
0
Ki-Ka: Chappy Hakim, Trina Fizzanty Ph.D, Prof. Rosdiana Sijabat, Rm Bei Witono SJ.

Jakarta – Direktur Perkumpulan Strada, Romo Bei Witono SJ, meluncurkan empat buku yang mengangkat isu strategis pendidikan Indonesia dalam diskusi publik di Gedung Kompas Institute Lantai 3, Jakarta, Rabu (11/02/2026). Keempat buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berjudul ; Ragam Corak Tata Kelola Sekolah, Menimba Kebijakan Pendidikan, Pendidikan dan Dimensi Lingkungan, dan Ruang Spiritual Pendidikan.

Diskusi menghadirkan sejumlah tokoh lintas bidang, antara lain Prof. Purnomo Yusgiantoro, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, Prof. Rosdiana Sijabat, dan Peneliti BRIN Dr. Trina Fizzanty. Beberapa masalah pendidikan antara lain persoalan kebijakan, tata kelola, kepemimpinan, hingga tantangan teknologi dalam pendidikan nasional dibahas dalam suasana diskusi yang hangat.

Tata Kelola Cerminkan Manusia yang Hendak Dibentuk

Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof. Purnomo Yusgiantoro menegaskan, pengelolaan pendidikan pada dasarnya menjawab pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui sistem pendidikan.

“Sekolah tidak boleh menjadi birokrasi yang kaku. Sekolah harus bertransformasi menjadi komunitas pembelajar yang adaptif dan kolaboratif,” ujarnya.

Menurut Purnomo, tata kelola pendidikan selama ini sering dipersepsikan sebatas urusan administratif—laporan, struktur, dan regulasi. Padahal, tata kelola adalah roh organisasi pendidikan karena mencerminkan cara berpikir dan cara mengambil keputusan.

Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan berbasis bukti. Banyak kebijakan dinilai lahir dengan niat baik, namun menghadapi kendala implementasi karena kurang mempertimbangkan realitas lapangan.

“Kebijakan pendidikan seharusnya lahir dari data, pengalaman empirik, dan suara para pelaku pendidikan di akar rumput,” katanya.

Purnomo turut mendorong pendekatan transdisiplin atau “komprehensif integral” dalam pendidikan untuk menjawab kompleksitas tantangan global. Menurutnya, kurikulum tidak boleh sekadar daftar mata pelajaran, tetapi kerangka pembentukan manusia seutuhnya.

Beban Administratif dan Kelelahan Guru

Sorotan tajam juga datang dari Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Prof. Rosdiana Sijabat yang menilai pendidikan saat ini terjebak dalam orientasi indikator formal dan administrasi.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai gejala “kelelahan batin” di kalangan guru. Beban pelaporan, akreditasi, serta adaptasi terhadap perubahan kebijakan yang cepat dinilai menyita energi pedagogis pendidik.

“Guru akhirnya lebih sibuk memastikan dokumen lengkap daripada memastikan relasi pedagogis terbangun,” ujarnya.

Menurut Rosdiana, pendidikan karakter dan pembentukan nilai tidak mungkin berjalan efektif jika guru tidak memiliki ruang psikologis dan institusional yang memadai untuk mendampingi siswa secara personal.

Kebijakan dan Implementasi Dinilai Berjarak

Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) Dr. Trina Fizzanty menyoroti adanya jarak antara desain kebijakan di tingkat pusat dan kapasitas implementasi di daerah.

“Kebijakan yang baik bukan hanya kuat secara konsep, tetapi juga realistis secara implementasi,” katanya.

Trina menilai kebijakan pendidikan sering dirumuskan dalam kerangka ideal tanpa mempertimbangkan variasi infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, dan konteks sosial di masing-masing daerah. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas level serta sistem monitoring dan evaluasi yang konsisten agar kebijakan tidak berhenti pada dokumen formal.

Pendidikan Harus Jaga Dimensi Kemanusiaan

Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menilai pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sistem teknokratis dan administratif. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara rasionalitas dan kemanusiaan dalam proses pendidikan.

Chappy mencontohkan praktik pendidikan militer di luar negeri yang tetap mengintegrasikan humaniora untuk membentuk karakter dan integritas.

“Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu mengambil keputusan dengan akal sehat sekaligus nurani,” ujarnya.

Menurutnya, sistem yang terlalu birokratis berisiko menghasilkan individu yang cerdas secara teknis tetapi lemah dalam kepemimpinan moral.

Teknologi dan Tantangan AI

Dalam diskusi juga dibahas perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Purnomo menilai teknologi merupakan megatrend yang membawa peluang sekaligus risiko.

“AI mampu menggantikan banyak fungsi manusia dalam kecepatan dan akurasi, tetapi tidak akan mampu menggantikan manusia secara utuh dalam pengambilan keputusan yang melibatkan nilai,” katanya.

Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi di sekolah harus berada dalam kerangka tata kelola dan regulasi yang bijak, serta tetap menjaga dimensi karakter dan spiritualitas.

Diskusi yang dihadiri kalangan pendidik, akademisi, dan pemerhati pendidikan itu menjadi ruang refleksi bersama atas arah pendidikan Indonesia. Para pembicara sepakat bahwa pembenahan pendidikan memerlukan kebijakan yang konsisten, kepemimpinan yang kuat, serta orientasi pada pembentukan manusia seutuhnya di tengah perubahan zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here