Home Kajian Budaya Literasi di Kalangan Pelajar 

Budaya Literasi di Kalangan Pelajar 

1393
1

Badan PBB, UNESCO pada tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia mempunyai skor indeks yang buruk soal literasi dunia. Minat baca di Indonesia tercatat hanya 0,001 %, artinya dari 1000, hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Presentasi literasi yang minim, rupanya berbanding lurus dengan hasil PISA tahun 2019, yaitu Indonesia berada di urutan papan bawah.  Presentasi UNESCO dan hasil PISA 2019 sungguh memprihatinkan, karena hal itu terjadi di tengah hiruk pikuk penggunaan handphone pintar yang semakin canggih. Banyak orang bisa berjam-jam di depan HPnya untuk melihat konten-konten atau pesan-pesan singkat yang menarik, tetapi mereka tidak terdorong kuat untuk membaca e-book yang sangat mudah didapatkan. 

Pembudayaan literasi di kalangan pelajar perlu dihidupkan dan dikembangkan secara optimal. Para guru, perlu memotivasi peserta didik secara khusus agar mereka berhasrat meningkatkan kualitas membaca, dan menulis dalam ruang pembelajaran. Para guru dalam komunitas pendidikan perlu menciptakan budaya literasi yang kuat.

Literasi dalam encyclopedia.com dipahami sebagai proses seseorang memperluas pengetahuan membaca dan menulis guna mengembangkan pemikiran dan pembelajaran untuk tujuan memahami diri sendiri dan dunia. Proses literasi yang demikian secara kontekstual sangat mendasar untuk mencapai kompetensi dalam setiap mata pelajaran pendidikan. Oleh karenanya sejak dini peserta didik sudah diperkenalkan simbol-simbol yang dapat membentuk huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan secara utuh.

Literasi perlu dibudayakan dalam dimensi pendidikan anak-anak bangsa. Pengertian budaya terkait dengan rangkaian tradisi yang membentuk kebiasaan dan cara pandang tertentu dalam sistem kemasyarakatan, baik di tingkat lokal maupun nasional global. 

Budaya literasi sekolah terkait dengan tradisi membaca dan menulis menyenangkan di kalangan pelajar. Kemampuan pelajar dalam literasi terbentuk dari hasrat kuat dalam menyampaikan pesan, pertama-tama melalui ungkapan lisan, kemudian beralih pada tulisan, dan cara membaca rangkaian huruf, gambar, atau pun simbol-simbol lain yang dapat dipahami. 

Warisan peradaban literasi diturunkan dalam aneka tulisan, mulai dari cerita mitos, mantra, aneka pesan, puisi, prosa, hingga tulisan yang berisikan kajian, dan analisis atas peristiwa-peristiwa yang dialami manusia. Warisan aneka tulisan membentuk budaya literasi. Literasi dalam banyak bentuk merupakan representasi suara atau kata-kata dengan huruf. Rangkaian huruf membentuk kata-kata, yang berisikan pesan tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh para penutur dan penulis. Aneka pesan lisan dan tertulis, baik yang eksplisit maupun implisit membentuk literasi pemahaman seseorang atas kalimat-kalimat yang tersingkap. 

Dalam membudayakan literasi, Steckel (2022) mendorong agar para guru mengenal pribadi, minat, potensi, pengalaman sosial, dan budaya para murid. Sesungguhnya, para murid adalah pembaca potensial. Dukung dan rayakan setiap upaya pelajar untuk mengembangkan hasrat, dan meningkatkan stamina untuk membaca. Para guru perlu menunjukkan bahwa betapa berharga buku-buku yang dibaca, berbagi gagasan, dan bekerja sama dalam memaknakan suatu hal.  

Dukungan atas pengembangan budaya literasi di kalangan pelajar, sebenarnya dapat dimulai sejak dini, yaitu dari rumah. Menurut Jacobson (2017), a literacy culture means children, and even family members, are engaged in literacy experiences not just during the school day, but also after school and in the community in ways that don’t feel like an assignment. Budaya literasi tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dalam komunitas informal di keluarga, dan masyarakat. 

Dalam keluarga, anak-anak sejak kecil sudah belajar berinteraksi, dan secara alamiah menggunakan literasi percakapan saat berjumpa dengan orang-orang terdekat di sekitarnya, misalnya kakek-nenek, orangtua, saudara kandung, dan teman sebaya di sekitar rumah. Proses pembudayaan literasi akan berkembang baik jika, pihak keluarga ada kebiasaan bercerita, mendongeng, membacakan kisah-kisah yang menarik bagi anak-anak.  Selain itu, relasi teman sebaya turut membentuk pola literasi komunikatif di antara mereka hingga masuk sekolah. 

Para pelajar di sekolah sejak awal – untuk menghidupi budaya literasi – dididik, dilatih, dan dibiasakan menggunakan bahan-bahan bacaan, dan tulisan yang dapat dipercaya. Guru dapat menjadi fasilitator dalam literasi pelajar, melalui aktivitas mendongeng, membacakan puisi, menuliskan cerpen, atau membuat opini, esai, dan jurnal. 

Para guru (Tyson, 2022) bersama unsur pimpinan perlu mengupayakan perpustakaan ideal di masing-masing sekolah. Perpustakaan yang menyediakan buku yang dibutuhkan, potensial menarik para murid untuk membaca dan mengembangkan kemampuan literasi mereka. Koleksi buku perpustakaan, selain memuat aneka materi pelajaran, juga menyediakan literasi murid di bidang humaniora, pengetahuan umum, dan kisah-kisah historis suatu peradaban.

Para guru perlu memberikan teladan membaca, menulis, dan menghidupi budaya literasi guna memperkuat pesan pengaruh yang dapat menggerakkan para murid melakukan hal yang sama, bahkan bisa jadi lebih dari ekspektasi yang dibayangkan. Budaya literasi, akan semakin dipermudah dengan adanya majalah sekolah, newsletters, mading (majalah dinding), aneka lomba menggambar, puisi, esai, menyanyi, drama, deklamasi, pidato, debat, dan sidang akademi. 

Literasi dalam dunia pendidikan merupakan jembatan yang menghubungkan peserta didik dan pendidik dengan pengetahuan, dan pengertian yang mau dicapai. Budaya literasi perlu dijadikan adat kebiasaan dalam komunitas formatif di mana pun mereka berada. Kebiasaan berliterasi memperkuat pemahaman para murid dan guru dalam mengimajinasikan berbagai gagasan tersembunyi untuk diungkapkan dalam bentuk simbol, tulisan, dan percakapan intelektual.

Sebagai catatan akhir, penulis menyimpulkan bahwa menghidupkan budaya literasi sangat penting dan mendesak. Para pendidik perlu memberikan motivasi, dan teladan baik kepada para peserta didik, supaya mereka pun bersemangat dalam mengembangkan budaya literasi. Peranan para guru sangat sentral dalam menganimasikan keadaan, dan mendorong para pelajar mengaktualisasikan kemampuan literasi mereka dalam wadah formatif yang tersedia. Semoga berkat peran aktif para guru, budaya literasi di kalangan pelajar meningkat. 

Previous articleMari Belajar Etika Kontemporer di STF Driyarkara
Next articleDiskusi JLS : Pendekatan Psikologi terhadap Agama
Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here